April 2007


Hari ini… setelah lari pagi… dan pulang dengan kecewa…. karena tidak dapat menemukan cewek idaman seorang teman di kosan :P , akhirnya gw mengikuti kuliah umum astronomi yang diselenggarakan oleh departemen Astronomi ITB. Sebenarnya kuliah umum ini diselenggarakan sebanyak 5 kali, dikarenakan poster yang cuman ditempel di pintu belakang kampus… sedangkan gw jarang ke kampus dan kalaupun ke kampus hampir ga pernah lewat belakang, jadinya informasi yang berharga ini terlewatkan, dan akhirnya dari total 5 kali, gw miss 2 kali. But still little means more than never… right?

Topik yang dibawakan pada kesempatan kali ini berjudul “Daur Kehidupan Bintang”, yang dibawakan oleh Pak Mahasena Putra dari Kelompok Keahlian Astronomi FMIPA ITB. Berikut gw bagikan resensi yang gw dapet dari kuliah umum tersebut.

Kuliah dibuka dengan mempertanyakan motivasi untuk mempelajari bintang. Belajar mengenai alam semesta, tidak akan terlepas dari proses mempelajari bintang. Alam semesta terdiri dari gabungan galaksi, sedangkan galaksi merupakan gabungan dari bintang-bintang (kebanyakan) dan objek langit lain seperti planet, meteorit, komet, dsb. Belajar mengenai bintang akan menerangkan sebagian besar dari perjalanan alam semesta termasuk pembentukan berbagai atom. Bahkan semua atom yang ada di tubuh kita, yang menyusun seorang Freddy, dan semua orang, serta semua benda hidup maupun tidak di jagad raya dimulai dari proses yang terjadi di dalam bintang.

Penelitian mengenai bintang dilakukan dengan 2 cara, cara yang pertama adalah dengan pengamatan, dan cara yang kedua adalah dengan menggunakan hukum-hukum fisika. Pengamatan yang dapat dilakuakan manusia tidak hanya melalui teleskop, namun juga dapat dengan mengamati spektrum cahaya yang dipancarkan oleh bintang tersebut. Cara kedua adalah dengan memodelkan kejadian di jagad raya dengan pemodelan fisika, karena bagaimanapun, yang namanya bintang dan benda langit lain memenuhi kaidah hukum fisika… sebuah bukti lainnya keteraturan yang diciptakan Yang Maha Kuasa.

Proses kelahiran sebuah bintang, dimulai dari awan nebula. Awan nebula adalah kumpulan gas, terutama hidrogen yang tersebar di ruang hampa, pada suatu tempat yang terdapat cukup banyak awan ini, maka gas-gas hidrogen akan saling tarik menarik karena gaya gravitasi, yang berusaha mendekatkan gas hidrogen tersebut satu sama lain. Seiring dengan saling mendekatnya gas tersebut satu sama lain maka tekanan dan temperatur dalam gas tersebut akan naik sambil memancarkan radiasi ke luar. Dan seiring dengan waktu, makin banyak gas yang saling terkondensasi makin tinggi pula suhu di awan nebula tersebut. Sampai suatu titik (yaitu sekitar 15 juta derajat celcius), gas-gas hidrogen yang saling berdekatan tersebut “dipaksa” untuk bergabung membentuk helium. Proses ini dinamakan reaksi fusi. Pada titik inilah sebuah bintang dideklarasikan lahir. Energi fusi yang dihasilkan dari penggabungan atom hidrogen menghasilkan energi yang sangat besar. Energi ini sebagian (selain memancarkan radiasinya) digunakan oleh si bintang untuk mempertahankan bentuknya. Bintang yang sudah stabil, akan mengambil bentuk sebagai bola, hal ini dikarenakan terjadi kesetimbangan antara gaya gravitasi yang menarik antara setiap atom pada bintang tersebut dan gaya akibat tekanan suhu yang diakibatkan oleh reaksi fusi pada bintang tersebut.

Sesudah sebuah bintang lahir, untuk perjalanan selanjutnya, ditentukan oleh massa bintang tersebut. Untuk bintang yang kecil (massa kurang dari 10 kali massa matahari) setelah habis membakar hidrogen yang dipunyai menjadi helium, maka bintang tersebut tidak akan mempunyai tekanan thermal yang dapat mengimbangi gaya gravitasinya. Dan akibatnya pusat bintang akan runtuh dan bagian luar dari bintang tersebut akan mengembang, tahap ini yang dikenal dengan raksasa merah (red giant) karena bintang akan mengembang dengan sangat besar. Pusat yang runtuh akan kemudian semakin memanas (karena energi kinetis), sampai pada suatu titik (sekitar 100 juta derajat celcius), maka bintang tersebut akan melakukan reaksi fusi kedua, yaitu dengan membakar helium menjadi carbon, hasil pembakaran fusi ini sudah cukup untuk menahan raksasa merah tersebut dalam bentuknya. Tahap ini disebut katai putih, kerapatan pada katai putih dapat diulistrasikan sebagai, satu sendok teh materi darinya akan seberat satu ton. Sampai tahap ini, bintang tersebut akan terus membakar heliumnya, perlu dicatat bahwa, proses pembakaran ini akan berlangsung dalam waktu yang sangat lama (lebih lama dari umur jagad raya… lebih dari 10 milyar tahun).

Untuk bintang yang bermassa besar (lebih dari 10 kali massa matahari), sedikit perbedaan adalah, setelah proses pembakaran helium selesai, maka inti bintang akan terus jatuh, dan akan terus menghasilkan tempratur yang lebih besar, yang akan terus membakar atom yang lebih berat. Hal ini berlangsung terus-menerus sampai pada suatu saat, bintang tersebut akan menghasilkan besi. Besi merupakan unsur yang paling stabil, dalam arti, tidak akan dapat melakukan reaksi fusi, sebagai konsekuensinya adalah lapisan diatas besi tersebut (berturut-turut dari lapisan dalam ke luar: silikon, magnesium, neon, oksigen, karbon, helium, dan hidrogen) tidak akan dapat mempertahankan bentuknya dan runtuh. Keruntuhan ini menyebabkan ledakan yang sangat hebat dan dikenal dengan sebutan “Supernova”. Supernova ini terjadi dalam orde milidetik, hal yang ironis, karena perjalanan bintang dalam orde milyar tahun, hancur dalam orde milidetik. Setelah supernova, terdapat 2 kemungkinan bagi bintang tersebut yaitu menjadi bintang neutron atau blackhole. Bila massanya kurang dari 5 kali matahari maka akan menjadi bintang neutron dan bila lebih maka akan menjadi blackhole (lubang hitam). Sementara sisa dari supernova yang bertaburan di jagad raya, kemudian dapat mengisi ruang hampa tersebut, dan memacu terkondensasinya gas atom di sekitarnya dan memulai kembali proses pembentukan bintang generasi ke dua, yang merupakan pembentukan bintang dengan unsur pembentuk yang lebih berat, tidak hanya hidrogen.

Untuk gw pribadi, gw sangat menyukai astronomi. Teringat dulu waktu kecil, sekitar kelas 2-3 SD, suka banget kalo dibawa sama ortu ke planetarium. Bahkan sempat gw bercita-cita ingin menjadi astronom, cita-cita masa kecil yang harus dilepas bersama cita-cita lain seperti: peneliti, pilot, dsb. Teringat juga dulu, saking pengennya untuk mengamati bintang, sampe ngebela-belain kelaperan buat nabung uang jajan yang cuman Rp 300 (tapi masih dapet nasi goreng lho jaman kelas 2 SD :P ) demi satu impian yang sampe sekarang juga blum kesampean… pengen punya teleskop bintang (dan syok juga sih waktu tahu harga sebuah teleskop bintang yang sebenarnya :P ). Yah sebagai gantinya, waktu kecil sering banget malem2 sebelum tidur, menyempatkan diri untuk ke loteng dan mengamati bintang serta merenung… Kebiasaan masa kecil yang udah ga pernah kulakuin sih… (jadi pengen main ke loteng nih :P ). Salah satu yang kusukai dari kegiatan menatap bintang pada waktu kecil adalah betapa kecilnya sebenarnya kita di alam semesta ini, lebih kecil dari debu, dan biasanya setelah merenung seperti itu, beban yang kupunya waktu kecil itu biasanya menghilang, karena toh, semua galaksi dan benda di jagad raya ini aja berjalan seperti kehendakNya, apalagi yang cuman terjadi di Bumi ini.

Setelah beranjak besar dan mempelajari berbagai macam ilmu, aku semakin kagum dengan astronomi, bayangkan aja, kita meneliti sebuah objek yang paling besar yang diketahui oleh manusia (galaksi, bintang, dsb) dengan jarak yang luar biasa jauh (saking jauhnya, sampai kita tidak akan pernah tahu apakah benda itu masih ada, seperti sebuah bintang yang berjarak sekian juta tahun cahaya, yang kita lihat merupakan masa lampau sekian juta tahun dari bintang tersebut) dengan keteraturan yang luar biasa. Bagi gw, hal ini merupakan hal yang luar biasa.

Mengenai kuliah umum ini, sebenarnya seharusnya “dilestarikan”. Seharusnya semakin banyak program studi yang mau membagi ilmunya dengan komunitas umum lainnya. Karena toh, yang namanya ilmu kan kalo semakin dibagi, yang didapat akan semakin baik. Dan dengan adanya kuliah umum ini, setidaknya akan dapat mengisi sebagian dari hari-hari kosongku :P .

Tulisan ini dipersembahkan untuk program studi Astronomi ITB, terima kasih telah berkenan membagikan ilmu yang luar biasa ini. Dan untuk seorang teman, yang memilih mengikuti kata hatinya untuk menekuni ilmu astronomi di Jepang, selamat berjuang Dw… kejar terus ilmu itu terus sampai ke langit yang terluar :)

Today… I have succeed passing the SCJP exam. SCJP stands for SUN Certification Java Programmer… Yups… that means I’m now officially a certified Java Programmer :D .

In IT world… one of most interesting part is your capability is not judge only by your GPA. Why? Simple answer really because IT world is so huge, you can have 4.0 GPA but can’t programming in common programming language… this is very common in IT world (of course if there is one super programmer who could program in all programming language then we should spending our 4 years undergraduate degree for learning just all programming language in this world :P ). What expected in undergraduate program is you can solve problem in your job with knowledge gain from university. Meanwhile certification is related with how good you are with the IT tools. For example, SCJP exam test your knowledge about every side of Java programming language, it doesn’t teach you how to make a good class design, the university should have thought you that. Certification is proof that you have the required knowledge to use the tools.

SCJP exam consist of 61 questions, you considered pass the exam if you can answered minimum 32 (52%) questions. In my case I only got 44 questions right, 72% passing grade. Compare to my friend, Mulya Agung, he can gain 85% of passing grade! Wow you are really a programmer Dude :P . Even if I didn’t reach my target (I targeted for 80% passing grade actually) but still I grateful because I have succeed passing the exam.

So what the certification will give me? First of all it will give me full right to use SCJP title in back of my last name… Yups now officially you can call me Freddy Ekoyanto Perkoso SCJP, and the best part is you can keep the title for entire of your life without needs to take exam again, like any other certification exam :P … Not very bad isn’t :P . Second I with this degree I can join JCC (Java Competency Center) in ITB. This is important to me, because my current future plan is not to working in huge corporation, but to starting my own (our maybe the precise word) business. And to do so I must able to live by doing project, and I hoping that JCC can open my way to working in project and get java community to develop my skill. The last reason is the average salary! Yup I didn’t notice when I am joining the JCC course, but then when I browsing in the internet, I found out that the “certification” thing is really a big thing in IT world. The average salary for this certification holder is about $US 60,400. Lets multiple it with current foreign exchange rate $ to Rp about 9100 and you get Rp 549.640.000 in a year. Divided with 12 month and you get… walah… Rp 45.803.333.333. What 45 million rupiah in a month for this certification?… Okay maybe I little over exaggerate because to get that kind of salary you must work in abroad, and higher living cost but still I can live in abroad with that kind of salary :D . Here is all average salary by certification list.

To be honest, this is little ironic really. For me, a person who hated programming, to be able to get SCJP title. And if you have doubts to take the exam, may be I can share my background a little. I hate programming language, for two of my first programming subject I got E mark, and must repeated the subject. In this subject I learn Lisp, Pascal, and C programming language. In my third programming language subject (namely Object Oriented Programming), I only got C mark, in this subject I learn about Java, and I like the concept of Java and Object Oriented Programming, but still I only got C mark :P . So if a failure to be programmer like me, I think you could do much better, could you? And if all my department friend take the test, and of course learning, I think they all can pass the test. So if you are really learning the stuff, you will get there Dude :D .

But for me… My concern is to chase my sidang… Damn I really have a little time left… But got to give my best and finding my mood :D

Today… I have finished my third “presentation” obligation to finish my final assignment… I don’t know the English word for “tugas akhir” :p. But anyway, compare to my previous presentation obligation, namely Proposal and Seminar, it much-much better. When my proposal and seminar can be viewed as one sided slaughtering (of course I’m the slaughtered object here :p), but my prasid, like a two ways healthy discussion. Start late by 20 minutes… well all of my presentation started late, so I’m kind of use to it :p. But like I said, this presentation is much-much better compare to the previous.

There’s a little story about our department (or school now?) obligation presentation. In our final assignment, everyone must take 6 sks, divided to 3 sks final assignment 1 and 3 sks final assignment 2. Other department only 3 sks, which means there is only final assignment 1. While majority department in this campus(ITB) the obligation presentation only two times, while in our department’s, there is 4 times presentation. With my prasid count as finished, then it leaves me only the last presentation obligation, the sidang. But what most disturbed me, is while other department, the presentation can use projector, in our department’s the presentation tools is OHP… Yup the Over Head Projector… which means, to do our presentation, we must print our presentation files (ppt) in plastic to be projected to OHP. Of course this kind of stupid, because after all, we (informatics engineering department) should be the most “up to date” department. So while other students in other department, just “click-click” the mouse to navigate to their presentation files, while we must try our best not to ruin the stack of our plastic presentation paper :p. Because if you got nervous and hurry, the stack of plastic presentation will not be ordered again, and when questions comes… it will become one hell fight to find your plastic presentation to help you answered the question :p. But nevertheless, it is our department tradition… If my seniors and friends have passed that kind of tradition… And no reason why I will not do the same to the tradition. After all, this is  tradition :p.

Next the SIDANG!!!

Berhubung karena (kembali hiks2)  jadwal prasidang gw tertunda dan karena ajakan Wira, akhirnya gw mudik sebentar ke Jakarta… eh Bekasi sih tepatnya :p . Selain untuk refreshing dikarenakan tertundanya prasidang gw, agenda utama kepulangan gw sebenarnya sih untuk memenuhi ajakan Wira untuk melihat pameran UKM yang diadakan oleh SMESCO. Sedikit mengulas mengenai pameran ini, pameran ini diadakan oleh SMESCO yang merupakan perusahaan di bawah Departemen Koperasi dan Usaha Kecil kalo ga salah… dan pesertanya merupakan UKM yang tersebar di seluruh Indonesia.  Hampir selama 5 jaman gw dan Wira berkeliling melihat-lihat dan bertanya-tanya. Bagi gw pribadi sih, kyaknya sih kaya memutar roda waktu. Hal itu dikarenakan beberapa stand tersebut merupakan tempat gw dibesarkan. Yah sekalian liat2 dan bertanya-tanya melepas rindu terhadap daerah tersebut kali ya :p.

Dan selama pameran itu, ada beberapa hal yang gw rasa menarik. Yang pertama (seperti yang udah gw duga) banyak bgt ide2 yang inovatif dari masing-masing peserta pameran. Ada kerajinan mozaik dari pecahan keramik, kerajinan kulit telur, sampe ke roti dari ubi Papua. Hal-hal yang sangat menarik dan unik sebenarnya. Dan hal kedua, dari hasil pembicaraan kami dengan beberapa stand, gw menyimpulkan kebanyakan yang bekerja di sektor ini merupakan idealis.  Kebanyakan dari mereka memulai dari sebuah keprihatinan, melihat pecahan keramik yang terbuang sampai ke pecahan telur, melihat nilai tambah yang kecil dari ubi yang mereka tanam, dan keinginan untuk melestarikan budaya daerah masing-masing. Tujuan yang sangat luhur sebenarnya. Pameran kemarin memang telah memberikan gw pencerahan baru bahwa inilah yang orang-orang sebut dengan ekonomi berbasiskan kerakyatan, walaupun gw ga setuju dengan “melindungi” UKM, karena menurut gw daripada mati-matian melindungi UKM lebih baik “membesarkan” UKM menjadi usaha yang besar yang siap berkompetisi dengan kompetitor dari negara lain. Tapi melalui pameran ini gw bisa ngerti kenapa waktu krisis moneter tahun 1998 kemarin sektor ini yang kuat bertahan dan menjadi buffer perekonomian negara ini pada waktu itu. Namun di balik segala potensinya, gw juga melihat beberapa kelemahan dari sektor ini. Akses ke modal dan teknologi menjadi salah satu halangannya. Dan mungkin disini perannya pemerintah untuk lebih meningkatkan daya saing dari UKM dengan mempermudah akses ke kedua hal tersebut. Dan hasil akhir yang gw dan Wira dapet dari pameran kemarin, adalah masih besar peluang pasar dari bisnis yang akan kami buat, dan setelah melihat kenyataan di lapangan kami semakin bersemangat untuk mewujudkan mimpi kami. Toh mungkin mimpi dan uang juga kadang-kadang bisa saling sejalan kali ya :p