Hari ini gw, Rama, dan Bambang menonton sebuah film yang bagus banget… judulnya 300. Sedikit spoiler mengenai film ini kali ya…
Film ini bersettingan masa Yunani kuno. Mungkin semua orang udah tahu bahwa masa Yunani kuno itu cukup unik dari segi sistemnya. Basis dari peradaban ini adalah pemerintahan kota. Setiap kota adalah wilayah otonom yang mengatur kehidupannya sendiri, mungkin mirip dengan sistem federal yang lebih luas kali ya… Sebuah kota mengakui satu Yunani namun memiliki segala kewenangan layaknya sebuah negara (bahkan ada raja sendiri lho). Dan dengan kewenangan ini, setiap kota bebas untuk mengatur kehidupannya sendiri-sendiri… sistem yang sangat unik menurut gw. Dan fokus utama dari film ini adalah mengenai Sparta, sebuah kota di Yunani yang kehidupannya bercorak militer.
Sebagai gambaran bagaimana corak militer dalam kota ini. Menurut film itu, setiap anak yang dilahirkan di Sparta akan dilihat keadaannya. Apabila ia terlahir cacat, maka anak itu akan dibuang ke jurang, sejak anak itu mulai bisa berjalan, setiap anak tersebut akan dilatih dengan sangat keras. Dan apabila anak tersebut berumur 7 tahun, maka anak tersebut akan menjalani Agoge. Agoge adalah sebuah persyaratan yang diberlakukan untuk setiap anak Sparta untuk menjalani pendidikan militer ala Sparta. Setiap anak akan dipisahkan dari Ibunya dan diberikan latihan yang sangat-sangat keras. Setelah dewasa sang anak akan kembali ke Sparta dan menjadi tentara bagi Sparta.
Kembali ke cerita, setelah sang raja Leonidas besar, datang kelompok duta dari Persia, pada saat itu Persia yang dipimpin oleh Xerxes bermaksud untuk meminta penyerahdirian dari kota-kota di Yunani. Beberapa kota kecil telah mengakui kerajaan Persia namun Spartadan Athena (2 kota terbesar) menolak untuk mengakui Persia. Dan singkat kata semua duta dari Persia itu dibunuh dengan dilemparkan ke sumur yang dalam. Dan mulailah deklarasi perang antara Yunani dan Persia. Ketika hendak berperang, Leonidas hanya membawa 300 prajurit ke medan perang bersama sekutunya untuk menghadapi ratusan ribu (mungkin jutaan) prajurit Persia. Perang ini dikenal dengan perang thermopylae. Thermopylae merupakan daerah yang berupa celah sempit yang menjadi pintu masuk ke Yunani, dan disinilah para prajurit Yunani bertahan dari pasukan Persia. Dan disinilah legenda itu dimulai. 300 orang Sparta dan sekutunya melawan tentara Persia yang jumlahnya lebih banyak (perkiraan antara ratusan ribu sampai lima juta prajurit Persia). Pertempuran terus berjalan dan berbagai pasukan dari Persia termasuk pasukan elit Persia yang dikenal dengan sebutan Immortal yang merupakan prajurit elit Persia telah dikerahkan, namun Persia belum berhasil menembus pertahanan Sparta. Sampai seorang pengkhianat dari Sparta, Ephialtes memberitahukan jalan memutar ke belakang pasukan Sparta demi kekayaan dari Persia. Dan akhirnya Xerxes pun mengirimkan pasukan elitnya ke jalan tersebut untuk kemudian mengepung pasukan Sparta. Menyadari keadaan yang genting, maka sekutu dari Sparta mengundurkan diri untuk bersiap mempertahankan kotanya sedangkan Leonidas memutuskan tentara Sparta untuk bertahan sampai mati di tempat tersebut. Dan setelah terkepung akhirnya Leonidas dan ke 300 pasukan Sparta dihabisi oleh Persia.
Ada beberapa point yang menarik dalam kejadian ini, yang tidak ada di film itu (sumber wikipedia), antara lain:
- Sparta memiliki sistem pemerintahan yang unik, yaitu dikenal dengan pemerintahan 2 raja. Seorang berasal dari keluarga Agiad and seorang lagi dari keluarga Eurypontids. Pemerintahan ini diperkirakan karena raja sparta, Aristodemus sebelumnya mempunyai anak kembar dan setuju untuk membagi kekuasaan kepada kedua keluarga ini. Kedua raja ini memiliki kekuatan dalam pemerintahan yang sama, dan saling dapat memveto keputusan yang dibuat masing-masing raja, walaupun keluarga Agiat lebih dihormati di Sparta. Dan Leonidas adalah raja dari keluarga Agiat.
- Aturan Sparta, mensyaratkan bahwa pria yang mendapatkan status warga kota Sparta dilakukan melalui pertalian darah dan harus agoge, hal ini pernah menyebabkan populasi penduduk Sparta hanya menyisakan beberapa ratus pria saja.
- Setiap prajurit Sparta diumpamakan sebagai “tembok kota Sparta”, sebuah kiasan karena Sparta merupakan satu-satunya kota di Yunani yang tidak memiliki tembok kota sebagai benteng perlindungan kota.
- Ketika Sparta berkonsultasi dengan Oracle (itu lho ce yang cakep di film itu :p), Oracle tersebut meramalkan bahwa Sparta akan jatuh dan dihancurkan oleh Persia, kecuali kalau salah satu dari dua raja Sparta berkorban demi kotanya. Dan ramalan ini seperti cerita di film dipenuhi oleh Leonidas.
- Jumlah sekutu Sparta dalam pertempuran ini berjumlah sekitar 1100 orang terdiri dari 400 Thebans dan 700 Thespian.
- Alasan mengapa Leonidas hanya membawa 300 prajurit, adalah karena waktu perang bertepatan dengan adat religius dari sparta yang melarang perang dilakukan pada waktu tersebut, sehingga hanya sedikit prajurit yang dapat dibawa oleh Leonidas. Dan perayaan tersebut juga dilakukan dengan pertandingan olahraga yang dikenal dengan Olimpiade. Kesinilah sebagian besar perhatian kota-kota di Yunani tersita. Sampai Tritantaechmes, seorang jenderal Persia berkata: “Good heavens! Mardonius, what kind of men are these against whom you have brought us to fight? Men who do not compete for money, but for honour” setelah mengetahui hadiah pemenang dari Olimpiade hanyalah mahkota dari daun.
- Jalan rahasia yang digunakan oleh pasukan Persia untuk menyusup ke belakang pasukan Sparta sebenarnya dijaga oleh 1000 pasukan dari Phocians, namun karena pasukan Phocians tersebut mengira bahwa semua pasukan Persia menyerang dari jalan kecil itu, Phocians pun meninggalkan pos penjagaannya untuk kembali dan melakukan persiapan untuk mempertahankan kotanya.
- Pertempuran berjalan selama 3 hari.
- Sebenarnya tidak hanya pasukan Sparta yang tinggal dan bertempur sampai titik darah penghabisan, namun 700 prajurit Thespian juga memilih tinggal dan ikut mati dalam serangan terakhir Persia.
- Setelah terkepung, prajurit Sparta memilih keluar dari tempat pertahanannya dan menyambut musuh dari depan (tidak seperti dalam film, dimana mereka membentuk phalanx) dan berusaha membunuh sebanyak-banyaknya pasukan Persia. Dalam kejadian ini dicatat juga 2 saudara Xerxes dapat dibunuh yaitu Abrocomes dan Hyperanthes.
- Bersama pasukan Sparta juga turut mati 1000-2000 helot, yaitu budak Sparta yang ikut mati menemani tuannya.
- Dua prajurit Sparta yang selamat dari pertempuran tersebut (pada film hanya diceritakan seorang saja), Aristodemus yang menderita cedera pada mata diperintahkan untuk kembali ke Sparta bersama pasukan prajurit dari kota lain, dan Thessaly yang diperintahkan oleh Leonidas untuk menghimpun pasukan ke Thessaly dan kembali setelah pertempuran berakhir akhirnya bunuh diri dengan menggantung dirinya karena merasa bersalah.
- Seperti perkataan Leonidas kepada Epialthes, nama Epialthes abadi sebagai salah satu kosa kata di bahasa Yunani dengan arti mimpi buruk dan mengacu juga dengan arti pengkhianat, Epialthes gagal mendapatkan kekayaan karena Persia dikalahkan oleh Yunani di perang selanjutnya. Nasib Epialthes sendiri dibunuh oleh Athenades, seorang warga Thessaly namun tetap Athenades dihormati oleh warga Sparta.
- Mayat Leonidas dipancung dan disalib oleh Xerxes karena kemarahan yang amat sangat. Hal tersebut merupakan keanehan karena bangsa Persia memiliki tradisi menghormati musuhnya yang mati di medan perang. Setelah 40 tahun jasat Leonidas dikembalikan ke Sparta dan diabadikan sebagai pahlawan kota Sparta, dan diselenggarakan pertandingan setiap tahun untuk mengenang Leonidas.
- Berikut kelanjutan dari perang ini (copy paste dari wikipedia, males nerjemahin): “The simultaneous naval Battle of Artemisium was a stalemate, whereupon the Athenian navy retreated. The Persians were now in control of the Aegean Sea and all of peninsular Greece as far south as Attica. The Spartans prepared to defend the Isthmus of Corinth and the Peloponnese, while Xerxes I sacked an evacuated city of Athens, whose inhabitants had already fled to Salamis Island. In September, the Greeks defeated the Persians at the naval Battle of Salamis, which led to the rapid retreat of Xerxes I. The remaining Persian army, left under the charge of Mardonius, was defeated in the Battle of Plataea by a combined Greek army again led by the Spartans, under the regent Pausanias”
- Sumber tentang peperangan ini terutama berasal dari Herodotus, seorang pencatat sejarah yang terkenal dari Yunani.
- Peperangan ini juga diabadikan dalam sebuah film lain yaitu “The 300 Spartans” oleh Rudolph Mate tahun 1962.
Dan beberapa hal yang bisa gw diambil dari film ini:
- Sistem membentuk kualitas manusia dalam sistem tesebut. Sparta dalam hal ini dengan sistem yang militeristik mampu membentuk prajurit yang tangguh, yang ketigaratus prajuritnya mampu menahan sekian ratus hingga juta pasukan Persia. Beberapa negara telah menerapkan yang namanya wajib militer. Singapura mewajibkan wajib militer bagi anak kecil di negaranya, sedangkan Korea Selatan juga memberlakukan wajib militer. Dan terus terang, gw mendukung penerapan wajib militer, mungkin tujuannya lebih seperti Singapura, yaitu menanamkan disiplin ke anak-anak sedini mungkin, toh ga semua bagian dari militer itu jelek bahkan bagi orang sipil seperti gw. Disiplin dan kerja keras serta nilai-nilai lain patut dicontoh untuk membentuk karakter seseorang, dan kualitas lebih bermakna dari sekedar kuantitas.
- Kehadiran seorang istri bagi seorang pria sangat penting. Istri Leonidas, sangat mendukung suaminya dalam perang ini. Seperti kata pepatah di balik setiap pria besar terdapat pula istri yang hebat. Namun seorang teman, pernah berpendapat bahwa istri dan anak (keluarga) merupakan salah satu alasan mengapa banyak pria berbuat korupsi, karena sebagian besar penghasilan suami lari ke keluarganya, terutama sang istri
… Teori yang menarik dan gw sih sebenarnya agak setuju dengan statement itu, tapi yah karena gw blum berkeluarga gw juga blum tahu benernya gimana. Tapi pesan buat para pria, cari istri yang bener ya!
- Minimal sekali dalam hidupnya, seorang pria memang harus berkelahi untuk mempertahankan sesuatu yang dianggapnya berharga. Dan keputusan tersebut secara langsung mencerminkan kualitas pada dirinya. Leonidas contohnya, ia harus menyerahkan hidupnya dan hidup para prajuritnya untuk mempertahankan negara yang ia cintai (Yunani). Dan kematian yang sangat pas (Orang Sparta menyebutnya “kematian yang indah”) untuk seorang Leonidas pada film itu, yaitu dengan ditembus beribu anak panah, hanya untuk membunuh seorang idealis yang memperjuangkan kemerdekaannya. Sebuah kematian yang… sangat pantas untuk seorang yang begitu besar. Karena menurutku sih mati demi sesuatu yang kamu percayai adalah sebaik-baiknya cara mati.
But overall, nih film keren abis, dan masuk salah satu film yang masuk kategori “kudu ditonton di bioskop jangan cuman nonton bajakannya” versi gw yang sangat ketat :p. Tapi ada satu kejadian yang bikin bt, yaitu ketika lagi asik2 nonton tiba-tiba film berhenti sekitar 10 menitan di bioskop, sebagai informasi bioskopnya di ciwalk 21 (kalo bisa jangan nonton disini yaks :p), dan bener2 ngebetein karena gw harus nonton versi bajakannya di komputer gw untuk memastikan bahwa tidak ada bagian film yang terlewatkan. So bagi kamu yang belum nonton dan suka nonton film action dengan jalan cerita yang bagus, nih film rekomended lho, buruan deh nonton
Today I had watched Eragon… a movie adapted from the book that have same name. The book is written by Christopher Paulini, an American Writer, but enough about Paulini, but if you interested with the author you can visit 








