4 Years has past… Lot of unforgettable memory between us. Lot of good things, bad things, and just things. You always the first I saw when I open my eyes, and the last I see when I close my eyes. I know your not the most luxury one to me, but still you are the best to me. But now I must let you go… I am your first master, but not your last… Hope you will meet new master who’s better than me, who will keep their things more neatly and will sweep your floor more often. Good bye my room, I will miss you, but like you are I have to move forward. Good bye my room!!! Cheers for unforgettable 4 years! 

July 2007
July 25, 2007
July 22, 2007
Akhirnya kemarin penulis diwisuda juga!!! Penantian selama 5 tahun berakhir juga kemarin. Well mari kita napas tilas…
Sehari sebelum wisuda, pada malamnya diadakan syukuran yang diadakan oleh himpunan. Penulis menghabiskan jatahnya dengan membawa 5 orang pas, Mama, Papa, Adek, Kakek, serta seorang Sepupu. Udah kaya rombongan gini ya? hehehe Tapi penulis bersyukur soalnya dari keluarga Mama dan Papa hanya kakek dari pihak Ibulah yang masih ada, dan karena kebetulan sepupu penulis sedang libur dari kuliahnya di Jogya dan sedang main ke rumah penulis di Bekasi, maka mereka berdua juga ditambahkan untuk menemani penulis pada hari yang istimewa ini. Ketika tiba di lokasi dan bertemu dengan beberapa wisudawan, seorang menanyakan “Fred, kok nyokap, keluarga sama sepupu lu putih, lu kok ga putih?”. Jleb! Berhubung pertanyaan seperti itu bukan yang pertama kali penulis dengar, malah sering penulis dengar terutama dari teman yang baru main ke rumah penulis, maka penulis menjawab dengan gaya cool tentunya “Yah lu tahu gw lah… gw kan doyan olahraga” Hue2, yah jawaban standartlah daripada penulis jawab, “Iye Jek, Nyokap gw tuh setengah Chinnese” :p . Balik ke acara wisudaan, setting tempat wisuda kali ini berada di 7602, ruang tempat kuliah dan tidur siang itu pada saat itu sukses disulap menjadi panggung DANGDUT! Yup, dari sekian banyak kemungkinan tema, atau minimal genre musik… Dan panitia memilih dangdut! Hmm selamat para panitia, anda sukses membuat my unforgettable memory became very unforgettable
. Dengan tema seperti itu, dari awal sampai akhir segala yang berbau dangdut diulas pada kesempatan tersebut… Dan berhubung penulis tidak tahu tentang genre musik ini… bahkan ini satu-satunya genre musik (mungkin selain keroncong juga) yang hampir tidak pernah penulis sentuh, jadinya penulis hanya menonton dan ngomong2 dengan teman sebelah aja. Walaupun acara syukuran itu dilaksanakan pada malam hari, namun tetap aja pasukan anak kos yang mengincar makanan gratis tetap hadir dan menyemarakkan situasi malam itu.
Hari kedua merupakan hari wisuda, dimulai dengan ketidaksiapan penulis, karena penulis masih memakai sendal jepit, belum pake jas dsb ketika bertemu dengan teman wisuda lain yang telah siap dan rapi. Tapi yah berhubung penulis adalah orang yang gesit maka dalam waktu yang tidak lama, yup waktu yang lama itu waktu yang dibutuhkan untuk membetulkannya lagi
. Well singkat kata setelah menyelesaikan urutan ritual yang wajib dilakukan, penulis menunggu giliran untuk salaman dengan rektor serta kepala departemen. Dan pada kesempatan ini, sialnya STEI kebagian kesempatan yang lumayan terakhir, sehingga jadilah selama waktu tersebut penulis menghabiskan waktu dengan ngobrol dengan teman wisudawan lain. Setelah acara salaman selesai, dilanjutkan dengan foto bersama… And guest what??? Kembali STEI menjadi giliran yang belakang, dan terpaksalah kami menunggu sambil bersantai di dalam sabuga, dan baru bisa keluar cukup akhir. Setelah selesai sesi foto2nya, dari 16 wisudawan dan wisudawati IF, hanya tersisa 6 orang yang dapat diarak. Kembali dengan tema dangdut (bener2 kalian panitia yang ga tahu malu :p )… Kami diarak menuju labtek, well yah setidaknya setelah sampai labtek dan bermain lempar air, akhirnya acara wisuda pun ditutup. Yah walaupun terkesan garing, tapi penulis mengucapkan terima kasih nya kepada angkatan 2005 yang telah menyelenggarakan acara ini, jadi inget dulu waktu masih di divkel, bener2 kerja rodi pas wisudaan. Sekali lagi trims buat HMIF untuk wisudaannya
. And now I’m FREE!!!!
July 19, 2007
Ketika peluit akhir pertandingan berbunyi, yang menandakan habisnya pertandingan Indonesia melawan Korea Selatan, maka berakhir pula perjalanan tim Indonesia di kancah Piala Asia tahun ini. Banyak catatan perbaikan yang harus diperbaiki untuk ke depannya, namun banyak pula harapan yang bisa dibebankan pada timnas kali ini. Sebagai salah seorang pecandu bola walaupun liga luar bukan liga Indonesia sih, penulis merasa bangga bahwa di balik carut-marutnya liga Indonesia, ternyata dapat ditutupi dengan semangat membara untuk berjuang demi nama bangsa. Salut! Dengan semangat yang ditunjukkan oleh pasukan merah putih. Walaupun kita kalah dari segi manapun, stamina, teknik, postur, strategi, liga, namun tetap kita bisa menunjukkan bahwa kemenangan atas timnas kita yang notabenenya underdog tidak mudah didapatkan. Sekali lagi salut buat timnas Indonesia.
Salut kedua juga penulis haturkan kepada para supporter Indonesia yang membanjiri stadion Gelora Bung Karno. Melihat dari track record supporter Indonesia yang terkenal karena kebringasannya, penulis juga lumayan salut dengan kemauan para supporter Indonesia yang dapat melebur untuk mendukung timnas. Yang dulunya ga terbayang seperti Bobotoh bersama-sama Jack-Mania atau supporter klub lain bisa saling mendukung. Pokoknya keren lah, tapi sayang masih ada berita miring tentang dibakarnya loket pembelian karcis atau peristiwa pemukulan calo oleh supporter karena suasana yang kurang kondusif, namun secara keseluruhan supporter kali ini dapat diberikan applaus.
Bagi pihak penyelenggara, sayangnya applaus tidak dapat diberikan. Dari hari pertama pertandingan selalu ada permasalahan pada penyelenggara acara. Dari mulai pembagian tiket pertandingan yang tidak lancar sampai kejadian mati lampu di Gelora Bung Karno yang mengakibatkan terhentinya pertandingan. Pokoknya ini yang paling ancurlah, dan melihat persiapan yang dilakukan penyelenggara acara pada kali ini, kita memang belum pantas untuk menggelar acara yang levelnya lebih besar seperti Piala Dunia atau Olimpiade… bisa berabe tuh kalo di final World Cup ternyata listriknya mati :p . Sekali lagi applaus buat timnas dan supporter Indonesia!!!
July 11, 2007
Di tengah buruknya prestasi olahraga Indonesia, ternyata kemarin (10 Juli 2007) kesebelasan Indonesia mampu mengalahkan kesebelasan yang diatas kertas lebih baik, Bahrain. Sebelum pertandingan Indonesia-Bahrain, sudah tampak beberapa anomali dari pelaksanaan Piala Asia tahun ini. Dari tempat pelaksanaan, kita dapat membanggakan bahwa piala asia kali ini merupakan satu-satunya pelaksanaan Piala Asia (atau malah kejuaraan sepakbola?) yang pelaksanaanya melibatkan 4 negara, yaitu: Indonesia (pokoknya negaraku disebut pertama
), Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Hal yang unik, namun dapat sangat beresiko dalam hal management pelaksanaan, bahkan terbetik kabar kekecewaan dari AFC (Konfederasi Sepakbola se-Asia) mengenai persiapan masing-masing tim. Tapi yah, namanya inovasi, pasti ada harga yang harus dibayar untuknya. Hal kedua yang cukup aneh adalah banyaknya kejutan yang terjadi pada piala asia kali ini. Tim-tim yang tidak diunggulkan (underdog-jgn diartikan secara harafiah yaks
) mampu mengimbangi bahkan mengalahkan tim2 yang relatif lebih diunggulkan. Oman mampu menahan seri Australia yang lolos putaran pertama piala dunia, Vietnam mampu mengalahkan UEA 2-0, Thailand mampu menahan seri Irak 1-1, Indonesia bahkan mampu juga mengalahkan Bahrain dengan skor 2-1. Dari deretan tuan rumah, hanya Malaysia yang mencatat hasil kurang mengembirakan yaitu kalah 1-5 dari China.
Balik ke pertandingan kemarin, seperti warga negara yang baik lainnya, kami pun anak2 kos menonton pertandingan dengan seksama. Pada awal pertandingan, penulis hanya mengharapkan agar kesebelasan Indonesia bermain cukup fight sehingga minimal ga bikin malu nama bangsa. Pengharapan yang ga terlalu jauh juga ternyata ada di beberapa benak teman kos yang lain, malah ada yang berharap kalaupun kalah agar jangan dengan skor yang terlalu telak :p . Tapi berbeda dengan asumsi kami semua, ternyata kesebelasan Indonesia bermain cukup baik dan dapat membalikkan prediksi banyak orang dengan menang 2-1. Walaupun masih banyak kekurangan di sana-sini, namun secara umum penulis amat puas karena setidaknya tim Indonesia telah mampu menunjukkan perlawanan yang dapat dibanggakan. Mungkin menang dan kalah tidak terlalu penting bagi penulis, walaupun kalau menang tentu akan jauh lebih baik, namun asal jangan memalukan bangsa aja udah cukup kok bagi penulis.
Pengharapan yang sangat rendah bahkan terkesan pesimistis dari penulis memang memiliki rentang sejarah yang cukup jauh. Penulis masih mengingat kejadian yang lebih cocok disebut dengan tragedi “sepak bola gajah” antara kesebelasan Indonesia dan Thailand. Insiden ini bermula dari keenganan masing2 tim untuk menang karena apabila menang maka tim yang menang tersebut akan menjadi juara grup yang langsung berhadapan dengan tim yang dianggap paling hebat pada saat itu, Vietnam. Oleh karena tidak ada tim yang hendak menang, maka terjadilah kejadian memalukan tersebut, kedua tim hanya bermain-main bola seperti anak kecil, yang akhirnya disudahi dengan gol bunuh diri Mursyid Effendi yang sangat memalukan itu. Pantas aja jika kejadian tersebut disebut dengan sepakbola gajah, dan pantas juga bila Mursyid Effendi dijatuhi hukuman tidak boleh tampil di pentas internasional seumur hidup. Pada saat itu penulis baru merasakan bagaimana malunya jadi orang Indonesia, segitu takutnya ketemu dengan Vietnam sampai harus bertindak seperti tim yang tidak punya harga diri. Tapi yah yang lalu biarkan berlalu, namun dengan situasi yang tidak banyak berubah (seringnya tawuran penonton, perkelahian antar pemain, bobroknya PSSI dll) penulis salut bahwa kesebelasan Indonesia masih mampu untuk menang dan sekali lagi membuat penulis menaruh harapan pada tim ini, harapan sederhana agar tidak membuat malu nama bangsa… Harapan simple yang mudah2an dapat terwujud. So untuk kesebelasan Indonesia, selamat berjuang dan tolong, tolong sekali jagalah nama baik bangsa ini. Hidup Indonesia!
July 10, 2007
Akhir-akhir ini ada beberapa kejadian yang berhubungan dengan kegiatan separatis yang sangat kencang. Kegiatan itu dimulai dari pertunjukkan tari cakalele oleh simpatisan RMS (Republik Maluku Selatan?), kegiatan kedua adalah pengibaran bendera bintang kejora oleh simpatisan Operasi Papua Merdeka pada kongres dewan adat papua, dan yang terakhir adalah pendirian partai GAM yang merupakan partai lokal di Aceh. Pada thread ini penulis hanya ingin mengomentari tentang ketiga kejadian ini.
Kejadian pertama bertempat di Maluku. Kejadian ini dapat digolongkan dengan kejadian yang luar biasa parah. Kenapa begitu? Bayangkan aja kalo sekelompok orang bisa menyamar sebagai kelompok penari cakalele, masuk ke acara resmi yang terdapat kepala negara yang sedang menonton, dan menari serta mengibarkan bendera RMS tersebut di hadapan Presiden dan pers yang meliputnya! Gila apa? Pertama, coba pikirin konsekuensinya. Kalau misalnya si para penari itu membawa pistol, atau mungkin dengan cara yang lebih elegan, yaitu pura2 menari dan perlahan mendekati presiden, terus sampai jarak yang mendekat dan tiba-tiba berhamburan mendatangi presiden sambil membawa parang yang digunakan untuk menari? Belum lagi kalo parang itu dibumbuhi racun untuk berburu… Well pokoknya intinya mereka bisa melakukan kemungkinan percobaan pembunuhan dengan tingkat keberhasilan yang lumayan tinggi. Sekarang pertanyaannya kok bisa sih terjadi? Penulis sebagai rakyat biasa, tentu saja prihatin, untuk BIN dan TNI sebaiknya saling introspeksi, dan kalau perlu pecat oknum yang ga becus. Ini blunder kedua yang penulis tahu, setelah kejadian lolosnya Alex Manuputty (pemimpin RMS) ke Amerika. Penyakit yang sama ketika kita ribut kenapa Singapura memelihara para koruptor kita, sedangkan kita lupa berkaca kenapa mereka bisa meloloskan diri pada tempat pertama? Sebenarnya masalahnya ada di kita, kalo koruptor udah biasa lolos dari pencekalan, namun kalo tokoh separatis, itu mah gila. Masa bisa lolos juga sih? Mudah2an ini kejadian terakhir dimana kita sebagai bangsa dipermalukan oleh kejadian yang konyol dan sangat berbahaya kaya gini.
Menanggapi kejadian kedua, pengibaran bendera bintang kejora. Kalau menurut penulis permasalahan ini relatif lebih berat daripada kejadian pertama. Dari jaman ketika rezim Suharto berkuasa, terdapat 4 provinsi yang menyumbangkan lebih dari setengah pendapatan RI yang berasal dari sumber alam, malah bisa dibilang bahwa keempat provinsi ini yang membiayai adanya negara Indonesia. Yang pertama adalah Aceh dengan minyak dan gasnya, kedua adalah Riau dengan minyaknya, ketiga adalah Kaltim dengan aneka tambangnya, namun terutama minyak dan gas, serta Papua yang merupakan tambang emas dan tembaga terbesar di dunia dalam hal ini Freeport. Penulis kebetulan orang yang cukup beruntung, penulis lahir di Riau, menghabiskan masa SD dan sebagian SMP di Freeport, dan menghabiskan sebagian masa SMA di Balikpapan, city of oilnya Kalimantan Timur, sayang penulis belum pernah ke Aceh untuk melihat keadaan di sana. Dari keempat provinsi disana, masing2 provinsi pernah memiliki gerakan kemerdekaannya sendiri2, di Aceh ada GAM, di Riau ada gerakan Riau Merdeka, di Papua ada OPM (Operasi Papua Merdeka), dan di Kaltim juga ada gerakan kemerdekaan namun tidak pernah terdengar seperti Aceh atau Papua. Satu fakta lain yang membuat piris adalah keempat daerah tersebut dapat disebut relatif tertinggal jika dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Inilah titik masalahnya pada masa lalu, ketidakadilan. Karena pada masa itu, menumbangkan rezim Suharto tuh kaya impian memeluk gunung, rasa ketidakpuasan itu larinya ke gerakan separatis. Hal ini diperparah dengan faktor sejarah seperti pada GAM dan OPM. Penulis lumayan banyak berteman dengan orang2 pada daerah itu, dan pada satu titik, penulis sendiri mendukung gerakan separatis tersebut. Pada satu titik, penulis memang udah muak sama keserakahan Jakarta, dan kalo memang ga ada solusi pada waktu itu, merdeka tuh pilihan yang masih masuk akal (untuk apa ada negara kalo satu pihak bisa memperbudak pihak yang lain?). Namun beriring dengan berjalannya waktu, ternyata impian meruntuhkan orde baru itu bisa dilakukan, dan perbaikan pun bisa dilakukan. Otonomi daerah merupakan solusi bagi permasalahan ini sebenarnya, walaupun masih banyak penyimpangan, seperti korupsi yang berpindah ke daerah, namun penulis berharap ini solusi yang ditunggu sejak dulu. Mudah2an dengan seiring waktu, korupsi tersebut dapat berkurang dan daerah dapat menyusul ketertinggalannya dengan daerah lain, dan berdiri sama tinggi lagi.
Untuk permasalahan ketiga, penulis kurang mengetahui juga gimana persisnya keadaan disana karena penulis belum pernah mengunjungi daerah tersebut dan kebetulan teman penulis juga sangat sedikit yang merupakan orang dari daerah Aceh. Tapi penulis salut dengan kebijaksanaan dari kedua pihak yang bertikai, ternyata yang dibalik musibah besar (read: tsunami) juga ada hikmah yang kita bisa ambil, yaitu keinginan kedua pihak untuk berdamai. Menurut penulis ini adalah salah satu prestasi besar dari pemerintahan ini, soalnya Aceh tuh masalah yang sangat kompleks, dan dengan perdamaian ini, penulis mengacungkan dua jempolnya (tanganlah… masa kaki :p ) untuk kedua belah pihak, dan berdoa semoga Aceh bisa sembuh dan mulai membangun kembali. Tapi mengenai partai politik lokal dengan nama GAM ini, penulis menentang, karena GAM kan singkatan dari Gerakan Aceh Merdeka, masa nama partai politik merupakan nama gerakan separatis sih? kan aneh dan memancing perdebatan. Yah semoga pihak GAM mau mengubah nama parpol tersebut dengan nama yang lebih kondusiflah, mari lupakan masa lalu dan menapak ke depan. Tapi satu hal yang perlu diingat, dimanapun di dunia, yang namanya gerakan separatis mesti ditumpas, tapi mungkin kebijaksanaan itu perlu untuk melihat alasan kenapa gerakan separatis itu masih ada, dan untuk kasusnya Indonesia, penulis yakin selama rakyat di daerah juga sejahtera maka ga ada alasan yang kuat untuk berkembangnya gerakan kaya gini. Yah itu sih pikiran dari penulis… damai Indonesiaku
July 2, 2007
The story starts when a few days ago (about 7 days ago) when I doing what I considered as one of few my most boring must-do activities, administration. To be able to graduated in this July, there are few administration that need to be done, such as: checking your final mark (GPA and per subject), closing your bank account, and soon. And the disaster take place in bank when I’m closing my bank account. Most of you should already know when you formally go to college, the college will make an account working together with a specific bank. This account is useful when you don’t like to pay your fee manually, but rather have it autodebet, which means the bank just cut some money from your account deposit and send it to the college deposit account for your tuition fee. The main advantage is you don’t have to queue in (most of them) very long line, just imagine all the students are gathering to pay their tuition fee in the same time at the same time
. Well back to the topic, it was a busy day, because I need to finished all the administration requirement, and I have to walk around between Annec (ITB’s administration center), BNI Tamansari branch (the bank), and the faculty administration center (what English word for “Tata Usaha”?
). After closing my bank account, I decided to drop by to ATM (Automatic Transfer Machine) in the bank, to get some loads, because I running out of money. My bad old habit come back in the very bad time, I’m clumsy enough to forget to take my ATM card back after I took the money. Isn’t stupid? After I took the money, I just walk away, because that time I’m in quite of hurry (because of an appointment with my friend), and forgot to take my ATM card. I realized my mistake after meeting my friend, I feel something just not right… you know… just this intuition when you think I need to doing something very important but in you just forget it. And then I realized what the problem? I forgot to check the slip of ATM transaction. I always check the transaction slip to check the balanced of my saving account, and if I’m not yet checking my balanced account, then… and in the flash I checked for my wallet, and just what I feared most happen, my ATM card is gone. But what the worst part is not just my ATM card that was gone, but with it also lost (stole more precise) my buffer money, Rp 3.700.000,00 for exact amount, and leaves Rp 35.000,00, and that really makes me broke.
It took me about a week try to let it go. I mean well, it’s kind of a lot money to me, specially when you are not working yet. But I try to think positive, and hoping that the stolen money will be used for charity purpose. However if my money… well maybe now it’s mr/ms thief money, used for sinful activity, then I will cursed you to the ground, revenge mode: on
. This unfortunate event teach me few things. First, I need to do BPR (Business Process Reengineering) to the way I administrate my money. Well I figure a new protocol that I hoped will reduced unwanted event like this to be happen again. Second, there is a thing that maybe just not belong to you and you must try to let it go, but of course you must take the lesson from the event before you let it go (even a donkey don’t fell on the same hole twice my friend
). Third, I must survive this month on the very very hard diet. For this week I already only eat twice a day, and spend only about Rp 10.000,00 for eating in a day. But of course, that amount must be add by rice cost and other cost, but still to very active guy like me (hehehe) it’s kind of hard to do things when you’re hungry
. But still I must survive this month, no reason no denial, because either ways this is because my own foolishness and I just have to pay it, and I will pay it with very very expensive price
(










