Hari ini cukup panjang! setelah kemarin membeli sepeda yang cukup menguras kocek penulis…
, hari ini penulis, dan 2 teman penulis, Bambang dan Rama mengajak mengejar satu impian…. pergi ke Bosscha!
Bagi yang tidak mengetahui Bosscha ada baiknya menonton film pertualangan sherina… hehehe tapi bosscha ini merupakan observatorium untuk melihat pergerakan benda angkasa. Observatorium ini adalah satu-satunya di Indonesia, dan berada di dekat Lembang, sebuah kota kecil suburban dari Bandung. Sebenarnya rencana mampir ke Bosscha ini sudah lama ada di benak penulis berhubung penulis juga sangat menyenangi astronomi, dan rencana awalnya dengan kedua teman tadi adalah… kami akan berjalan kaki untuk sampai ke sana… tapi berhubung kedua teman penulis tersebut menolak untuk berjalan kaki dan lebih memilih berjalan kaki, terpaksa penulis ikut membeli sebuah sepeda… dan sebagai perayaan sepeda baru maka Bosscha harus ditaklukan!
Cukup untuk pendahuluan… Kami memulai perjalanan jam 6:15 pagi… meleset 45 menit dari yang ditargetkan karena semua peserta ketiduran
. Kami memulai berjalan dari cisitu ke arah UPI/Ledeng. Belum sampai di Ledeng, ternyata penulis hampir pingsan… karena beberapa hal : kurang tidur dan belum makan pagi. Alhasil perjalanan sempat dihentikan sebentar karena penulis berkunang-kunang… mirip kejadian pusing waktu upacara bendera waktu kecil dulu. Setelah mendingan, rombongan pun meneruskan perjalanan dan mampir ke sebuah toko untuk membeli roti untuk mengisi perut, dan doping, gula merah yang kemudian efektif untuk diemut di jalan. Setelah persiapan lengkap maka rombongan pun memulai perjalanan. Ke arah Lembang pun rombongan berjalan. Sekitar 15 km jarak antara kota Bandung dengan Bosscha dan yang membuat perjalanan sangat melelahkan adalah jalanannya yang sangat menanjak! Dan alhasil karena penulis baru mulai bersepeda setelah hampir 10 tahun tidak pernah bersepeda dan stamina yang kurang mendukung diperlukan hampir 5 kali perhentian untuk minum air dan gula merah serta dilewati berkali-kali oleh pesepeda lain (termasuk kakek kakek) di jalan… untuk sampai ke Bosscha. Setelah sampai Bosscha disertai dengan asam laktat yang menumpuk di kaki, kabar buruk pun datang, kami tidak diizinkan untuk masuk ke observatorium karena tidak membuat janji dengan pihak observatorium. Alhasil kami hanya sampai di gerbang observatorium dan cuman mengambil foto.
Setelah puas2 beristirahat, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Lembang, sebuah kota kecil yang sangat dekat dengan Bosscha. Setelah sampai di Lembang kami melanjutkan perjalanan ke Maribaya, jarak yang ditempuh sekitar 10 km. Sebuah obyek wisata yang terkenal dengan air terjunnya. Dari Maribaya kami melanjutkan perjalanan ke Tahura (Taman Hutan Raya) Dago yang terkenal dengan gua Jepang dan gua Belandanya. Yang sebenarnya mengesalkan adalah kami harus sangat sering untuk menuntun dan mengangkat sepeda kami karena track yang tidak memungkinkan untuk dilalui oleh sepeda walaupun ada sedikit jalur tanah sehingga serasa lintas alam. Alhasil selama di Maribaya otot tangan kami lebih menderita dibandingkan otot kaki kami. Selepasnya di Tahura, kami sedikit banyak sudah mulai dapat mengendarai sepeda karena ada jalur ubin yang menghubungkan tempat di dalam tahura tersebut alhasil kami sering berseluncur di jalan ubin tersebut, sangat menyenangkan!
Dari tahura Dago akhirnya kami melanjutkan ke Dago Pakar untuk kemudian berhenti makan pagi di bakso Panghegar di depan perumahan Dago Asri. Setelah makan maka kami melewati jalan singkat di dago asri yang kemudian tembus ke Cisitu dan akhirnya kembali pulang. Setelah pulang, ternyata perjalanan belum berakhir karena kami masih harus menyuci sepeda dan sandal gunung kami yang tertutup lumpur. Tapi harus diakui bahwa perjalanan turun dari Dago Pakar ke Dago sangatlah menyenangkan… kami serasa meluncur dengan kecepatan yang sangat tinggi…
. Total dibutuhkan sekitar 6 jam 30 menit untuk menuntaskan perjalanan ini..
Ada beberapa pelajaran yang dapat diambil dari perjalanan ini:
- Diperlukan stamina dan persiapan yang sangat matang untuk dapat melakukan perjalanan menyenangkan seperti tadi
- Ternyata terdapat semacam “persaudaraan” diantara para pesepeda di Bandung yang walaupun tidak kami kenali hampir selalu menyapa dan berbincang ketika kami istirahat… Hal yang sangat istimewa menurut penulis…
- Uphill adalah proses yang sangat menyiksa… namun downhill adalah proses yang sangat menyenangkan!
Pokoknya intinya… bersepeda itu menyenangkan!
Jadi pengen mencoba jalur bandung-puncak-bekasi yang notabenenya 4 kali lebih berat dibandingkan perjalanan tadi… hihihi harus sering2 muter2 Bandung nih…











