September 2007


Salah satu dari sedikit hobi… kalau bisa dikategorikan sebagai hobi adalah internet. Bermula dari patungan anak-anak di kosan yang lama, maka online lah kosan kami saat itu. Berbagai kegiatan yang dulunya cuman mimpi, seperti ngecek email dari kamar, browsing dari kamar, chatting dari kamar, ngebokep dari kamar, pokoknya dsb dari kamar dapat terwujud. Wah seneng bgt lah seakan-akan dunia maya itu ada di atas meja kaya di film2 barat aja. Dan saking asiknya, dan ditunjang dengan kegiatan penulis yang 0 sks pada saat itu, jadi deh hampir seharian selama satu semester itu, penulis hanya hidup di kamar. Keluar kamar hanya untuk mandi, nonton TV, beli makan dan keperluan buat TA… Suatu kegiatan hidup yang sebenarnya ga terlalu baik buat dicontoh. Tapi dengan kekuatan patungan, harga internet kala itu cukup terjangkau… hanya 50 ribu sebulan.

Ketika penulis berpindah kos, penulis pun baru menyadari bahwa penulis sudah tercandu oleh kebiasaan yang kurang sehat tersebut. Sampai akhirnya penulis berpatungan dengan seorang teman kosan, untuk menghadirkan internet di kosan. Alhasil setelah mencari sekian banyak kemungkinan yang visible bagi kami berdua maka kami memilih koneksi gprs kelas 10 unlimited up to 64 kbps dari Centrin dengan memakai jaringan 3G XL dengan ongkos perbulan sekitar 275 ribu. Bayangkan dengan koneksi yang cuman 64 kbps it… dibagi 2 pula dengan arsitektur peer to peer (memakai hp pinjeman Adek pulak :P )… penulis mengarungi dunia maya. Sebenarnya kebutuhan penulis akan internet tidak terlalu besar, penulis mendapat akses internet gratis karena ikut membantu riset di lskk-elektro ITB yang terhubung dengan jaringan speedy… Speedy lho bukan AI3, sehingga masalah-masalah klasik seperti penjaga cumi dsb itu tidak ada. Hal yang cukup menyenangkan sebenarnya… tapi dikarenakan penulis tidak terlalu senang berlama-lama di JCC maka terpaksa penulis memaksakan hadirnya internet di kosan ini juga. Yah untungnya sih, duit riset dll itu udah cair, sehingga pengeluaran ini sedikit banyak bisa diatasi.

Berbicara mengenai internet di Indonesia memang kyaknya ga ada habis-habisnya. Berdasarkan perbincangan dari teman-teman yang melanjutkan pendidikan ke luar, ternyata penulis menyadari bahwa yang di film-film itu ternyata beneran. Infrastruktur di Eropa dan Asia Timur sudah lebih dari cukup untuk dapat streaming you tube dsb… hal yang sebenarnya masih mimpi disini. Itupun dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan yang mereka bayar… Bayangkan kualitas yang jauh lebih bagus dengan harga yang lebih murah di negara yang lebih makmur dari Indonesia. Bener-bener udah kaya lingkaran setan aja. Kira-kira berikut lingkaran setannya:

infrastruktur ga ada + daya beli rendah -> harga setup awal internet mahal -> sedikit yang pakai internet -> pasar kecil, swasta tidak mau mengembangkan infrastruktur -> harga internet tetap mahal.

Kalau di negara maju, mungkin berikut lingkaran malaikatnya: :P

infrastruktur memadai + daya beli tinggi -> harga setup awal internet tidak terlalu mahal -> banyak yang pake internet -> pasar besar, swasta mengembangkan infrastruktur -> harga internet tambah murah

Kalau gini gimana rakyat Indonesia bisa melek teknologi kalau udah stack kaya gini? Padahal sebenernya karir Indonesia di bidang pertelekomunikasian lumayan gemilang lho, kalau ga salah satelit palapa itu telah menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga di dunia atau Asia Pasifik gitu yang punya satelit telekomunikasi. Walaupun udah lama tapi tetap sebenarnya kita pernah punya momentum seperti itu, tapi sayang kita jalan di tempat hingga sekarang ini. Tapi kemarin waktu bongkar-bongkar internet, terbesit sebuah kabar gembira… Diantara penyedia layanan internet yang cenderung oligopoli yang mengontrol tarif dengan ketat ada sebuah ISP (First Media) yang relatif baru mencoba mendobrak sistem kartel tersebut. Bayangkan ISP tersebut dapat menawarkan koneksi internet upto 384 kbps dengan harga 99 ribu rupiah??? Untuk yang 512 kbps dibandrol dengan harga 195 ribu… perbandingan dengan ISP Melsa yang dipakai penulis di kosan lama mengenakan tarif sekitar 690 ribu untuk bandwith yang sama. Keren bgt… Tapi sayang kyaknya lingkup cakupan dari fastnet ini masih di Jakarta dan sekitarnya saja, sedangkan Bandung seperti yang sudah-sudah kyaknya bakal tertinggal :P . Fenomena yang sangat menarik sebenarnya dimana kita ingat kasusnya Hutchitson (bener ga ya penulisannya?) yang membanderol sms seharga 0 rupiah. Keren bgt ga tuh? Ini merupakan tamparan keras bagi para telco company di Indonesia yang untung gila-gilaan dari pasar penyedia yang oligopoli kalau ga bisa dibilang kartel sih. Tapi salut deh buat para pendobrak ini, kalau ga ada para pendobrak ini kyaknya bakal lama bgt tarif telekomunikasi dan internet akan turun, tapi dengan adanya perusahaan2 seperti ini dan mungkin rencana palapa ring… mudah2an dalam waktu yang ga terlalu lama lagi ongkos telekomunikasi dan internet di Indonesia bisa turun dengan drastis dan penulis bisa lebih intens lagi dalam menjelajahi internet, sehingga mungkin penulis bisa main-main di youtube atau google earth dengan harga yang relatif terjangkau.

Ngutip dari blognya Bagong… awalnya sih dari blog seorang programmer dari Brazil, namun setelah dilepas di sebuah milis dan
mengalami perbaikan di sana-sini serta diterjemahkan jadi deh humor yang cerdas ini.. Enjoy :D

This is the coolest article i read from internet since past several years :-p
This great article originated from Brazilian programmers Daniel Quirino, Fernando Camargo and Marihelen Santos. It was first published on Marihelen’s blog at
http://marihelen.blogspot.com/2005/07/programadores-e-dragoes.html

Some portions are added from many people (including me :-p), please extend it while you have some ideas. Enjoy the read :-)

There’s a beautiful princess, prisoner in the highest tower of a castle, guarded by a mighty dragon, and a fearless knight must rescue her…

This is how each programming language would manage to rescue the princess from the hands of the dragon:

Java: Gets there, finds the dragon, develops a framework for dragon anihilation with multiple layers, writes several articles about the framework… But doesn’t kill the dragon.

.NET: Gets there, sees the idea of the Java developer and copies it. Tries to kill the dragon, but the monster eats him.

C: Arrives, looks down at the dragon, pulls out his sword, beheads the dragon, finds the princess… And ignores her to see the last checkins of linux kernel cvs.

C++: Creates a basic needle, and gathers funcionality until he has a complex sword that he can barely understand… He kills the dragon, but gets stuck crossing the bridge because of memory leaks.

COBOL: Arrives, sees the dragon and thinks that he is too old to kill a monster that big and rescuing the princess, so he leaves.

Pascal: He prepares for 10 years to create a dragon anihilation system… When the moment comes, he discovers the program can only take lizards as an entry.

VB: Builds a dragon destruction weapon based on several components, jumps to the back of the dragon and in the most critical time he discovers that the sword works only on rainy nights…

PL/SQL: Gets data from other dragon slayers, creates tables with n ternary complexity relations, tridimensional data, OLAP, takes 15 years to process the information… And by then, the princess became a lesbian.

Ruby: Arrives with massive fame, saying he is the best at anything and when he faces the dragon, he shows a lame motion picture of himself killing a dragon… The dragon eats him out of boredom.

Smalltalk: Arrives, analyzes the dragon and princess, turns around and leaves, they are way too inferior.

shell: Creates a very powerful dragon slaying weapon… But in the moment of truth, he can’t remember how to use it.

shell(2): The guy approaches the dragon with a two line script that kills, cuts, disembowels, impales, chops to pieces and packs the beast, but when he runs it the script grows, it fattens, irritates and puts alcohol in the fire of the dragon…

ksh93 shell: The programmer creates a huge simulation prototype written in ksh93 at home on his Solaris 11/Nevada B72 machine to figure out the best options to kill the dragon but when we goes and tries to kill the dragon he learns that his Solaris 8 installation in his battle horse only has ksh88 installed which doesn’t support floating-point math, compound variables or associative arrays and won’t run the script. The dragon breaks his bones, bites off the head and drinks the blood.

Assembler: He thinks he’s doing the right and most efficient things… But he writes an A instead of a D and kills the princess to end up f***ing the dragon.

Fortran: Arrives and develops a 45-thousand-code-line-solution, kills the dragon, meets the princess… But she calls him a weakling and runs after the Java programmer who was elegant, and also rich.

FOX PRO: Develops a dragon killing system. It’s gorgeous and works on the outside, but it’s really patched inside, so when he runs the dragon anihilator, he realizes he forgot to index the DBFs.

PROCESS ANALYST: Approaches the dragon with two tons of documentation, develops the unified dragon-killing process, he develops a DFD to free the princess and marry her, convinces the dragon that it’s the best for him and it won’t hurt. When he executes the process, he estimates the effort and the damage he will cause with a plan signed by the Pope, Buddha and Michael Jackson. Then he buys a couple of nukes, 45 cannons, an aircraft carrier and hires 300 heavily armed men… When all he needed was the sword he was holding in his hand in the beginning…

CLIPPER: Sets up a routine that loads a codeblock array to insult the dragon, serenade the princess, load the sword in memory, beat the crap out of the dragon, clean the mess, prepare a raspberry milkshake for the princess, make love to her, take a bath, start the car, put it some gas and come back home. When he runs it, he gets a “Bound Error: Array Access” and the dragon eats him with fries.

Lisp: where the famous knight-errant, after speaking with numerous experts in dragon-killing, and modeling the knowledge they posess, he programs the system, and when he runs it he realizes he forgot a bracket (bender the offender).

HTML: Mounts a web on famous swords used to kill dragons, but he ignores the W3C standards. When he meets the dragon, he finds out the code isn’t compatible with his browser, so he’s left swordless. The dragon eats him as an appetizer.

Prolog: Thinks he needs a weapon to kill the dragon. Searches in a catalog for 182014 weapons. By the time the princess dies of her age, he’s achieved to know how to make every weapon starting with A: Atomic Bombs, Anti-Air Weapons, Arches, Ammunition, Axes…

PHP: Creates a web page that when he executes it would eliminate the $dragon selecting from a weapons databese in MySQL over an Apache server. Nevertheless he forgot the WHERE in the DELETE query and kills the princess, the dragon, the peasants, the witch, the sorceror and the programmer himself.

JavaScript: The programmer tries to kill the great green dragon that spits fire throug his mouth. He creates a script that will delete the dragon when he loads a webpage, to create seconds after, some damsels to throw him flowers and make clapping sounds. Unfortunately he didn’t take into account the DOM structure of the lizard, also known as Mozilla, and the only thing he gets is to fill his console of errors and that the Book of Mozilla tells how he was devoured.

ActiveX: The programmers create a tunnel to enter the dragon’s lair from the castle and run a program that will kil the dragon from a safe and prudential distance. The dragon discovers the tunnel, eats the workers who dug, the dragon slayers, and enslaves every servant in the castle. The castle becomes a dragon-breeding place, full of little dragons that the dragon sends in pop-ups to other castles. The untasty remains of the knights are put in cans of Spam and sent to other castles as well as a warning. (aquelquesiente)

Actionscript: Create a dragon class with a killDragon method attached to a dragon getting killed awesome animation with Flash. Execute the method and half the way through the animation the Internet Explorer crashes…and he switches to another browser quickly, but then he forgot installing the latest flash plugin..so he goes to macromedia.com but he doesn’t find it because the site has moved to adobe.com, when he is in adobe sites and ready to download… the dragon eats him.

BASIC: He creates a weapon able to kill paper dragons, but no matter how they improve it, they discover it’s not good enough to kill any dragon bigger than a baby poodle.

Matlab: They create a loop that calculates the trajectories to shoot a giant arrow at the dragon. The program works flawlessly. What they need now are the voluntaries caoable to launch tha arrow with the necessary strength and accuracy.

Videogame Programmer : Spends two years programming a state-of-the-art sword with shaders and all. When the time comes to kill the dragon, he finds that half the knights aren’t strong enough to raise the sword. Then someone programs a patch that reveals the sex scenes with the princess and Hillary Clinton makes it a scandal.

Gimana? Ada yang mau nambahin lagi? :D

Penulis mulai berpuasa (kalo ga salah inget) ketika TK nol kecil (hihihi nol kok ada besar atau kecil ya??). Ketika itu (kalo ga salah inget lagi…) penulis merupakan salah satu dari sedikit anak sekecil itu yang sudah mulai berpuasa. Hehehe bagi yang penasaran apa rahasianya? Jawabannya adalah sogokan… Hehehe seperti anak kecil pada umumnya, penulis juga ketika itu sangat suka mainan, dan memanfaatkan kelemahan tersebut, Mama penulis menyogok penulis untuk berpuasa dengan upah ketika itu seribu rupiah kalo penuh dan 500 rupiah kalo setengah hari. Untuk ukuran penulis saat itu, jumlah tersebut terhitung sangat besar (hihihi padahal sih penulis rada matre saat itu :P ) . Teringat sih waktu itu, ketika penulis pulang dari TK sekitar jam 10 atau 11, segera penulis pulang, dan langsung tidur siang sama adek (adekku masih lucu2nya saat itu :P ) karena kelelahan. Setelah bangun (kalo masih kuat berpuasa) dengan segera penulis keluar dan bermain dengan teman-teman lainnya. Kelelahan yang terasa setelah pulang dari TK pun segera hilang dan berganti dengan keriangan anak kecil yang lugu… Dan kalau sampe pada tahap main ini, maka kemungkinan untuk batal puasa pada hari itu sudah sangat kecil sekali dan bertambahlah tabungan penulis dengan seribu rupiah hari itu :) . Pada waktu itu, tiap pertengahan bulan Ramadhan, biasanya penulis udah mudik ke tanah kelahiran, hal ini dikarenakan waktu itu masih ada pesawat kecil yang melayani rute Bangka-Singkep dan jarak keduanya yang tidak terlalu jauh. Berpuasa di tanah kelahiran melahirkan perasaan lebih ringan lagi, entah kenapa waktu itu kyaknya cukup terasa perbedaannya antara puasa di tanah kelahiran dengan di tempat lain. Mungkin pengaruh saudara-saudara dan suasana yang nyaman memberikan banyak kemudahan dalam menjalankan puasa tersebut kali ya?

Memasuki SD, penulis sudah pindah ke Jakarta. Dan karena satu dan lain hal penulis disekolahkan di sekolah SD Katolik. Dan seperti ciri khas SD Katolik dimanapun, kedisiplinan sekolah ini pun sangat ketat (institusi yang paling ketat yang pernah penulis masuki sampai saat ini). Walaupun penulis muslim dan berpuasa tetap aja ga ada alasan untuk pengecualian… Sebenarnya hal ini bagus sih, masa mengorbankan orang banyak demi satu dua orang aja :P . Jadi upacara senin, olahraga, ekstrakulikuler, semua harus penulis jalani sambil berpuasa. Tapi untungnya ketika itu penulis sudah cukup besar untuk menahan makan dan minum pada saat itu. Jadi walaupun berpuasa, penulis lebih memilih bermain bola ketika istirahat jika dibandingkan hanya diam dan melihat teman-teman bermain dari kejauhan. Ketika nyampe rumah, penulis segera berangkat ngaji… hihihi waktu dulu sih masih rajin bgt euy :D . Selesai ngaji? yah main lagi dong, kalo ga main bola, minimal kelereng, layangan, atau gambaran, pokoknya sesuai musim mainan pada saat itu aja… Gak kaya anak sekarang yang mainnya PS mulu… Itu ga sehat ya Adek-adek :P . Tapi pengalaman 3 tahun mengerjakan puasa di sekolah Katolik ketika kecil, sedikit banyak telah memaksa penulis untuk sedikit lebih dewasa pada saat itu, saat ulangan penulis tidak mencontek, di kelas ga ribut (hihihi pokoknya selama sebulan itu kelas tidak seheboh biasanya :p ), tidak memalsukan tanda-tangan Mama, tidak ngegosipin cewek2 di kelas (kyaknya yang ini masih deh :) ) ) dan setumpuk dosa lainnya yang biasa penulis lakukan pada bulan itu tidak dapat penulis lakukan. Memang benar jika dibilang waktu puasa itu setan-setan diikat, sebenarnya sih bukan diikat tapi setannya dibiarkan kelaparan sama seperti tuannya :P . Satu hal lagi yang penulis dapat pada saat itu, karena kehadiran seorang yang berpuasa di tengah mereka, sedikit banyak mempengaruhi kelas secara keseluruhan, teman-teman yang biasanya membawa dan memakan bekalnya di kelas, sedikit banyak menghindari makan di depan penulis ketika itu, malah ada yang membelikan penulis makanan untuk buka puasa ketika itu… Hihihi contoh toleransi dan persahabatan dari anak-anak kecil yang lugu pada saat itu.

Dan ketika penulis semakin besarpun, beberapa kebiasaan tadi sudah menghilang… seperti upah harian puasa tersebut :( . Tapi memang sudah seharusnya seperti itu kali ya… Dengan semakin dewasanya penulis, semakin sadar pula penulis akan kewajiban ini. Walaupun begitu, penulis masih punya satu masalah besar dalam mengarungi bulan ini… Kekonsistenan. Biasanya pada tahun-tahun sebelumnya, penulis begitu bersemangat menyambut hari ini, dan rajin bgt beribadah, namun ketika sampai pertengahan bulan, penulis kehilangan moodnya, sampai-sampai sholat aja bolong-bolong. Padahal kan 10 hari terakhir yang lebih berlimpah dengan pahala, kan kenyataan bahwa penulis hampir ga pernah dapet yang namanya Lailatul Qadar bener-bener bikin jengkel, sampai tahun ini penulis mencoba “mengecer” semangat penulis dengan mencoba tidak terlalu bersemangat pada awal-awal bulan, dengan harapan masih ada semangat untuk mengejar pahala pada akhir bulan ini. Berhasilkah strategi tersebut? Well karena ini belum lebaran, maka penulis belum tahu hasilnya gimana… tapi mudah2an sih ada perubahan, kalaupun ga… mudah2an penulis masih dikasih kesempatan bertemu dengan bulan yang mulia ini tahun depan dan mencoba kembali (hihihi kaya beli lotere gini :P ). Untuk semua… met berpuasa ya… Moga2 kita bisa mendapatkan pahala yang banyak dan memupus banyak dosa pada bulan ini :)

Dikutip dari sebuah blog…

INILAH GURINDAM DUABELAS NAMANYA

Segala puji bagi Tuhan seru sekalian alam serta shalawatnya Nabi yang
akhirul jaman serta keluarganya dan sahabatnya sekalian adanya.
Amma ba’du daripada itu maka tatkala sampailah Hijratun Nabi 1263 Sanah
kepada dua puluh tiga hari bulan Rajab hari Selasa mana (…..) telah
ta’ali kepada kita yaitu Raja Ali Haji mengarang satu gurindam cara Melayu
yaitu yang boleh juga jadi diambil faedah sedikit-sedikit daripada
perkataannya itu pada orang yang ada menaruh akal maka adalah banyaknya
gurindam itu hanya duabelas pasal di dalamnya.

Syahdan
Adalah beda antara gurindam dengan syair itu aku nyatakan pula bermula
arti syair Melayu itu perkataan yang bersajak yang serupa dua berpasang
pada akhirnya dan tiada berkehendak pada sempurna perkataan pada satu-satu
pasangnya bersalahan dengan gurindam.
Adapun arti gurindam itu yaitu perkataan yang bersajak juga pada akhir
pasangannya tetapi sempurna perkataannya dengan satu pasangannya sahaja
jadilah seperti sajak yang pertama itu syarat dan sajak yang kedua itu
jadi seperti jawab.

Bermula inilah rupanya syair.
Dengarkan tuan suatu rencana
Mengarang di dalam gundah gulana
Barangkali gurindam kurang kena
Tuan betulkan dengan sempurna
Inilah arti gurindam yang di bawah syatar ini
Persamaan yang indah-indah
Yaitu ilmu yang memberi faedah
Aku hendak bertutur
Akan gurindam yang beratur

1
INI GURINDAAM PASAL YANG PERTAMA

Barang siapa tiada memegang agama
Segala-gala tiada boleh dibilang nama

Barang siapa mengenal yang empat
Maka yaitulah orang yang ma’rifat

Barang siapa mengenal Allah
Suruh dan tegaknya tiada ia menyalah

Barang siapa mengenal diri
Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri

Barang siapa mengenal dunia
Tahulah ia barang yang terpedaya

Barang siapa mengenal akhirat
Tahulah ia dunia mudharat

2
INI GURINDAM PASAL YANG KEDUA

Barang siapa mengenal yang tersebut
Tahulah ia makna takut

Barang siapa meninggalkan sembahyang
Seperti rumah tiada bertiang

Barang siapa meninggalkan puasa
Tidaklah mendapat dua termasa

Barang siapa meninggalkan zakat
Tiadalah hartanya beroleh berkat

Barang siapa meninggalkan haji
Tiadalah ia menyempurnakan janji

3
INI GURINDAM PASAL YANG KETIGA

Apabila terpelihara mata
Sedikitlah cita-cita

Apabila terpelihara kuping
Khabar yang jahat tiadalah damping

Apabila terpelihara lidah
Niscaya dapat daripadanya faedah

Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
Daripada segala berat dan ringan

Apabila perut terlalu penuh
Keluarlah fi’il yang tidak senonoh

Anggota tengah hendaklah ingat
Di situlah banyak orang yang hilang semangat

Hendaklah peliharakan kaki
Daripada berjalan yang membawa rugi

4
INI GURINDAM PASAL YANG KEEMPAT

Hati itu kerajaan di dalam tubuh
Jikalau zalim segala anggota tubuh pun rubuh

Apabila dengki sudah bertanah
Datanglah daripadanya beberapa anak panah

Mengumpat dam memuji hendaklah pikir
Di situlah banyak orang yang tergelincir

Pekerjaan marah jangan dibela
Nanti hilang akal di kepala

Jika sedikitpun berbuat bohong
Boleh diumpamakan mulutnya itu pekung

Tanda orang yang amat celaka
Aib dirinya tiada ia sangka

Bakhil jangan diberi singgah
Itulah perompak yang amat gagah

Barang siapa yang sudah besar
Janganlah kelakuannya membuat kasar

Barang siapa perkataan kotor
Mulutnya itu umpama ketor

Di manakah salah diri
Jika tidak orang lain yang berperi

Pekerjaan takbur jangan direpih
Sebelum mati didapat juga sepih

5
INI GURINDAM PASAL YANG KELIMA

Jika hendak mengenal orang berbangsa
Lihat kepada budi dan bahasa

Jika hendak mengenal orang yang berbahagia
Sangat memeliharakan yang sia-sia

Jika hendak mengenal orang mulia
Lihatlah kepada kelakuan dia

Jika hendak mengenal orang yang berilmu
Bertanya dan belajar tiadalah jemu

Jika hendak mengenal orang yang berakal
Di dalam dunia mengambil bekal

Jika hendak mengenal orang yang baik perangai
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

6
INI GURINDAM PASAL YANG KEENAM

Cahari olehmu akan sahabat
Yang boleh dijadikan obat

Cahari olehmu akan guru
Yang boleh tahukan tiap seteru

Cahari olehmu akan isteri
Yang boleh menyerahkan diri

Cahari olehmu akan kawan
Pilih segala orang yang setiawan

Cahari olehmu akan abdi
Yang ada baik sedikit budi

7
INI GURINDAM PASAL YANG KETUJUH

Apabila banyak berkata-kata
Di situlah jalan masuk dusta

Apabila banyak berlebih-lebihan suka
Itu tanda hampirkan duka

Apabila kita kurang siasat
Itulah tanda pekerjaan hendak sesat

Apabila anak tidak dilatih
Jika besar bapanya letih

Apabila banyak mencat (mencacat?) orang
Itulah tanda dirinya kurang

Apabila orang yang banyak tidur
Sia-sia sajalah umur

Apabila mendengar akan kabar
Menerimanya itu hendaklah sabar

Apabila mendengar akan aduan
Membicarakannya itu hendaklah cemburuan

Apabila perkataan yang lemah lembut
Lekaslah segala orang mengikut

Apabila perkataan yang amat kasar
Lekaslah orang sekalian gusar

Apabila pekerjaan yang amat benar
Tidak boleh orang berbuat onar

8
INI GURINDAM PASAL YANG KEDELAPAN

Barang siapa khianat akan dirinya
Apalagi kepada lainnya

Kepada dirinya ia aniaya
Orang itu jangan engkau percaya

Lidah suka membenarkan dirinya
Daripada yang lain dapat kesalahannya

Daripada memuji diri hendaklah sabar
Biar daripada orang datangnya kabar

Orang yang suka menampakkan jasa
Setengah daripadanya syirik mengaku kuasa

Kejahatan diri disembunyikan
Kebajikan diri diamkan

Ke’aiban orang jangan dibuka
Ke’aiban diri hendaklah sangka

9
INI GURINDAM PASAL YANG KESEMBILAN

Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan
Bukannya manusia yaitulah syaitan

Kejahatan seorang perempuan tua
Itulah iblis punya penggawa

Kepada segala hamba-hamba raja
Di situlah syaitan tempatnya manja

Kebanyakan orang yang muda-muda
Di situlah syaitan tempat bergoda

Perkumpulan laki-laki dengan perempuan
Di situlah syaitan punya jamuan

Adapun orang tua(h) yang hemat
Syaitan tak suka membuat sahabat

Jika orang muda kuat berguru
Dengan syaitan jadi berseteru

10
INI GURINDAM PASAL YANG KESEPULUH

Dengan bapa jangan derhaka
Supaya Allah tidak murka

Dengan ibu hendaklah hormat
Supaya badan dapat selamat

Dengan anak janganlah lalai
Supaya boleh naik ke tengah balai

Dengan kawan hendaklah adil
Supaya tangannya jadi kapil

11
INI GURINDAM PASAL YANG KESEBELAS

Hendaklah berjasa
Kepada yang sebangsa

Hendak jadi kepala
Buang perangai yang cela

Hendaklah memegang amanat
Buanglah khianat

Hendak marah
Dahulukan hujjah

Hendak dimalui
Jangan memalui

Hendak ramai
Murahkan perangai

12
INI GURINDAM PASAL YANG KEDUABELAS

Raja mufakat dengan menteri
Seperti kebun berpagarkan duri

Betul hati kepada raja
Tanda jadi sebarang kerja

Hukum adil atas rakyat
Tanda raja beroleh inayat

Kasihkan orang yang berilmu
Tanda rahmat atas dirimu

Hormat akan orang yang pandai
Tanda mengenal kasa dan cindai

Ingatkan dirinya mati
Itulah asal berbuat bakti

Akhirat itu terlalu nyata
Kepada hati yang tidak buta

Tamatlah gurindam yang duabelas pasal yaitu karangan kita
Raja Ali Haji pada tahun Hijrah Nabi kita seribu
dua ratus enam puluh tiga kepada tiga likur
hari bulan Rajab Selasa jam pukul lima
Negeri Riau Pulau Penyengat

Dibuat oleh Raja Ali Haji yang merupakan pemimpin, ulubalang, dan ulama di kawasan ini, Gurindam 12 merupakan mahakarya tidak hanya bagi kesultanan Melayu-Riau, namun juga bagi peradaban Melayu secara keseluruhan. Hampir sepanjang hidupnya (1727-1784) pujangga Melayu ini dilalui dengan berperang terhadap penjajah Belanda. Beliau mangkat dalam satu pertempuran hebat di teluk Ketapang, dan digelari Raja Haji Fisabilillah Marhum Teluk Ketapang. Beliau dimakamkan di Malaka, namun baru beberapa tahun kemudian dikebumikan di Pulau Penyengat, pusat kesultanan Melayu-Riau. Hal yang menunjukkan bahwa Melayu-Riau secara kultural memang bagian dari peradaban Melayu secara keseluruhan bersama Malaysia, Singapura, dan Brunei.

Mirip dengan marwah-nya orang Aceh, orang Melayu pun sangat menjunjung tinggi marwah, “lebih baik mati berselimutkan tanah daripada hidup tiada marwah” pesan almarhum nenek suatu saat ketika penulis masih kecil. Tapi tampaknya penulis pun sudah jauh dari kebudayaan itu, bahkan kalau patokannya semua orang Melayu harus bisa berpantun, maka penulis gagal di tahap ini. Kalau patokannya semua orang Melayu harus bisa silat, penulis juga gagal memenuhi syarat ini, Kalau patokannya semua orang Melayu harus bisa baca Al-Quran, penulis yang hanya bisa mengeja kitab suci tersebut dengan terbata-bata juga tidak memenuhi kualifikasi. Penulis hanya mengikuti kegemaran orang Melayu akan masakan laut yang pedas itu :P . Menyedihkan memang, namun seorang anak manusia tidak boleh lupa atas akarnya sendiri, dan mau terpisah seperti apapun penulis terhadap tanah kelahiran, selama penulis masih seorang Muslim maka penulis juga masih seorang Melayu… dan seorang Indonesia tentunya :) .

p.s: dibuat untuk mengobati rasa kangen penulis terhadap tanah kelahiran… menjelang tahun ketiga tidak mudik waktu lebaran :(

Data pada tulisan ini diambil dari blog Ismu Surizan, saudara sekampung penulis yang juga perantauan… seperti juga penulis :)

“Takkan Hilang Melayu di Bumi”

-Melayu proverb-

Alkisah seorang dosen yang sedang berada di usia paruh baya sedang berjalan-jalan di sebuah kota tempatnya berjuang untuk mendapatkan gelar PhD atau Doktor… Walaupun sang dosen mendapatkan beasiswa yang lebih dari cukup, namun tetap sebagai seorang perantauan, beliau harus berhemat, sampai kemudian sang dosen melihat sebuah majalah di toko buku. Hmm sebuah majalah National Geographic terbitan bulan ini, secara naluriah terbitlah keinginan sang dosen untuk memiliki majalah ini… setelah bingung sejenak mempertentangkan keinginannya untuk membaca buku tersebut dengan kebutuhannya bulan ini… akhirnya masuklah sang dosen ke dalam toko buku tersebut dan membeli majalah tersebut.Sepulangnya dari toko buku tersebut, sang dosen dengan segera membaca dan segera jatuh cinta pada majalah ini, setelah membacanya diletakkanlah majalah tersebut dengan rapi di suatu tempat.

Semenjak itu, sang dosen selalu mengusahakan untuk menabung lebih banyak lagi pada hari-harinya agar dapat berlangganan secara teratur majalah tersebut. Hari berganti bulan, dan bulan pun berganti tahun, penelitian sang dosen pun berjalan dengan baik, sebuah gelar terhormat dari institusi pendidikan di negri orang pun ia sandang… “Saatnya mengabdi pada negaraku” mungkin begitu yang beliau pikir, dan bergegaslah ia mengemasi segala keperluannya untuk kembali pulang ke tanah air… Sampai akhirnya ia tersadar tumpukan majalah yang telah beliau kumpulkan dan rawat sampai saat ini, sedikit terteguh beliau akan cukup banyaknya tumpukan koleksinya tersebut. Dengan setengah memaksa, si dosen pun mulai menata ulang benda-benda yang harus ia bawa… Mungkin beliau harus merelakan beberapa kenang-kenangan atau bahkan baju agar tumpukan majalah tersebut bisa dibawa ke tanah air… Maklum sama seperti sekarang, maskapai penerbangan apalagi di negri asing ini dikenal disiplin menerapkan aturan yang ketat dalam berat bagasi penumpangnya. Dan akhirnya pulanglah sang dosen ke negri yang dicintainya.

Ketika sang dosen pulang ke tanah airnya, disambutlah beliau dengan suka-cita oleh keluarganya. Betapa besar pengorbanan yang harus diberikan sang dosen agar dapat menjadi akademisi yang lebih baik bagi bangsanya. Di tengah kesibukan mengajarnya, akhirnya sang dosen dapat membeli… eh mencicil sebuah rumah bagi keluarganya. Di dalam rumah tersebut sang dosen pun menyekat satu ruangan… “Untuk dijadikan perpustakaan” bilangnya. Dan sebagai penghuni pertama perpustakaan yang lebih mirip disebut gudang buku tersebut koleksi majalah National Geographic yang telah ia kumpulkan selama ia berjuang di negri orang. Dan seiring waktu, makin banyak pula isi dari perpustakaan mungil tersebut… Tumpukan yang menunjukkan kecintaan sang dosen terhadap ilmu yang ada di dunia ini.

Dan yang seperti penulis ilustrasikan… hari berganti bulan… bulan berganti tahun… dan tahun berganti tahun berikutnya :P . Semakin uzurlah umur si dosen, tampak semakin lemahlah beliau dalam menunaikan cita-citanya tersebut… Dan sampai pada suatu titik dimana Sang Pencipta memanggilnya untuk menyudahi tugasnya yang mulia di dunia ini. Jasadnya telah dikubur di tanah negrinya… namun peninggalannya masih ada… Perpustakaan kecil tersebut. Dalam waktu yang tidak terlalu lama dari wafatnya sang dosen, keluarganya membutuhkan ruangan kecil tersebut, akhirnya diundanglah beberapa mahasiswa serta teman-teman sang dosen tersebut, dan mereka dibiarkan mengambil buku-buku isi perpustakaan kecil tersebut, “mudah-mudahan dapat lebih berguna di tangan mereka, mungkin ini juga yang Bapak inginkan” mungkin begitu pikir anggota keluarga sang dosen. Setumpuk demi setumpuk buku telah mendapatkan tuan mereka yang baru, sampai ke tumpukan terbawah, dimana koleksi majalah National Geographic yang menjadi teman bacaan sang dosen selama menuntut ilmu, koleksi majalah yang disisihkan dari uang beasiswa yang diterimanya, namun sayang… tidak ada yang tertarik dengan kumpulan majalah ini. Oleh keluarga, kumpulan majalah ini kemudian dijual ke seorang Bapak separuh baya pula yang memang berjualan buku-buku lama. Dan kumpulan majalah inipun menemui tuannya yang baru… Entah sampai kapan.

Namun suatu hari, seorang pemuda eh ABG-yang keren- :P , berjalan melewati jalan tersebut… terlihatlah sekilas olehnya akan majalah yang disukainya namun sangat jarang dibelinya karena keterbatasan uang saku yang diberikan orang tuanya. Setelah berbincang-bincang dengan si penjual buku tersebut akhirnya berpindahlah tanganlah majalah yang pas 27 tahun tambah satu hari yang lalu (Agustus 1980 sd 1 September 2007) dibaca oleh sang dosen di negri yang jauh. Akhirnya pemuda eh ABG-yang keren- :P yang berkuliah… eh udah lulus ding dari almamater tempat sang dosen mengabdi adalah tuan berikutnya dari perjalanan majalah ini… entah sampai kapan…

Kisah diatas memang cuman rekaan penulis… tentu kecuali bagian si pemuda eh ABG yang keren itu :P . Tapi setidaknya itulah yang terbayang di benak penulis ketika berbincang-bincang dengan Bapak penjual buku lama tersebut ketika penulis mendengar jawaban dari si Bapak mengenai asal majalah tersebut… “Dari perpustakaan dosen Dek, dosen ITB juga, baru aja meninggal” entah dari mana si Bapak penjual tahu bahwa penulis adalah mahasiswa eh mantan mahasiswa dari institusi pendidikan itu juga. Karena gambaran itu juga, penulis memutuskan tidak menawar harga majalah tersebut, namun Rp 7500,00 tentu masih jauh lebih murah dibandingkan edisi terbaru National Geographic yang edisi Indonesia sekalipun yang berkisar 40 ribu rupiah… Harga yang membuat penulis hanya bisa ngeliat dari jauh… cover dari terbitan majalah keren itu tiap bulan. Well… memang dari awal itu bukan majalah mahasiswa… di Indonesia tentunya :P .

Namun ketika membaca majalah yang umurnya lebih tua 3 tahun dari penulis tersebut, penulis serasa memasuki dunia lain… Dunia yang kata orang dulu dikenal dengan sebutan “The 80’s”. Dan topik yang dibahas pada saat itu adalah adalah mengenai air yang merupakan “our most precious resource”, dibahas dengan renyah, cara pembahasan khas NG yang tidak berubah oleh zaman… dan jangan lupa… kumpulan foto beresolusi tinggi yang diambil oleh fotografer terbaik dibidangnya yang juga khas NG, dan satu hal juga yang paling penting, visi dari majalah ini yang memandang dunia sebagai satu kesatuan tak terpisahkan yang saling unik… juga khas NG… 3 hal utama yang membuat majalah ini spesial tapi juga berakibat harga majalah ini diluar jangkauan penulis :( . Majalah ini memang tipe-tipe majalah yang mempunyai karakter sehingga ga heran majalah ini bisa bertahan dari tahun 1888.

Tapi majalah ini bukan majalah pertama yang penulis kumpulkan karena faktor historisnya. Sebelumnya penulis juga membeli… well Mama penulis sih yang beliin, suatu majalah yang menghebohkan Indonesia. Majalah yang waktu itu, sangat kontroversial di Indonesia… yup Playboy versi Indonesia :D . Berawal dari asumsi, bakal terjadi kerusuhan yang luar biasa ketika mendengar akan keluar majalah Playboy di negri yang penduduknya mengaku masih religius ini… majalah yang sampai saat ini hanya dilegalkan di Jepang untuk kawasan Asia, di negara yang juga melegalkan industri video porno tersebut… Dan Indonesia mengikuti sebagai negara kedua di Asia yang bakal menerbitkan majalah tersebut. Berikut pemikiran penulis pada saat itu… begitu majalah itu diterbitkan maka terbayang organisasi dari mulai MUI sampai FPI… pokoknya semua organisasi yang mengaku mewakili hati nurani masyarakat pasti berontak… dan terbayang sampai satu titik ketika semua pihak keukeuh terhadap jalan pemikirannya… dan berdasarkan silmulasi di otak penulis maka pihak playboy akan kalah dan menutup usahanya… Dan kalo kalah… maka… dapat dibayangkan betapa berharganya majalah playboy Indonesia edisi pertama yang kemudian tidak ada edisi keduanya tersebut. Dengan perhitungan investasi tersebut penulis bersikukuh untuk membeli edisi pertama playboy Indonesia tersebut… Dan ketika penulis menemui kesulitan dalam mencari majalah tersebut datanglah pertolongan berupa telpon dari Mama penulis… “Mas… Mama lagi jalan di Blok M nih… mau dibeliin ga playboynya?”… Hore memang jodoh ga lari kemana deh, seketika penulis mengiyakan, dan ketika ortu penulis ke Bandung majalah tersebut pun diserahkan ke penulis. Dengan segera penulis membungkus majalah tersebut… padahal segel majalah tersebut masih ada dengan plastik lain dan segera menyimpannya di dalam lemari… Dan genaplah penulis sebagai salah satu pemilik majalah menghebohkan tersebut.

Ada cerita menarik ketika Mama penulis membelikan majalah tersebut, ketika Mama melihat isi jualan dari penjual majalah tersebut… tanpa basa-basi Mama penulis langsung bertanya “Bang, ada playboy ga?”… Dan katanya mendadak kagetlah si Abang penjual majalah… Dengan raut muka yang tidak yakin, si penjual tidak mengakui ia mempunyai majalah tersebut (mungkin dipikirnya Nyokapku itu mau sweeping playboy kali ya :P )… Tapi memang Nyokapku itu keras kepala, terus aja didesak, sampai si Abang penjual tersebut bertanya “Emang buat siapa Bu majalahnya?”, dan dengan jujur Nyokapku menjawab “Buat anak saya…”, gubrak semakin ga berbentuk aja raut muka si Abang penjual majalah dan dengan terpaksa si Abang penjual majalah memberikan majalah playboy edisi perdana yang ternyata disimpan di sebuah kardus khusus dengan harga normal Bro… Mendengar cerita itu kontan penulis terbahak-bahak… Memang uhuy deh perjuangan seorang Bunda demi anaknya :P . Walaupun kemudian terjadi kerusuhan… seperti yang penulis prediksikan… Namun ternyata Playboy Indonesia lebih pintar dan memindahkan kantornya ke Bali… Solusi yang sangat cerdas… walaupun terjadi miss-prediction dan penulis tidak jadi kaya mendadak, sampai sekarangpun majalah edisi perdana tersebut masih disegel tanpa belum pernah dibuka… walaupun sekarang sudah penulis titipkan di rumah orang tua di Bekasi, dengan wanti-wanti agar majalah ini jgn pernah dibuka… entah sampai kapan… Sayang untuk beberapa majalah keren lainnya seperti National Geographic Indonesia penulis tidak mendapatkan edisi perdananya karena kurangnya promosi. Sayang… sangat disayangkan memang… :(

Oh ya berikut ini kutipan yang diambil dari majalah National Geographic edisi August 1980 (kutipan yang sangat khas National Geographic) yang sekarang penulis miliki… semoga bisa memberikan pencerahan bagi kita semua… Amien

Water, the wonder fluid

For a BREW that’s colorless, tasteless, odorless, and calorie free, water packs a punch.

It is the only substance necessary to all life; many organisms can live without oxygen, but none can live without water.

It comes closest to being the universal solvent; while you drink from a tumbler, the water is busily dissolving molecules from your glass.

It travels upwards in defiance of gravity. So strongly do water molecules adhere to one another that when one evaporates from the leaf of a tree, it pulls up those behind like links of a chain. This molecular attraction forms the surface film on which water bugs race without wetting their feet, and which permits you to float a darning needle atop a glass of water.

p.s: Untuk dosen pemilik majalah ini sebelumnya… penulis hanya bisa mendoakan semoga beliau diterima di sisi-Nya… AMIEN

National Geographic, August 1980

National Geographic August 1980 edition