December 2007


(9:55:44 PM) Freddy: I’ll give my shoulders to cry on
(9:55:45 PM) Freddy: ;)
(9:56:08 PM) xxxxxxx: thx
(9:56:08 PM) xxxxxxx: :)
(9:56:24 PM) Freddy: :D
(9:57:23 PM) xxxxxxx: hehehhe
(9:57:47 PM) Freddy: gitu dong ketawa ;)
(9:58:19 PM) xxxxxxx: kan tulisannya doang
(9:58:24 PM) xxxxxxx: hehehehehee….
(9:58:50 PM) Freddy: wew
(9:59:41 PM) Freddy: what can I do to make smile?
(9:59:48 PM) Freddy: B-)
(10:00:11 PM) xxxxxxx: ajak gw kliling dunia 3x
(10:00:15 PM) xxxxxxx: :)
(10:01:10 PM) Freddy: without using my super strength…
(10:01:13 PM) Freddy: anything?
(10:01:15 PM) Freddy: :D
(10:02:14 PM) xxxxxxx: supermen ga mutu
(10:02:23 PM) xxxxxxx: jd permen aja d lu
(10:02:43 PM) Freddy: if it’s make you happy
(10:02:44 PM) Freddy: :)
(10:03:58 PM) xxxxxxx: mo permen aja deh
(10:04:05 PM) xxxxxxx: tp yg dr bulan
(10:04:52 PM) Freddy: what can I do as a man
(10:04:57 PM) Freddy: not superman :D
(10:05:28 PM) xxxxxxx: be a superman
(10:05:30 PM) xxxxxxx: :D
(10:06:08 PM) Freddy: if I can’t make you happy as a man
(10:06:16 PM) Freddy: then I will never make you happy as a superman
(10:06:20 PM) Freddy: :)
(10:06:30 PM) xxxxxxx: gt yaa???
(10:06:36 PM) xxxxxxx: koq gt??
(10:06:49 PM) xxxxxxx: brarti ga guna donk supermen
(10:07:09 PM) Freddy: I’m still an ordinary man
(10:07:15 PM) Freddy: have one heart
(10:07:20 PM) Freddy: :D
(10:07:54 PM) xxxxxxx: wit 4 chambers
(10:08:24 PM) Freddy: but still it’s only enough for one love
(10:08:27 PM) Freddy: ;)
(10:09:29 PM) xxxxxxx: hahahahha…
(10:09:52 PM) Freddy: you laugh again…
(10:09:54 PM) Freddy: :)
(10:10:30 PM) xxxxxxx: bcos of u
(10:11:06 PM) Freddy: thanx :D
(10:11:19 PM) xxxxxxx: :)
(10:11:39 PM) Freddy: :)
(10:12:26 PM) xxxxxxx: hehehehe…
(10:12:52 PM) Freddy: :)
(10:13:02 PM) xxxxxxx: senyum mulu lo
(10:13:14 PM) xxxxxxx: jd laper nih gw
(10:13:35 PM) Freddy: mau gw suapin?
(10:13:53 PM) xxxxxxx: mauu!!!
(10:14:20 PM) Freddy: say AAAA
(10:14:40 PM) xxxxxxx: AAAAAAAAAAAAAAA
(10:14:51 PM) xxxxxxx: suapin apa dl nihh??
(10:15:50 PM) Freddy: heh
(10:15:54 PM) Freddy: lu nya maunya apaan?
(10:16:51 PM) xxxxxxx: mau apa yaa???
(10:16:53 PM) xxxxxxx: pokoknya laper
(10:17:26 PM) Freddy: lho kan lu yang laper
(10:17:33 PM) Freddy: gw kan cuman nyuapin ;)
(10:17:48 PM) xxxxxxx: hehehehe
(10:17:59 PM) xxxxxxx: lo nyuapin angin
(10:18:25 PM) Freddy: selama angin itu bisa mendinginkan hatimu
(10:18:28 PM) Freddy: kenapa tidak
(10:18:35 PM) Freddy: :)
(10:19:11 PM) xxxxxxx: dpt dr mana lo kata2 itu?
(10:19:37 PM) Freddy: dari hati gw
(10:19:49 PM) Freddy: bukankah hati yang mengerti apa yang dibutuhkan hati yang lain
(10:19:52 PM) Freddy: :)
(10:20:01 PM) xxxxxxx: :)
(10:20:09 PM) xxxxxxx: yaaahh…tumben lo bner
(10:20:12 PM) xxxxxxx: :)
(10:20:40 PM) Freddy: lho
(10:20:44 PM) Freddy: kok tumben sih
(10:20:51 PM) Freddy: gw kan “pengertian”
(10:20:53 PM) Freddy: :D
(10:21:17 PM) xxxxxxx: hahahhaha…
(10:21:42 PM) Freddy: tuh ketawa lagi
(10:21:47 PM) Freddy: manis kan kalo ketawa
(10:21:49 PM) Freddy: :)
(10:22:23 PM) xxxxxxx: :)
(10:22:57 PM) Freddy: :)
(10:24:49 PM) xxxxxxx: fredy thx yakk
(10:25:01 PM) Freddy: no probs
(10:25:07 PM) Freddy: anything for a friend
(10:25:09 PM) Freddy: :)
(10:25:21 PM) xxxxxxx: :)
(10:25:38 PM) Freddy: :)
(10:26:22 PM) xxxxxxx: gw dah ngrasa lbh baek
(10:26:39 PM) Freddy: glad to hear that
(10:26:43 PM) Freddy: :)
(10:26:55 PM) xxxxxxx: makasi yaakkk
(10:27:11 PM) Freddy: no probs :)
(10:35:25 PM) xxxxxxx: gw hrs kembali bikin tugas nihh
(10:35:31 PM) xxxxxxx: huhhuhu…
(10:37:27 PM) Freddy: hehehe
(10:37:35 PM) Freddy: kalo itu gw ga bisa bantu
(10:37:37 PM) Freddy: :)
(10:38:11 PM) xxxxxxx: yg td dah cukup bgt koq
(10:38:14 PM) xxxxxxx: :)
(10:38:20 PM) Freddy: glad to hear that
(10:38:22 PM) Freddy: :)

bwakakakaka gombal ga tuh? :D . Tapi cukup menyenangkan bisa membantu seorang teman. Satu hal yang cukup mengganguku, kenapa hampir semua wanita selalu berpikir terlalu rumit, terlalu panjang, dan terlalu jauh? Hmm… yah maybe they were meant that way kali ya…. alah sotoy bgt gw :D

Berpisah selama lebih dari 17 tahun dari sebuah tempat yang kamu pikir tidak akan kamu bisa temui lagi tentu sebuah anugrah… well setidaknya bagi penulis sih :) . Dan itulah yang terjadi, ketika penulis berkesempatan untuk kembali ke tempat yang turut membesarkan penulis selama 7 tahun, tempat terlama yang penulis pernah tinggali, yaitu kota Koba di pulau Bangka.

Pulau Bangka sangat unik, dalam artian pulau ini kaya dengan barang tambang yang cukup langka, yaitu timah. Mungkin kalo ingin mengetahui keadaan pulau Bangka ada baiknya jika membaca novel Laskar Pelangi, walaupun seting pada novel itu menceritakan mengenai pulau Belitung, namun dikarenakan keadaan geografis kedua pulau ini yang saling bertetangga maka keadaanya pun tidak jauh berbeda. Back to topik, Ayah penulis bekerja pada perusahaan penambangan timah di pulau Bangka di kota Koba. Kota ini merupakan kota yang didirikan perusahaan tambang, seperti: Kuala Kencana, Bontang, maupun Tembagapura. Di kota ini relatif segala hal disediakan, dari mulai sekolah, tempat olahraga, klinik, dsb. Dan relatif 7 tahun pertama hidup penulis dilalui di tempat ini.

Melihat pemandangan di mata seorang anak sekitar 5 tahun ternyata sangat berbeda dengan pandangan seorang pemuda (hehehe) berumur 23 tahun. Rumah yang dulu terlihat sangat besar sekarang tidak terlihat terlalu besar. Jalan2 yang dulu dilalui ternyata tidak sejauh yang penulis pikir. Intinya segalanya tampak menciut seiring dengan semakin besarnya penulis. 17 tahun ternyata bukan waktu yang terlalu lama untuk kota ini, hampir tidak ada perubahan berarti, jalan, tempat, dan gedung semua masih terekam jelas, yang berbeda mungkin hanya penambahan pagar kawat yang melingkupi lingkungan kompleks sisa kerusuhan perusahaan dengan warga sekitar dan banyaknya infrastruktur yang tidak terurus.

Hal yang berbeda tampak di ibukota provinsi baru ini, yaitu Pangkal Pinang. Walaupun otonomi daerah baru berlangsung selama 8 tahunan, tapi senang melihat banyak perubahan pada kota ini. Tampak lebih bersih, rapi, dan cukup banyak bangunan baru. Oh ya di daerah pertama Indonesia yang pernah dipimpin oleh keturunan Tionghoa, ibukota provinsi ini juga tidak kehilangan keunikannya, banyaknya klenteng yang megah, bukan hal yang aneh di daerah yang 30% nya memang suku Tionghoa. Dengar dari cerita, suku Tionghoa ini banyak datang ke pulau ini untuk menjadi penambang liar Timah. Orang Melayunya lebih berperan sebagai petani lada atau bahasa Bangkanya Sahang. Tapi seiring waktu, semakin banyak warga Tionghoa yang menjadi pedagang dan semakin banyak orang Melayu yang menjadi penambang timah. Mengenai hasil perkebunannya pun sekarang telah mengalami sedikit pergeseran, dahulu daerah yang ini mayoritas hanya menanam sahang, namun sekarang telah banyak terlihat areal kelapa sawit. Pergeseran yang penulis pikir positif karena memang semenjak harga sahang turun besar-besaran (setelah puncak kejayaannya), maka diperlukan perubahan terhadap jenis tanaman yang lebih prospektif untuk masa depan.

Namun beberapa tetap tidak berubah, masih ada kretek, kemplang, dan kerupuk khas Bangka. Ketiganya merupakan variasi dari kerupuk ikan. Untuk kerupuk ikan, Bangka ini tergolong jagonya, maklumlah, sagu dan ikan sebagai bahan bakunya tersedia di pulau ini secara melimpah. Bahkan sekarang sudah cukup banyak variasi lain yang mulai dikembangkan oleh penduduk di pulau ini, dari mulai kemplang udang, madu hutan, dsb. Perubahan yang menyenangkan penulis kira :) . Soal makananya… hmm jangan ditanya deh, bagi para pecinta seafood tentu saja provinsi kepulauan ini menawarkan makanan yang sayang kalo dilewatkan :D

Bertemu dengan para tetangga juga sangat menyenangkan bagi penulis. Walaupun sayangnya hanya satu teman penulis yang sepantaran yang datang, tapi bertemu para tante dan om yang sering penulis kunjungi rumahnya, yang anaknya bermain bersama penulis tentulah sangat menyenangkan. Dengan selalu dimulai dengan kata-kata “Kamu ingat waktu kamu masih kecil sering…” bla bla bla, dan hampir selalu berakhir dengan penegasan betapa nakalnya penulis waktu kecil hehehe, yah at least I have a great childhood memory :D .

Tapi satu yang mungkin penulis sesali adalah ketidakmampuan penulis untuk membawa adik penulis. Adek penulis baru berusia 1,5 tahun ketika kami pindah dari pulau ini. Usia yang masih terlalu dini untuk mempunyai kenangan yang indah. Dan betapa kesalnya dia (apalagi terhadap penulis) ketika dia tidak diajak karena ada UTS… Hehehe maklumlah resiko anak TPB :P . Bahkan satu kardus oleh2 dari tanah kelahirannya pun tidak mampu mengobati 100% rasa marahnya, karena tahu betapa langkanya kesempatan ini :P

Tapi overall ga percuma deh penulis terpaksa bobol tabungan buat beli tiket pesawat, perjalanan yang penulis pikir sangat worthed :D

TK ku… :D  

 

Rumah Bangka!

My (was) Home Sweet Home :D