November 2007


First of all, it’s not that I’m an unlegalized person, I was born in legal family according to my religion ritual and my nation policy (just to make sure otre :P ). But the legal thing that I meant in this thread is the software things. As you all knew that Indonesia is infamous to it’s piracy, and software piracy is one of the problems. As an actively computer user, I too have my days on pirating software. But as an informatics, it is not very ethical to me to pirates softwares, pirating software it’s like an an amateur actress trying to pirate a Leonardo Da Vinci’s Monalisa in art world. So to be an ethical informatics engineer, I try to change my proprietary (pirated) software into other software that is non proprietary. The process really is a big step to me, me (and the others software pirates) is too addicted to proprietary software. But what I do is I try to is replace a proprietary software with non proprietary software that has same function. What I mean in with “proprietary” is not just about charged software but also free software that are not open source.

So after a while, this is my progress:

  1. Editor: I changed my pirated Ultraedit with open source Notepad++. Despite this editor is used to replace Windows notepad but it works nicely as a powerful editor. But unfortunately notepad++ doesn’t has JSP plugin, but besides that stuff this is very powerful editor.
  2. Music Player: I changed my free-close source Winamp into free-open source Foobar. Foobar have many advantages if you compare with winamp, and if you care to appearance, you can edited Foobar appearance into very nice Foobar.
  3. Movie Player: I choose Media Player Classic than Windows Media Player. With appropriate codec from klm codec (open source codec) I almost can play anything :)
  4. Browser: I changed my old Windows Internet Explorer into open source Mozzila Firefox. Well what can I say? Firefox is far more powerful that Windows Internet Explorer.
  5. Download Accelerator: I changed Download Accelerator Plus with Free Download Manager.
  6. Antivirus: I changed Norton Antivirus with AVG Free Antivirus.
  7. Instant Messenger: I changed free-close source yahoo messenger with free-open source pidgin, multiprotocol instant messenger to me is indeed hard to resist.
  8. Office: I installed Open Office, even though I almost never used it, but my Microsoft Office has been legalized (Rp 10.000 campus agreement :P ).
  9. Email application: I used Mozilla Thunderbird instead Windows Outlook.
  10. Image Processing: Because I’m not an actress, I am satisfied with using GIMP alone :P .
  11. OS: I legalized my Windows XP (also with campus agreement) and installed OpenSUSE Linux as my secondary OS

Talking about open source is not just about talking about free cost software, but also freedom to access and modified the source code. I quote words from notepad++ site “free as in ‘free speech’, but also as in ‘free beer’”. A good words isn’t it? So if you love “free speech” as big as “free beer” than maybe open source is the right thing for you ;)

Laskar Pelangi

Baru baca novel Laskar Pelangi. Udah hampir satu semesteran ini penulis males membaca novel yang “berbobot”, ntah mengapa tapi hal itu terjadi… Beberapa novel yang lumayan serius seperti My Name is Red, Dante Club, Harry Potter, dan beberapa novel lain yang sejenisnya tidak tersentuh oleh penulis. Hal yang agak aneh sih, soalnya penulis sejak SMP relatif lebih menggemari jenis novel itu dengan pengecualian kepada lupus yang melegenda itu :D . Namun akhir-akhir ini penulis sudah kehilangan minat untuk membaca, dari kecuali komik kali ya :P . Tapi dikarenakan sekitar sebulan yang lalu, novel ini diulas secara khusus di acara Kick Andy, acara talkshow yang menurut penulis paling berbobot di Indonesia, belum lagi desakan dari teman baik penulis yang terus mempromosikan novel ini, maka itu sekitar sebulan yang lalu penulis membeli buku tersebut. Namun dibutuhkan waktu sebulan kemudian untuk membaca novel ini dikarenakan kemalasan yang ga jelas tadi, sampai tadi siang di tengah bingung mau ngapain siang2, akhirnya penulis memutuskan untuk membaca sembari berbaring. Toh kalau memang tidak bagus penulis bisa melempar novel tersebut dan langsung tidur di ranjang… Tapi prediksi ini meleset karena untuk 8 jam ke depannya penulis terpaksa menahan kantuk demi menyelesaikan novel setebal 528 halaman (hiks ga bisa tidur siang :( ). Berikut hal yang ingin penulis sampaikan.

Secara penulisan harus diakui bahwa novel ini sangat baik. Dengan pemilihan kata2 yang tepat dan dengan banyak bahasa Melayu yang baik sehingga tidak membingungkan serasa pembaca dapat mengikuti novel ini dengan bahasa induk dari kisah ini yaitu bahasa Melayu. Dari segi alur walaupun cuman satu arah, namun harus diakui penulis novel ini sangat lihai dalam membawakan cerita sehingga humor dan tragedi serta satir dapat dikemas dengan jarak yang dekat… Hal yang sangat tidak mudah menurut penulis. Dari segi tema, penulis novel ini sukses dalam menyampaikan sudut pandangnya. Ketidakadilan dalam proses pembangunan dapat dikemas dengan sangat baik dan langsung menohok ke hati nurani. Pengkarakteran tokoh2 dalam novel ini juga sangat kuat terutama orang Melayunya (hihihi bener2 ciri khas orang Melayu bgtlah :P ), seingat penulis ini salah satu novel Indonesia yang pernah penulis baca dengan pengkarakteran yang demikian kuat, sekuat novel Saman dan Larung. Namun tentu saja buku ini juga banyak kelemahan dan ketidakmasukakalannya namun yah masih bisa dimaklumilah walaupun tetap merasa menganggu.

Tapi cukuplah mengenai teknis dari novel ini karena sesungguhnya penulis tidak punya cukup kapabilitas untuk menilainya (namanya juga sotoy :P ), namun penulis tentu punya sudut pandang sendiri. Penulis cukup lama hidup di Bangka malah merupakan tempat terlama penulis meninggali suatu tempat (7 tahun boo). Bangka yang merupakan pulau tetangga Belitung memiliki keadaan yang hampir sama. Sama2 daerah tambang timah, sama2 besar proporsi suku Tionghoa, suku asli yang termarginalkan, perusahaan tambang yang maruk dsb. Namun penulis tidak dapat bercerita banyak mengenai suku asli yang termarginalkan karena penulis berada dalam lingkungan perusahaan tambang yang maruk tersebut. Penulis masih terlalu kecil ketika itu (sampai umur 7 tahun ketika itu) untuk mengamati fenomena sosial itu, walaupun waktu itu rumah penulis berada di dekat pantai dan penulis sangat suka bermain di pantai, namun sayang penulis tidak pernah mengamati kehidupan nelayan di daerah tersebut. Membaca novel ini menelurkan kritik yang sangat tajam terutama kepada Pemerintah Indonesia dan para perusahaan tambang yang ketika itu (atau masih ya?) terus saja memarginalkan penduduk dari daerah tambang yang kaya. Hal sama yang penulis temui tidak saja di Bangka, namun juga Papua, Kalimantan Timur, dan mungkin daerah tambang lain seperti Natuna, Sangata dsb. Betapa ketidakadilan dari pemerintah pusat yang dahulu terus menerus merampok bumi daerah tanpa memberikan hasil yang layak terhadap daerah tersebut. Kesalahan besar yang sebenarnya menyulut disintegrasi karena ketidakpuasan daerah, tapi Alhamdulillah masa 32 tahun ketidakadilan itu sudah berlalu. Walaupun titik berat novel ini (menurut penulis) adalah pada kritik terhadap ketidakadilan masyarakat daerah, namun novel ini juga banyak menawarkan hal lain seperti: perjuangan dalam mengatasi keterbatasan, kisah cinta yang sangat lugu dan menohok, penjabaran ilmu pengetahuan secara baik, pentingnya agama dan pendidikan, sindiran terhadap korupsi, persahabatan yang sangat indah dari para tokoh utamanya dan lain sebagainya. Banyak sekali yang bisa didapatkan dari novel setebal 528 halaman ini, dan semua hal ini dikemas dengan keunggulan penceritaan yang baik… Salut pada Andrea Hirata sebagai penulis novel ini, kyaknya Anda memang calon penulis yang besar. Sangat senang bisa membaca novel yang benar2 bisa memberikan inspirasi.

Semoga Lintang dan 10 laskar pelangi lainnya adalah dosa terakhir negara ini terhadap anugrah yang Tuhan berikan di tanah ini, kebobrokan mungkin boleh masih menjajah negri ini, tapi kehilangan seorang bocah seperti Lintang dan 10 anggota laskar pelangi lainnya sungguh terlalu menyedihkan. Just to be able to have a good education without thinking about anything else sometimes is indeed a big dream to another child, a gift that sometimes we didn’t even notice in our enjoyable life. Don’t waste our chances my friend, we indeed owe them a big favor :)

p.s: Tapi satu yang penulis ingin tanyakan, kenapa Flo tidak meminta bantuan ayahnya yang kaya raya untuk membantu Lintang yang sedang kesulitan? Hehehe spoiler gini :P untuk yang belum baca, baca ya… recommended book nih :)

Multiply Anderea Hinata