Hari ini gw kembali mendapat pelajaran tentang penerapan etika di Indonesia. Pada pagi ini, gw sempat berdebat dengan seorang teman dari ugm. Kebetulan kami berdebat mengenai penerapan etika, lebih tepatnya sih soal Roy Suryo, si pakar multimedia dari Indonesia… Terus terang gw bilang, gw ga suka sama nih orang, salah satu alasannya karena walaupun mengaku sebagai pakar multimedia ternyata nih orang ga punya yang disebut dengan “etika profesi”… Ternyata waktu gw konsultasikan ke temen gw ternyata gw baru tahu ternyata Roy Suryo itu berlatar belakang ilkom(ilmu komunikasi)… Dan hal itu membuat gw bertanya, dari mana sih dia dapet julukan pakar multimedia itu? Apakah seperti dosen2 lain dia sering nerbitin paper di jurnal yang punya reputasi? Apakah dia pernah membuat penemuan baru di bidang multimedia? Apakah dia sudah berkutat di bidang multimedia selama 50 tahun seperti guru besar lainnya? Kalau gitu apa sih definisi ahli multimedia itu? Pernah baca atau mengambil mata kuliah tentang multimedia tidak membuat serta merta anda menjadi seorang ahli multimedia… Buktinya tidak ada dari kami, mahasiswa dimanapun (mudah-mudahan) yang walaupun ipnya terancam 4, mata kuliah multimediannya A, dan punya segudang pengalaman dengan multimedia, dengan terang2an mengakui diri kami sebagai pakar multimedia… julukan yang bahkan mungkin dosen2 kami yang punya kapabilitas untuk mengambil gelar itu blum tentu berani mengambilnya… Inilah yang disebut etika. Di balik sebuah titel atau gelar kehormatan seperti itu terdapat ekspektasi dan kewajiban bagi pengembannya. Inilah yang gw rasa Roy Suryo ga nyadar… Mungkin waktu S1 di ilkom dia hanya diajari cara untuk “menjual” dirinya… Kalau memang itu yang diajarkan tolong dia “menjual” dirinya sebagai pakar komunikasi bukan multimedia. Di dunia teknik terdapat banyak etika yang harus diperhatikan seorang engineer, menghormati kontrak salah satunya, bertindak sesuai dengan kapabilitas contoh yang lain. Terus terang gw ga suka dari keterangan saudara Roy mengenai analisisnya mengenai meledaknya pesawat Adam Air di udara hanya dengan bukti2 yang dangkal… Itu bukan etika seorang engineer, Malah waktu itu saudara Roy mengusulkan agar pencarian tidak hanya dilakukan di laut tapi terus dilakukan di darat walaupun waktu itu pecahan pesawat sudah ditemukan di laut… Mungkin saudara Roy tidak mengetahui betapa gawat efek yang ditimbulkannya dengan pernyataan tersebut karena di belakang nama Roy terdapat kata2 ahli multimedia. Bisa gw bayangkan kalo misalnya gw keluarga korban… gw bener akan kesel setengah mati sama nih orang… Kalo bisa gw gebukin saat itu. Dan terbukti saat ini diperkirakan kemungkinan jasad pesawat Adam Air ada di laut (saya menggunakan kata “diperkirakan” karena memang sampai saat ini black box dari pesawat tersebut blum diambil dan dipastikan). So untuk saudara Roy Suryo tolong dong diperhatikan omongan anda, seorang ahli multimedia ga akan sembarangan ikut campur dalam skandal artis dengan mengomentari keaslian dari foto mesum hanya untuk mempromosikan dirinya. Para engineer seharusnya mempromosikan dirinya di bidang teknik (dengan menerbitkan paper contohnya), di bidang yang kita pelajari selama bertahun-tahun, dan kita resapi esensinya. Dan saudara Roy Suryo… kalau masih mau menyandang predikat itu (red: ahli multimedia) pertama kali anda harus membuktikan anda punya kapabilitas ilmu itu, anda bisa membuktikannya dengan mengeluarkan paper di jurnal terhormat seperti ieee, ga begitu mahal kok daftarnya cuma sekitar 600$ per paper, apalagi anda kan punya sejumlah mobil antik yang sangat mewah. Dan hal kedua yang harus anda punyai adalah etika seorang engineer… Etika yang membedakan kita dari politikus, pejabat, anggota dpr, artis atau profesi lainnya. Untuk saat ini apabila anda terus bertingkah yang sama, maka sebagai seorang bodoh yang berusaha untuk lulus dari dunia teknik ini saya dan banyak orang teknik lain (perlu anda ketahui, Anda cukup dibenci oleh banyak orang teknik) akan merasa malu kita berkecimpung dalam satu bidang.
Hal kedua yang menjadi pelajaran etika adalah sang gubernur Jakarta, Bang Yos, yang baru saja diwawancara di sebuah acara televisi di SCTV. Acara ini lebih menjadi acara untuk melepaskan diri dari tanggung jawab sang gubernur daripada acara untuk mencari solusi agar bencana yang sama tidak terulang. Bang Yos selalu menyalahkan karena Jakarta tidak mempunyai cukup dana untuk membiayai kanal timur karena banyaknya bangunan di daerah itu. Ini kan aneh, orang Jakarta tidak bodoh, mereka tidak akan membangun bangunan permanen kalau mereka tidak mempunyai surat imb nya, dan siapa lagi kalau bukan pemerintah yang mengeluarkan izin untuk imb itu? Jadi pemerintah kota berteriak tidak mampu padahal sebenarnya karena kesalahannya sendiri memberikan serfitikat imb untuk daerah yang semula memang tidak boleh didirikan bangunan… Ini kan konyol… Soal dana, setahu penulis DKI Jakarta merupakan daerah dengan PAD dan APBD terbesar di Indonesia, artinya duit yang banyak untuk daerah seluas hanya 600 km2. Okelah kalau memang dengan berbagai alasan, pemerintah masih merasa tidak mampu… Tapi kan masih banyak cara lain… Libatkan swasta kek? masih banyak cara lain yang bisa ditempuh, yang seharusnya dipikirkan dan dijalankan oleh gubernur. Malah untuk tujuan itu kamu ditunjuk, kalau memang ga mampu, ya udah minta maaf dan mundur dong… Masa sih harus ngasih kuliah tentang kesatriaan sama purnawirawan TNI? Dan biasanya para pejabat pasti berlindung dengan kata2 sakti kalo diminta mengundurkan diri… Kata2 itu antara lain: emangnya masalah akan selesai kalau saya mengundurkan diri? saya tidak mundur untuk memperbaiki kesalahan? saya sudah bekerja keras? Ini bencana alam dsb… Dari kata2 ini sebenarnya mereka sudah mengakui bahwa mereka gagal untuk memenuhi ekspektasi dari orang yang memilihnya, namun sayang sekali etika itu tidak ada. Bahkan sampai akhir acara tidak ada permohonan maaf yang tulus dari si gubernur Jakarta kepada para warganya karena gagal belajar dari banjir 2002, padahal banjir 2002 juga bagiannya si Bang Yos itu. Inilah salah satu yang kurang dari orang Indonesia… karakter… Uang bisa dicari, ilmu bisa dipelajari tapi karakter harus dibentuk, Jepang, Korea, dan negara 4 musim membentuk karakter mereka dengan alamnya yang keras… Tapi kita ga pernah membentuk karakter kita, dan salah satu yang jelas mencerminkan karakter adalah etika. Dan memang terbukti dengan karakter seperti ini kita memang hanya akan jadi negara kuli.
Akhir tulisan… Teringat kata2 seorang teman…
“Salah kita Fred… untuk berpikir tentang di etika di negara seperti ini… disini etika ga ada nilainya”
Tapi gw percaya tanpa karakter kita ga akan maju, dan gw berusaha sekuat tenaga untuk mengasah karakter gw karena gw percaya inilah yang membedakan gw dari kebanyakan orang Indonesia lain(mudah-mudahan ga terlalu banyak orang Indonesia yang kaya gini).
“Knowledge is power but character is more” dikutip dari seorang teman yang bijak
Untuk Roy Suryo dan Sutiyoso… no comment lah………