Salah satu dari sedikit hobi… kalau bisa dikategorikan sebagai hobi adalah internet. Bermula dari patungan anak-anak di kosan yang lama, maka online lah kosan kami saat itu. Berbagai kegiatan yang dulunya cuman mimpi, seperti ngecek email dari kamar, browsing dari kamar, chatting dari kamar, ngebokep dari kamar, pokoknya dsb dari kamar dapat terwujud. Wah seneng bgt lah seakan-akan dunia maya itu ada di atas meja kaya di film2 barat aja. Dan saking asiknya, dan ditunjang dengan kegiatan penulis yang 0 sks pada saat itu, jadi deh hampir seharian selama satu semester itu, penulis hanya hidup di kamar. Keluar kamar hanya untuk mandi, nonton TV, beli makan dan keperluan buat TA… Suatu kegiatan hidup yang sebenarnya ga terlalu baik buat dicontoh. Tapi dengan kekuatan patungan, harga internet kala itu cukup terjangkau… hanya 50 ribu sebulan.
Ketika penulis berpindah kos, penulis pun baru menyadari bahwa penulis sudah tercandu oleh kebiasaan yang kurang sehat tersebut. Sampai akhirnya penulis berpatungan dengan seorang teman kosan, untuk menghadirkan internet di kosan. Alhasil setelah mencari sekian banyak kemungkinan yang visible bagi kami berdua maka kami memilih koneksi gprs kelas 10 unlimited up to 64 kbps dari Centrin dengan memakai jaringan 3G XL dengan ongkos perbulan sekitar 275 ribu. Bayangkan dengan koneksi yang cuman 64 kbps it… dibagi 2 pula dengan arsitektur peer to peer (memakai hp pinjeman Adek pulak
)… penulis mengarungi dunia maya. Sebenarnya kebutuhan penulis akan internet tidak terlalu besar, penulis mendapat akses internet gratis karena ikut membantu riset di lskk-elektro ITB yang terhubung dengan jaringan speedy… Speedy lho bukan AI3, sehingga masalah-masalah klasik seperti penjaga cumi dsb itu tidak ada. Hal yang cukup menyenangkan sebenarnya… tapi dikarenakan penulis tidak terlalu senang berlama-lama di JCC maka terpaksa penulis memaksakan hadirnya internet di kosan ini juga. Yah untungnya sih, duit riset dll itu udah cair, sehingga pengeluaran ini sedikit banyak bisa diatasi.
Berbicara mengenai internet di Indonesia memang kyaknya ga ada habis-habisnya. Berdasarkan perbincangan dari teman-teman yang melanjutkan pendidikan ke luar, ternyata penulis menyadari bahwa yang di film-film itu ternyata beneran. Infrastruktur di Eropa dan Asia Timur sudah lebih dari cukup untuk dapat streaming you tube dsb… hal yang sebenarnya masih mimpi disini. Itupun dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan yang mereka bayar… Bayangkan kualitas yang jauh lebih bagus dengan harga yang lebih murah di negara yang lebih makmur dari Indonesia. Bener-bener udah kaya lingkaran setan aja. Kira-kira berikut lingkaran setannya:
infrastruktur ga ada + daya beli rendah -> harga setup awal internet mahal -> sedikit yang pakai internet -> pasar kecil, swasta tidak mau mengembangkan infrastruktur -> harga internet tetap mahal.
Kalau di negara maju, mungkin berikut lingkaran malaikatnya:
infrastruktur memadai + daya beli tinggi -> harga setup awal internet tidak terlalu mahal -> banyak yang pake internet -> pasar besar, swasta mengembangkan infrastruktur -> harga internet tambah murah
Kalau gini gimana rakyat Indonesia bisa melek teknologi kalau udah stack kaya gini? Padahal sebenernya karir Indonesia di bidang pertelekomunikasian lumayan gemilang lho, kalau ga salah satelit palapa itu telah menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga di dunia atau Asia Pasifik gitu yang punya satelit telekomunikasi. Walaupun udah lama tapi tetap sebenarnya kita pernah punya momentum seperti itu, tapi sayang kita jalan di tempat hingga sekarang ini. Tapi kemarin waktu bongkar-bongkar internet, terbesit sebuah kabar gembira… Diantara penyedia layanan internet yang cenderung oligopoli yang mengontrol tarif dengan ketat ada sebuah ISP (First Media) yang relatif baru mencoba mendobrak sistem kartel tersebut. Bayangkan ISP tersebut dapat menawarkan koneksi internet upto 384 kbps dengan harga 99 ribu rupiah??? Untuk yang 512 kbps dibandrol dengan harga 195 ribu… perbandingan dengan ISP Melsa yang dipakai penulis di kosan lama mengenakan tarif sekitar 690 ribu untuk bandwith yang sama. Keren bgt… Tapi sayang kyaknya lingkup cakupan dari fastnet ini masih di Jakarta dan sekitarnya saja, sedangkan Bandung seperti yang sudah-sudah kyaknya bakal tertinggal
. Fenomena yang sangat menarik sebenarnya dimana kita ingat kasusnya Hutchitson (bener ga ya penulisannya?) yang membanderol sms seharga 0 rupiah. Keren bgt ga tuh? Ini merupakan tamparan keras bagi para telco company di Indonesia yang untung gila-gilaan dari pasar penyedia yang oligopoli kalau ga bisa dibilang kartel sih. Tapi salut deh buat para pendobrak ini, kalau ga ada para pendobrak ini kyaknya bakal lama bgt tarif telekomunikasi dan internet akan turun, tapi dengan adanya perusahaan2 seperti ini dan mungkin rencana palapa ring… mudah2an dalam waktu yang ga terlalu lama lagi ongkos telekomunikasi dan internet di Indonesia bisa turun dengan drastis dan penulis bisa lebih intens lagi dalam menjelajahi internet, sehingga mungkin penulis bisa main-main di youtube atau google earth dengan harga yang relatif terjangkau.









