April 2008


Met hari kartini buat para wanita Indonesia…

“Habis Gelap Terbitlah Terang”

:)

Kemarin sebuah berita menyedihkan datang dari negeri Paman Sam….

Washington (ANTARA News) – Edward Lorenz, bapak teori kekacauan, tutup usia pada Rabu malam dalam usia 90 tahun, kata Institut Teknologi Massachusetts (MIT).

Teori chaos memperlihatkan bahwa tindakan kecil bisa menyebabkan perubahan besar dan dikenal dengan “dampak kupu-kupu”.

Lorenz, seorang meteorolog, pada dasawarsa 1960-an menemukan bahwa perubahan kecil dalam pranata dinamik, seperti, atmosfer, bisa menyebabkan perubahan dahsyat.

Pada 1972, dia menghasilkan penelitian berjudul “Prediktabilitas: Benarkah Kepak Sayap Kupu-kupu di Brazil Menyebakan Tornado di Texas?”

Ilmuwan tersebut lahir pada 1917 di West Hartford, Connecticut, dan meraih gelar sarjana matematika di Dartmouth College pada 1938 dan dari Universitas Harvard pada 1940, sarjana meteorologi dari MIT pada 1943 dan 1948.

Dia berdinas sebagai peramal cuaca bagi Angkatan Udara Amerika Serikat saat Perang Dunia II. Ketika itu, dia memutuskan mempelajari meteorologi.

“Saat bocah, saya selalu tertarik mengutak-atik angka dan selalu terpesona dengan perubahan cuaca,” kata Lorenz dalam otobiografinya.

“Dengan menunjukkan bahwa pranata deterministik mempunyai batas prediktabilitas formal, Lorenz menghancurkan semesta Cartesian dan memicu yang disebut revolusi ilmiah ketiga dalam abad ke-20, menyusul teori relatitas dan ilmu fisika kuantum,” kata Kerry Emanuel, mahaguru ilmu pengetahuan atmosfir di MIT.

“Dia juga pria sejati. Intelejensia, integritas dan kerendahan hatinya menetapkan standard sangat tinggi bagi angkatannya dan generasi setelahnya,” tambah Emanuel dalam pernyataannya.

Pada 1991, Lorenz meraih Penghargaan Kyoto untuk ilmu pengetahuan dasar bidang ilmu bumi dan planet.

Panitia berpendapat bahwa Lorenz membuat “prestasi ilmiah paling cemerlang dengan menemukan `kekacauan deterministik`, asas secara mendalam memengaruhi berbagai tingkat ilmu pengetahuan dasar dan menyempurnakan salah satu perubahan paling dramatis dalam pandangan manusia terhadap alam setelah Sir Isaac Newton”.

Lorenz, yang gemar mendaki gunung dan main ski lintas alam, masih melakukan kegiatan hingga dua pekan menjelang tutup usia di kediamannya di Cambridge, Massachusetts, kata keluarganya.

Dia meninggalkan tiga anak dan empat cucu, demikian Reuters.(*)

berita diambil dari http://www.antara.co.id/arc/2008/4/17/bapak-teori-chaos-tutup-usia-pada-umur-90-tahun/

Edward Lorentz merupakan ilmuwan yang selalu spesial bagi penulis… Selain dikarenakan Tugas Akhir S1 yang penulis kerjakan merupakan penurunan dari teori yang ditemukannya (baca: chaos) namun penulis memang cukup mengagumi nama yang satu ini. Chaos adalah salah satu penemuan terbesar kalau tidak dapat dibilang yang terbesar dari cabang ilmu fisika. Bersama dengan relativitas dan kuantum, ketiga teori ini diramalkan akan menjadi titik perkembangan ilmu fisika masa depan

Sedikit mengenai chaos, ada banyak sekali definisi mengenai chaos, tapi penulis paling suka dengan definisi “keteraturan tanpa periodesitas”, yang secara sederhana berarti keteraturan yang tidak terulangi, mengingat bahwa keteraturan pasti akan berulang namun dalam kasus chaos keteraturan ini tidak berulang kembali namun chaos bukan ketidakteraturan namun tetap sebuah keteraturan walaupun tanpa periodesitas.

Hal yang menarik lain mengenai chaos adalah bahwa peristiwa ini mudah ditemukan di sekitar kita, bahkan hampir semua interaksi yang disekitar kita merupakan peristiwa chaos. Dari peristiwa perubahan fluktuasi nilai mata uang sampai ke pola penyebaran wabah penyakit adalah peristiwa yang chaos. Intinya perubahan apapun yang ada di sekitar kita dan merupakan hasil interaksi yang ilmiah hampir dapat dipastikan adalah peristiwa chaos.

Mengenai keteraturannya sendiri, dapat dilihat dari hasil proyeksi data-data chaos ke dalam ruang fase. Kalau hasil dari proyeksi ini berupa dimensi fraktal maka itu adalah data chaos. Dimensi fraktal sendiri merupakan konsep yang sangat menarik, secara umum dimensi fraktal dapat dikatakan sebagai dimensi pecahan. Jadi kalau dimensi 1 adalah titik, dimensi 2 adalah bidang, dan dimensi 3 adalah ruang, dimensi fraktal 2,5 adalah dimensi yang berada diantara dimensi 2 dan 3, atau dapat dikatakan bahwa dimensi 2,5 mengisi lebih dari dimensi 2 (bidang) namun tidak mencukupi untuk mengisi dimensi 3 (ruang). Hal yang menarik kan? :P

But anyway karena studi kasus yang dipilih dalam tugas akhir penulis adalah studi kasus mengenai data ekonomi Indonesia yang memang merupakan data chaos, maka penulis harus melakukan eksplorasi sedikit lebih dalam mengenai topik bahasan ini dan banyak sekali hal menarik mengenai chaos ini.

Balik ke Lorentz, eksperimen yang dilakukan Lorentz sebenarnya cukup sederhana. Yang ia lakukan pada waktu itu adalah silmulasi cuaca. Jadi konsepnya adalah ada beberapa faktor yang menentukan cuaca yang akan terjadi antara lain : kelembaban, tekanan, sampai ke suhu. Dan dengan nilai tertentu dari parameter ini kita dapat meramalkan apakah hari ini cuaca hujan ataukah panas seperti yang dilakukan badan meterologi. Nah suatu hari Lorentz (dengan teknologi pada saat itu) mengulang sebuah silmulasi yang nilai parameternya sudah ditentukan. Namun dikarenakan tidak ingin mengulang dari awal Lorentz hanya mengulangi proses silmulasi tersebut dari tengah bukan dari awal. Dan ketika ia melihat kembali hasilnya maka ia syok ketika mengetahui kedua hasil silmulasi itu sangat berbeda. Setelah ditrace penyebabnya ternyata karena Lorentz melakukan pembulatan terhadap nilai parameter tengah silmulasi kedua yaitu dari 0,506xxx menjadi 0,506 saja. Pembulatan perseribu tersebut telah mengubah cuaca secara signifikan, dalam kasus cuaca ini dapat mengubah hari yang terik menjadi hujan badai. Sebuah ucapan dari Lorentz yang menggambarkan hal ini adalah dengan “Sebuah tiupan angin pada awal kejadian dapat mengubah cuaca cerah menjadi badai hebat pada hari berikutnya”. Dan itulah falsafat chaos, dari hasil yang sekecil itu dapat menghasilkan perubahan yang sangat besar dalam waktu yang akan datang.

Dan dari jasa seorang peneliti ini telah memberikan kita perspektif baru mengenai cara melihat dunia. Bahwa sesuatu yang kecil tidak dapat dipandang enteng. Karena peneliti yang bersahaja ini pula kita dapat menyadari kekerdilan kita bahwa memang kita memiliki keterbatasan, karena penulis berkeyakinan bahwa chaos adalah murni rahasia Sang Pencipta, dan kalau manusia dapat memecahkan rahasia ini, maka implikasinya adalah manusia akan dapat mengetahui masa depan dan mempermainkannya, yang penulis yakin tidak akan dapat dilakukan oleh manusia… tapi tentu saja mempelajarinya pun sudah merupakan prestasi sendiri yang patut dibanggakan… yah minimal untuk saat ini…

Rest in Peace Edward Lorentz…

Sebuah langkah yang lucu (menurut penulis) telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia, dalam hal ini Menkominfo untuk membatasi dunia internet dari masyarakat Indonesia… Latar belakang kasus ini adalah film Fitna yang cukup menghebohkan dunia muslim dan isu pornografi di internet telah memberi alasan pada pemerintahan Indonesia mengambil langkah untuk menganjurkan menge-ban situs video sharing youtube (dan beberapa situs lain) karena terkait dengan masalah ini…

Sampai saat ini penulis belum sempat mencari film fitna ini walaupun penulis ingin sekali menontonnya.. yeah curiosity kills the cat… isn’t? :D

Tapi cukup mengenai film kontroversial itu… Hal yang lebih menarik di mata penulis adalah permasalahan penguasaan arus informasi dari pemerintah kepada warga negaranya. Kita tahu bahwa yang namanya internet adalah sebebas-bebasnya dunia, dan kebebasan ini bukan tanpa kelebihan lain yaitu informasi yang luar biasa banyak. Internet telah menjadi dunia informasi tanpa ujung. Informasi yang bagi sebagian pihak tentu harus dikontrol, dan pihak ini salah satunya adalah pemerintah. Mungkin sebagian dari kita masih ingat kasus Google (dan mayoritas situs lain) di China dimana pemerintah China dengan sedemikian kuat dapat menekan google agar membatasi pencarian terhadap beberapa kata kunci yang sensitif di China seperti “Tiannamen” dsb. Dan sekarang pemerintah Indonesia pun mulai tertarik untuk mengikuti jejak pemerintahan negara komunis tersebut…. hmmm….

Sebenarnya model sensor seperti ini pernah diterapkan di kampus penulis… Guna mencegah adanya akses terhadap situs yang “tidak-tidak”, pihak kampus membuat semacam filter (kemudian disebut filter cumi karena halaman cumi selalu ditampilkan sebagai ganti dari halaman yang akan dibuka) untuk menangkal pembukaan situs-situs yang melanggar aturan yang tentu saja ditentukan oleh kampus penulis. Cara kerja dari filter ini tidak terlalu rumit, yang dibutuhkan hanyalah keyword yang mengandung kata-kata yang dilarang seperti: “sex”, “bokep”, “porno”, “xxx”, dll dan dari kata keyword tersebut alamat dari site yang dituju akan diparsing untuk ditentukan apakah melanggar aturan yang ditetapkan oleh kampus. Jadi alamat “http://www.indonesiaxxx.com” akan langsung diblok karena mengandung keyword “xxx”. Sebenarnya cara ini terlalu sederhana untuk membuat sebuah filter yang cangih, karena banyak juga situs lain, terutama situs game yang menggunakan “xxx” sebagai bagian dari alamat sitenya. But anyway, perlindungan yang minimalis ini juga tidak bertahan lama, karena sangat mudah dibobol. Penulis ingat sewaktu iseng menjaga komputer di laboratorium komputer Kimia ternyata memasukkan no ip alamat situs bokep tersebut ketimbang alamat lengkapnya lebih dari cukup untuk masuk ke dalam alamat tersebut. Tapi tentu saja pihak kampus terus memperbaiki konsep ini, dan pihak pemakai seperti penulis tentu saja tidak akan tinggal diam untuk terus mengupgrade diri sehingga yang terjadi adalah siklus kejar-kejaran antara pihak kampus dan pihak pengguna seperti penulis untuk dapat mencari kelemahan yang ada. Karena toh tidak ada sistem yang sempurna di dunia digital ini kan? :D

Hal yang sama juga penulis prediksikan juga akan terjadi pada kasus ini. Pemblokan situs youtube, myspace, rapidshare, dll tentu saja tidak akan dibiarkan begitu saja oleh penguna internet di Indonesia. Toh untuk jadi maling harus jauh lebih pintar dibandingkan polisi kan? Kalau tidak tentu saja si maling habis digebukin oleh masyarakat sekitar :D . Hal lain yang membedakan China dari Indonesia dalam hal ini adalah masalah gateway yang digunakan. (CMIIW) China hanya memiliki 2 gateway internet yang keduannya atas nama pemerintah yang komunis dapat segera dikontrol, namun Indonesia memiliki puluhan gateway yang jika ingin ditutup atas nama pemerintahan demokratis tentu saja akan mendapat tantangan berat dari masyarakat Indonesia…. So IMHO Great Firewall of Indonesia tampaknya tidak akan sesukses Great Firewall of China… :)

Namun hal yang patut disorot tentu saja keinginan pemerintah untuk menguasai akses informasi masyarakat. Terlepas antara masalah norma dan stabilitas, tentu saja sangat konyol kalau ada wacana mengontrol informasi di internet. Internet terlalu besar untuk dikuasai oleh satu pihak, dan masyarakat terlalu pintar untuk dapat terlalu mudah dibohongi seperti itu… Apalagi ini yang diblok orang Indonesia lho… pasti ada aja idenya :D . Sudah seharusnya Menkominfo menyadari hal ini… karena bagaimanapun selalu ada jalan ke Roma di dunia digital ini… :)

p.s: bagi yang ingin langsung mempraktekkannya banyak nih sumber di mbah google…

http://www.google.co.id/search?q=cara+membuka+youtube+di+indonesia&ie=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-a

Miaw and Meong

Ada 2 penghuni baru kosan… selain seekor kura2, banyak ikan mas, dan seekor kucing… sekarang penghuni kosan kembali bertambah satu… eh dua anak kucing baru… dan kuberi nama miau dan meong… hehehe… :D

one big happy family… :D