Hari ini… setelah lari pagi… dan pulang dengan kecewa…. karena tidak dapat menemukan cewek idaman seorang teman di kosan
, akhirnya gw mengikuti kuliah umum astronomi yang diselenggarakan oleh departemen Astronomi ITB. Sebenarnya kuliah umum ini diselenggarakan sebanyak 5 kali, dikarenakan poster yang cuman ditempel di pintu belakang kampus… sedangkan gw jarang ke kampus dan kalaupun ke kampus hampir ga pernah lewat belakang, jadinya informasi yang berharga ini terlewatkan, dan akhirnya dari total 5 kali, gw miss 2 kali. But still little means more than never… right?
Topik yang dibawakan pada kesempatan kali ini berjudul “Daur Kehidupan Bintang”, yang dibawakan oleh Pak Mahasena Putra dari Kelompok Keahlian Astronomi FMIPA ITB. Berikut gw bagikan resensi yang gw dapet dari kuliah umum tersebut.
Kuliah dibuka dengan mempertanyakan motivasi untuk mempelajari bintang. Belajar mengenai alam semesta, tidak akan terlepas dari proses mempelajari bintang. Alam semesta terdiri dari gabungan galaksi, sedangkan galaksi merupakan gabungan dari bintang-bintang (kebanyakan) dan objek langit lain seperti planet, meteorit, komet, dsb. Belajar mengenai bintang akan menerangkan sebagian besar dari perjalanan alam semesta termasuk pembentukan berbagai atom. Bahkan semua atom yang ada di tubuh kita, yang menyusun seorang Freddy, dan semua orang, serta semua benda hidup maupun tidak di jagad raya dimulai dari proses yang terjadi di dalam bintang.
Penelitian mengenai bintang dilakukan dengan 2 cara, cara yang pertama adalah dengan pengamatan, dan cara yang kedua adalah dengan menggunakan hukum-hukum fisika. Pengamatan yang dapat dilakuakan manusia tidak hanya melalui teleskop, namun juga dapat dengan mengamati spektrum cahaya yang dipancarkan oleh bintang tersebut. Cara kedua adalah dengan memodelkan kejadian di jagad raya dengan pemodelan fisika, karena bagaimanapun, yang namanya bintang dan benda langit lain memenuhi kaidah hukum fisika… sebuah bukti lainnya keteraturan yang diciptakan Yang Maha Kuasa.
Proses kelahiran sebuah bintang, dimulai dari awan nebula. Awan nebula adalah kumpulan gas, terutama hidrogen yang tersebar di ruang hampa, pada suatu tempat yang terdapat cukup banyak awan ini, maka gas-gas hidrogen akan saling tarik menarik karena gaya gravitasi, yang berusaha mendekatkan gas hidrogen tersebut satu sama lain. Seiring dengan saling mendekatnya gas tersebut satu sama lain maka tekanan dan temperatur dalam gas tersebut akan naik sambil memancarkan radiasi ke luar. Dan seiring dengan waktu, makin banyak gas yang saling terkondensasi makin tinggi pula suhu di awan nebula tersebut. Sampai suatu titik (yaitu sekitar 15 juta derajat celcius), gas-gas hidrogen yang saling berdekatan tersebut “dipaksa” untuk bergabung membentuk helium. Proses ini dinamakan reaksi fusi. Pada titik inilah sebuah bintang dideklarasikan lahir. Energi fusi yang dihasilkan dari penggabungan atom hidrogen menghasilkan energi yang sangat besar. Energi ini sebagian (selain memancarkan radiasinya) digunakan oleh si bintang untuk mempertahankan bentuknya. Bintang yang sudah stabil, akan mengambil bentuk sebagai bola, hal ini dikarenakan terjadi kesetimbangan antara gaya gravitasi yang menarik antara setiap atom pada bintang tersebut dan gaya akibat tekanan suhu yang diakibatkan oleh reaksi fusi pada bintang tersebut.
Sesudah sebuah bintang lahir, untuk perjalanan selanjutnya, ditentukan oleh massa bintang tersebut. Untuk bintang yang kecil (massa kurang dari 10 kali massa matahari) setelah habis membakar hidrogen yang dipunyai menjadi helium, maka bintang tersebut tidak akan mempunyai tekanan thermal yang dapat mengimbangi gaya gravitasinya. Dan akibatnya pusat bintang akan runtuh dan bagian luar dari bintang tersebut akan mengembang, tahap ini yang dikenal dengan raksasa merah (red giant) karena bintang akan mengembang dengan sangat besar. Pusat yang runtuh akan kemudian semakin memanas (karena energi kinetis), sampai pada suatu titik (sekitar 100 juta derajat celcius), maka bintang tersebut akan melakukan reaksi fusi kedua, yaitu dengan membakar helium menjadi carbon, hasil pembakaran fusi ini sudah cukup untuk menahan raksasa merah tersebut dalam bentuknya. Tahap ini disebut katai putih, kerapatan pada katai putih dapat diulistrasikan sebagai, satu sendok teh materi darinya akan seberat satu ton. Sampai tahap ini, bintang tersebut akan terus membakar heliumnya, perlu dicatat bahwa, proses pembakaran ini akan berlangsung dalam waktu yang sangat lama (lebih lama dari umur jagad raya… lebih dari 10 milyar tahun).
Untuk bintang yang bermassa besar (lebih dari 10 kali massa matahari), sedikit perbedaan adalah, setelah proses pembakaran helium selesai, maka inti bintang akan terus jatuh, dan akan terus menghasilkan tempratur yang lebih besar, yang akan terus membakar atom yang lebih berat. Hal ini berlangsung terus-menerus sampai pada suatu saat, bintang tersebut akan menghasilkan besi. Besi merupakan unsur yang paling stabil, dalam arti, tidak akan dapat melakukan reaksi fusi, sebagai konsekuensinya adalah lapisan diatas besi tersebut (berturut-turut dari lapisan dalam ke luar: silikon, magnesium, neon, oksigen, karbon, helium, dan hidrogen) tidak akan dapat mempertahankan bentuknya dan runtuh. Keruntuhan ini menyebabkan ledakan yang sangat hebat dan dikenal dengan sebutan “Supernova”. Supernova ini terjadi dalam orde milidetik, hal yang ironis, karena perjalanan bintang dalam orde milyar tahun, hancur dalam orde milidetik. Setelah supernova, terdapat 2 kemungkinan bagi bintang tersebut yaitu menjadi bintang neutron atau blackhole. Bila massanya kurang dari 5 kali matahari maka akan menjadi bintang neutron dan bila lebih maka akan menjadi blackhole (lubang hitam). Sementara sisa dari supernova yang bertaburan di jagad raya, kemudian dapat mengisi ruang hampa tersebut, dan memacu terkondensasinya gas atom di sekitarnya dan memulai kembali proses pembentukan bintang generasi ke dua, yang merupakan pembentukan bintang dengan unsur pembentuk yang lebih berat, tidak hanya hidrogen.
Untuk gw pribadi, gw sangat menyukai astronomi. Teringat dulu waktu kecil, sekitar kelas 2-3 SD, suka banget kalo dibawa sama ortu ke planetarium. Bahkan sempat gw bercita-cita ingin menjadi astronom, cita-cita masa kecil yang harus dilepas bersama cita-cita lain seperti: peneliti, pilot, dsb. Teringat juga dulu, saking pengennya untuk mengamati bintang, sampe ngebela-belain kelaperan buat nabung uang jajan yang cuman Rp 300 (tapi masih dapet nasi goreng lho jaman kelas 2 SD
) demi satu impian yang sampe sekarang juga blum kesampean… pengen punya teleskop bintang (dan syok juga sih waktu tahu harga sebuah teleskop bintang yang sebenarnya
). Yah sebagai gantinya, waktu kecil sering banget malem2 sebelum tidur, menyempatkan diri untuk ke loteng dan mengamati bintang serta merenung… Kebiasaan masa kecil yang udah ga pernah kulakuin sih… (jadi pengen main ke loteng nih
). Salah satu yang kusukai dari kegiatan menatap bintang pada waktu kecil adalah betapa kecilnya sebenarnya kita di alam semesta ini, lebih kecil dari debu, dan biasanya setelah merenung seperti itu, beban yang kupunya waktu kecil itu biasanya menghilang, karena toh, semua galaksi dan benda di jagad raya ini aja berjalan seperti kehendakNya, apalagi yang cuman terjadi di Bumi ini.
Setelah beranjak besar dan mempelajari berbagai macam ilmu, aku semakin kagum dengan astronomi, bayangkan aja, kita meneliti sebuah objek yang paling besar yang diketahui oleh manusia (galaksi, bintang, dsb) dengan jarak yang luar biasa jauh (saking jauhnya, sampai kita tidak akan pernah tahu apakah benda itu masih ada, seperti sebuah bintang yang berjarak sekian juta tahun cahaya, yang kita lihat merupakan masa lampau sekian juta tahun dari bintang tersebut) dengan keteraturan yang luar biasa. Bagi gw, hal ini merupakan hal yang luar biasa.
Mengenai kuliah umum ini, sebenarnya seharusnya “dilestarikan”. Seharusnya semakin banyak program studi yang mau membagi ilmunya dengan komunitas umum lainnya. Karena toh, yang namanya ilmu kan kalo semakin dibagi, yang didapat akan semakin baik. Dan dengan adanya kuliah umum ini, setidaknya akan dapat mengisi sebagian dari hari-hari kosongku
.
Tulisan ini dipersembahkan untuk program studi Astronomi ITB, terima kasih telah berkenan membagikan ilmu yang luar biasa ini. Dan untuk seorang teman, yang memilih mengikuti kata hatinya untuk menekuni ilmu astronomi di Jepang, selamat berjuang Dw… kejar terus ilmu itu terus sampai ke langit yang terluar









