Baru selesai nonton film Indonesia yang keren banget judulnya “Nagabonar jadi 2″. Seperti yang banyak orang tahu, film ini merupakan sequel dari film Nagabonar yang sudah lama bgt. Film ini juga sebenarnya diangkat dari sebuah novel, (updated: thanx to boneng) skenario film yang dibuat oleh Asrul Sani. Ceritanya berpusat pada seorang pencopet yang bernama Nagabonar, seorang pencopet yang kemudian menjadi jenderal dalam melawan penjajah. Tapi walaupun ceritanya mengenai pencopet namun nuansa nasionalis sangat lekat pada film edisi pertama ini, hal ini dapat dilihat dari perkataan Nagabonar yang intinya kira2 seperti ini: “Walaupun aku pencopet, aku hanya mencopet dari penjajah aja”, suatu cerminan yang sangat pahit, mengingat sekarang banyak koruptor yang tega lebih memilih menjarah saudara sebangsa sendiri.
Tapi cukup mengenai film Nagabonar yang pertama tersebut. Nagabonar jadi 2 yang merupakan sequel dari film pertama mengangkat tema yang berbeda. Kalau pada film pertama, titik berat lebih pada perjuangan Nagabonar dan milisi Indonesia dalam melawan Belanda, film kedua lebih menitikberatkan pada benturan zaman antara Nagabonar dan Bonaga yang merupakan anaknya. Benturan budaya ini dikarenakan keinginan Bonaga untuk menjual tanah ayahnya yang berada di Medan, untuk dijadikan resort dan tempat wisata. Namun tanah ayahnya tersebut, tidak hanya berisi kebun kelapa sawit yang pada film disebutkan setiap kelapa sawit itu ditanam oleh tangan Nagabonar sendiri, namun juga karena pada tanah tersebut terdapat tiga makam orang yang sangat disayangi oleh Nagabonar, makam Emaknya, makam istrinya, dan makam Bujang, sahabatnya. Dan konflik pun terus berlanjut dan singkat kata (iyalah kalo mau filmnya gih cari di rileks
) apakah Bonaga dapat menjual tanah yang berisi kuburan ketiga orang yang sangat disayangi oleh ayahnya, Nagabonar tersebut? hihihi masih ga mau jadi spoiler euy, bagi yang penasaran silahkan nonton sendiri.
Tapi harus diakui bahwa ini adalah salah satu film Indonesia yang paling bagus yang pernah penulis tonton sampai saat ini. Diantara kebangkitan film Indonesia yang dimotori oleh genre horor dan cinta, film ini menyajikan tema yang sangat unik, yaitu nasionalisme sehingga sangat cocok disaksikan untuk menyambut ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Yup temanya masih sama dengan film pertama, dan kemiripan ini berlanjut dengan balutan roman dan komedi yang sangat “khas” dari Nagabonar. Akting para aktor dan aktris juga sangat baik, terutama Dedy Mizwar (top abis deh) dan Tora Sudiro yang bermain di atas standar akting para aktor dan aktris masa kini. Terlepas dari beberapa kelemahan film seperti, keanehan rumah tukang bajaj yang relatif sangat bagus dan berkecukupan, film ini sangat pantas ditonton. Penulis bertambah kecewa ketika teringat dahulu tidak ada teman yang bisa diajak untuk menonton film ini. So buat kamu yang nyari film Indonesia dengan genre yang lain dengan akting yang bermutu, film ini bisa jadi pilihan, tentu saja dianjurkan untuk nonton di bioskop (walaupun kyaknya udah ga ada lagi euy) atau beli vcd aslinya kalo mampu. Untuk para pemeran dan rumah produksi Nagabonar jadi 2 ini, penulis memohon maaf karena hanya bisa nonton versi bajakannya, penulis janji kalo penulis sudah kaya (AMIEN), ntar penulis cari dan beli vcd ini hehehe
Mengutip beberapa kalimat keren dari Nagabonar…
Kau bukan anakku Bonaga… Anak Nagabonar tidak akan menjual kuburan nenek moyangnya!!!
Salahku aku masih hidup di zamanmu…. yang sangat sulit kumengerti…. tapi berupaya kupahami… karena aku betul-betul mencintaimu Bonaga…
August 28, 2007 at 9:32 pm
koreksi dikit…
filmnya bukan diangkat dari sebuah novel, tapi novelnya dibikin berdasar skenario filmnya.
August 29, 2007 at 2:05 am
wah iya bener euy… salah baca, updated… sekali lagi makasih atas perbaikannya