March 2008


Bosscha!

Hari ini cukup panjang! setelah kemarin membeli sepeda yang cukup menguras kocek penulis… :( , hari ini penulis, dan 2 teman penulis, Bambang dan Rama mengajak mengejar satu impian…. pergi ke Bosscha!

Bagi yang tidak mengetahui Bosscha ada baiknya menonton film pertualangan sherina… hehehe tapi bosscha ini merupakan observatorium untuk melihat pergerakan benda angkasa. Observatorium ini adalah satu-satunya di Indonesia, dan berada di dekat Lembang, sebuah kota kecil suburban dari Bandung. Sebenarnya rencana mampir ke Bosscha ini sudah lama ada di benak penulis berhubung penulis juga sangat menyenangi astronomi, dan rencana awalnya dengan kedua teman tadi adalah… kami akan berjalan kaki untuk sampai ke sana… tapi berhubung kedua teman penulis tersebut menolak untuk berjalan kaki dan lebih memilih berjalan kaki, terpaksa penulis ikut membeli sebuah sepeda… dan sebagai perayaan sepeda baru maka Bosscha harus ditaklukan!

Cukup untuk pendahuluan… Kami memulai perjalanan jam 6:15 pagi… meleset 45 menit dari yang ditargetkan karena semua peserta ketiduran :D . Kami memulai berjalan dari cisitu ke arah UPI/Ledeng. Belum sampai di Ledeng, ternyata penulis hampir pingsan… karena beberapa hal : kurang tidur dan belum makan pagi. Alhasil perjalanan sempat dihentikan sebentar karena penulis berkunang-kunang… mirip kejadian pusing waktu upacara bendera waktu kecil dulu. Setelah mendingan, rombongan pun meneruskan perjalanan dan mampir ke sebuah toko untuk membeli roti untuk mengisi perut, dan doping, gula merah yang kemudian efektif untuk diemut di jalan. Setelah persiapan lengkap maka rombongan pun memulai perjalanan. Ke arah Lembang pun rombongan berjalan. Sekitar 15 km jarak antara kota Bandung dengan Bosscha dan yang membuat perjalanan sangat melelahkan adalah jalanannya yang sangat menanjak! Dan alhasil karena penulis baru mulai bersepeda setelah hampir 10 tahun tidak pernah bersepeda dan stamina yang kurang mendukung diperlukan hampir 5 kali perhentian untuk minum air dan gula merah serta dilewati berkali-kali oleh pesepeda lain (termasuk kakek kakek) di jalan… untuk sampai ke Bosscha. Setelah sampai Bosscha disertai dengan asam laktat yang menumpuk di kaki, kabar buruk pun datang, kami tidak diizinkan untuk masuk ke observatorium karena tidak membuat janji dengan pihak observatorium. Alhasil kami hanya sampai di gerbang observatorium dan cuman mengambil foto.

Setelah puas2 beristirahat, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Lembang, sebuah kota kecil yang sangat dekat dengan Bosscha. Setelah sampai di Lembang kami melanjutkan perjalanan ke Maribaya, jarak yang ditempuh sekitar 10 km. Sebuah obyek wisata yang terkenal dengan air terjunnya. Dari Maribaya kami melanjutkan perjalanan ke Tahura (Taman Hutan Raya) Dago yang terkenal dengan gua Jepang dan gua Belandanya. Yang sebenarnya mengesalkan adalah kami harus sangat sering untuk menuntun dan mengangkat sepeda kami karena track yang tidak memungkinkan untuk dilalui oleh sepeda walaupun ada sedikit jalur tanah sehingga serasa lintas alam. Alhasil selama di Maribaya otot tangan kami lebih menderita dibandingkan otot kaki kami. Selepasnya di Tahura, kami sedikit banyak sudah mulai dapat mengendarai sepeda karena ada jalur ubin yang menghubungkan tempat di dalam tahura tersebut alhasil kami sering berseluncur di jalan ubin tersebut, sangat menyenangkan!

Dari tahura Dago akhirnya kami melanjutkan ke Dago Pakar untuk kemudian berhenti makan pagi di bakso Panghegar di depan perumahan Dago Asri. Setelah makan maka kami melewati jalan singkat di dago asri yang kemudian tembus ke Cisitu dan akhirnya kembali pulang. Setelah pulang, ternyata perjalanan belum berakhir karena kami masih harus menyuci sepeda dan sandal gunung kami yang tertutup lumpur. Tapi harus diakui bahwa perjalanan turun dari Dago Pakar ke Dago sangatlah menyenangkan… kami serasa meluncur dengan kecepatan yang sangat tinggi… :D . Total dibutuhkan sekitar 6 jam 30 menit untuk menuntaskan perjalanan ini.. :D

Ada beberapa pelajaran yang dapat diambil dari perjalanan ini:

  1. Diperlukan stamina dan persiapan yang sangat matang untuk dapat melakukan perjalanan menyenangkan seperti tadi
  2. Ternyata terdapat semacam “persaudaraan” diantara para pesepeda di Bandung yang walaupun tidak kami kenali hampir selalu menyapa dan berbincang ketika kami istirahat… Hal yang sangat istimewa menurut penulis… :)
  3. Uphill adalah proses yang sangat menyiksa… namun downhill adalah proses yang sangat menyenangkan!

Pokoknya intinya… bersepeda itu menyenangkan! :D

Jadi pengen mencoba jalur bandung-puncak-bekasi yang notabenenya 4 kali lebih berat dibandingkan perjalanan tadi… hihihi harus sering2 muter2 Bandung nih… :)

Lembang

Di Lembang

cerita kita bukan cerita dongeng
yang selalu berakhir bahagia

cerita kita juga bukan coretan hampa
tak berbekas, tak terkenang, dan tak berarti

cerita kita bercerita satu untaian perjalanan
dimana berawal dan juga harus berakhir

cerita kita berazaskan sebuah ungkapan
mengenai kebodohan masa lalu

cerita kita bertalian sebuah impian
mengenai kita yang memiliki dunia

cerita kita bersirat tentang berbagi
sesuatu yang pernah kita setujui bersama

cerita kita berkisah satu pengorbanan
sebuah kisah yang tak patut terceritakan

cerita kita bertutur sebuah kesalahan
karena kejujuran dari masing-masing kita

dan yang paling penting
cerita kita bercerita tentang kau dan aku

tentang sesuatu yang memang
sepatutnya diakhiri saat ini

semoga bahagia
doaku kan selalu teriring untukmu

dari dulu penulis selalu suka dengan yang namanya hujan… curahan air, tanah yang becek, dan kesepian yang menyelimutinya… wah itu sebuah anugrah bagi penulis untuk dapat menari di bawah siraman air tersebut. Penulis lupa kapan mulai punya kebiasaan aneh ini, soalnya semasa kecil, penulis seperti kebanyakan anak kecil lainnya selalu dilarang untuk bermain hujan. Tapi dengan usia yang semakin dewasa, ibu penulis semakin tidak melarang kebiasaan penulis ini (sudah bosan melarang kali ya…), dan penulis salah mengintrepretasikan tiadanya larangan ini dengan dibolehkannya untuk berhujan, dan walah I’m becoming the rain man!

Sebenarnya main hujan itu sehat lho… setidaknya tidak menyalahi filsafat yang penulis pegang dengan cukup kuat… “badan yang terlalu bersih sama sekali tidak pernah sehat!” heheheh, dan hujan adalah salah satu mekanisme untuk dapat mengecek ketahanan tubuh seseorang serta menghilangkan stress bagi penulis. Waktu penulis kuliah di s-1 ternyata terdapat juga satu orang teman yang suka berhujan, sayang teman tersebut cuman bertahan setahun dan meneruskan kembali pendidikannya di Jepang. Sebenarnya yang paling penting setelah main hujan adalah segera membasuh kepala. Penulis lupa siapa yang pernah bilang hal ini ke penulis tapi itu sangat berhasil bagi penulis, dan hampir belum pernah penulis jatuh sakit karena ritual ini :P . Jalan sambil berhujan bagi penulis selalu memberikan kesan tersendiri dan terkadang membuat beberapa hal menjadi lebih jelas dibandingkan sebelumnya. Penulis sendiri beranggapan… wew ada yang spesial ketika setiap kali melihat air yang diturunkan langsung dari langit, walaupun tidak jelas apa yang spesial itu tapi bagi penulis sudah cukup untuk dapat membuat penulis bersorak ketika hujan datang, walaupun pada akhirnya penulis akan berbecek-becek dan bermandi-mandi ria karenanya! :D

p.s: ditulis sambil melihat hujan yang jatuh pada saat ini… :)

“Life is like a rainbow. You need both the sun and the rain to make its colors appear.”

“Anyone who says sunshine brings happiness has never danced in the rain”

“I love walking in the rain, ’cause then no-one knows I’m crying.”

taken from: http://thinkexist.com/quotes/with/keyword/rain/