June 2008


Cerita berawal dari sebuah seminar menarik yang ternyata membosankan, penulis dan beberapa teman (ada Om Anggoro, Dina, Agan, dan Koak) memutuskan untuk makan pagi menjelang siang. Suasana kampus yang cukup ramai saat itu karena adanya pengembalian formulir spmb (apapun namanya sekarang) di kampus menjadi pemandangan yang cukup menarik sebenarnya. Dan ketika kami bingung akan makan dimana, dengan sotoynya seorang teman yang memang sudah dikenal kesotoyannya (namely: Agan) mengajak makan di sebuah warung yang menyajikan bakso dan bubur.

Sampai disini sebenarnya penulis sudah mulai bertanya-tanya karena setahu penulis memang tidak ada warung bakso tepat di depan gerbang belakang kampus gajah ini… Tapi penulis masih berbaik sangka dengan menggangap mungkin orang sotoy satu itu memang langganan di warung bakso itu. Dan akhirnya makanlah kami berempat dan kejutan terjadi ketika membayar bakso yang penulis makan dengan harga 20 RIBU RUPIAH!!!!

Sial! sebuah warung yang di tepi jalan, dengan bakso yang gede tapi ga terlalu enak dan kenyang itu ternyata berharga 20 ribu rupiah tanpa air minum (untung kaga mesen minum!) parah sungguh parah. Bakso yang paling banter diperkirakan hanya berharga paling mahal 10 ribu rupiah dapat menjadi 20 ribu!!! bener2 gila, padahal dengan duit yang sama penulis bisa dapet 4 kilo beras kualitas menengah yang dapat dimakan selama 2-3 minggu (hiks2). Selidik punya selidik ternyata warung laknat itu memang warung gadungan yang hanya buka waktu-waktu tertentu saja, dan waktu pengumpulan formulir spmb (apapun namanya sekarang) itu para warung gadungan itu berharap dapat mengeruk uang besar dari para calon mahasiswa yang ga tahu mengenai situasi kampus…. namun hal yang menyakitkan adalah mereka berhasil menipu 4 orang mahasiswa S2 yang 2 orangnya adalah mantan mahasiswa di kampus gajah duduk tersebut selama 5 tahunan… hiks2 sometimes stupid stupid things do happen :( . Tapi setidaknya masih parahan si sotoy itu yang harus bad debt untuk membayar makanannya :D

Pelajaran berharga kali ini:

1. Jangan percaya si sotoy agan

2. Jangan percaya si sotoy sotoy agan

3. Lebih berhati-hati lain kali

*mencari kambing hitam*

:D

Kalau kita menyimak cara polisi mengusut sebuah kasus, misalnya pembunuhan, pertanyaannya selalu seperti ini : “Siapakah yang diuntungkan dari peristiwa ini ?” Saya ambil contoh kasus pembunuhan Munir. Siapa yang diuntungkan ?

Secara tidak sadar, pertanyaan di atas dapat dimodelkan dengan teori game. Dan secara tidak sadar pula, polisis sebenarnya sudah berpikir dengan pola pikir teori game.

Banyak kasus-kasus ‘aneh’ di Indonesia yang dapat dimodelkan ke dalam teori game. Kita lihat bagaimana Pemerintah lambat menangani masalah siapa pembunuh munir, lambat menangani masalah Ahmadiyah, lambat juga menangani masalah-masalah korupsi, BLBI, dsb.

Tanya kenapa ?

Satu hal yang bisa ditarik adalah : terdapat pola yang jelas antara action yang dilakukan oleh Pemerintah terhadap gain yang ingin didapat di sisi Pemerintah. Popularitas adalah bentuk gain yang ingin dicapai Pemerintah, yang merupakan fungsi dari Action yang dilakukannya, juga dari action yang dilakukan pemain lain :

Popularitas_pemerintah =

Fungsi (Action_pemerintah, {action pemain_lain})

Penulis setuju bahwa popularitas pemerintah memang menjadi gain utama dari tindakan pemerintah (apalagi menjelang pemilu 2000), tapi yang perlu digarisbawahi adalah terdapat sebuah nilai threshold yang memaksa pemerintah tidak dapat bertindak hanya ke arah gain. Hal tersebut seperti negara Indonesia, apabila terdapat satu kondisi yang mengancam kedaulatan negara Indonesia, demi hal ini sudah seharusnya pemerintah mengorbankan popularitasnya. Ayo Gi, contoh terbaiknya mungkin adalah kenaikan BBM baru-baru ini yang mencederai gain pemerintah tersebut. Dan kayaknya akan menarik kalau permasalahan BBM tersebut dapat dibuat modelnya… :)

Di sisi lain, ada lawan dari Pemerintah dalam “permainan politik” ini, yaitu : rakyat, oposan di parlemen, dan pengaruh asing, di mana masing-masing pemain memiliki fungsi-fungsi untuk gain:

untuk rakyat , gain-nya adalah tingkat kesejahteraan :

Kesejahteraan =

Fungsi (Action_rakyat, {action_pemain_lain})

Agak terlalu menyederhanakan gain yang ingin diperoleh oleh rakyat Indonesia secara keseluruhan. Kalau kesejahteraan menjadi gain mutlak dari rakyat maka rakyat Indonesia pasti tidak akan berdemo ketika Sipadan-Ligitan jatuh ke tangan Malaysia serta Indosat dijual ke Singapura. Kalau kesejahteraan menjadi faktor satu-satunya tentu saja kenaikan harga BBM juga akan mengakibatkan terjadinya chaos yang minimal akan mengakibatkan pergantian pemerintahan. Dan yang paling penting memang harus ada threshold negara Indonesia, yang artinya minimal negara Indonesia harus ada dulu baru rakyat mengejar gain kesejahteraan.

untuk oposan di parlemen, gain-nya adalah popularitas :

Popularitas_Oposan =

Fungsi (Action_oposan, {action_pemain_lain})

Secara garis besar setuju dengan gain dari oposan, tentu saja dengan penambahan threshold negara Indonesia juga (seperti player pemerintah, dan rakyat). Threshold ini yang dapat memaksa ketiga pemain yang berkompetisi tersebut tidak melewati batasnya (menjual kedaulatan Indonesia contohnya) dalam mencari gain tersebut.

untuk pemain asing, ini terlalu luas, tapi kita bisa ambil bentuk umum untuk gain mereka, yaitu “keuntungan” :

Keuntungan Asing=

Fungsi (Action_asing, {action_pemain_lain})

Setuju, asing memang mempunyai banyak kepentingan yang bisa didefinisikan dalam rangkaian kata”keuntungan asing”. Tapi satu keistimewaan dari player asing ini, dia tidak mempunyai threshold yang sama dengan ketiga player lain, tentu saja bukan “negara Indonesia” yang menjadi nilai threshold pemain ini, tapi mungkin dapat ke “perdamaian dunia”. Jadi kepentingan mereka dibatasi oleh kemungkinan perang dunia. Jadinya mungkin eksploitasi yang dilakukan oleh player asing ini hanya akan dilakukan bila tidak mengakibatkan terjadinya perang dunia. Walaupun hal ini juga tidak betul sama sekali bila melihat kasusnya Amerika dengan Irak,dan Afghanistan. Tapi untuk kasus Indonesia penulis pikir asing pun sangat kecil kemungkinannya untuk dapat menjajah Indonesia secara eksplisit seperti kasus Irak dan Afghanistan karena threshold tadi.

Mungkin peran media massa yang cukup signifikan di Indonesia perlu dipertimbangkan untuk menjadi player karena di sistem demokrasi di Indonesia media massa menjadi kekuatan koreksi bagi pemerintah, rakyat, oposan, dan juga asing yang cukup baik walaupun media massa sendiri punya gain yang belum tentu mulia. Tapi perannya sangat unik dimana player ini dapat menyerang player lain secara bergantian dan tetap mendapatkan respon yang relatif baik terhadap hampir semua player lain.

Saya ambilkan contoh : Ada beberapa pilihan sebenarnya bagi Pemerintah untuk bertindak dalam menyikapi Ahmadiyah : Mau langsung dibubarkan, atau sekedar diberi peringatan, atau membiarkan saja. Sementara Pemerintah tahu, di depan ada kemungkinan action yang akan dilakukan oleh beberapa pemain :

1. Aktivis-aktivis akan mendemo pembubaran Ahmadiyah, menutup masjid Ahmadiyah, atau jika aktivis-aktivis ini agak gelap mata, membakar masjid Ahmadiyah.
2. Rakyat mengambil sikap diam, tidak berani terlibat untuk memberikan solusi, karena sibuk dengan urusan kesejahteraan masing-masing
3. Pihak asing akan mengambil sikap hati-hati melihat perkembangan sikap Pemerintah. Ini terutama untuk pihak asing yang punya kepentingan investasi di Indonesia.
4. Oposan akan habis-habisan mengkritik Pemerintah melalui rapat dewan / wawancara dengan media massa, sehingga popularitas Pemerintah bisa melorot.

Kita analisa pilihan-pilihan action Pemerintah. Yang pertama, misalnya : langsung dibubarkan. Analisanya adalah:

1. Pemerintah akan naik popularitasnya di mata aktivis-aktivis yang suka demo menuntut pembubaran Ahmadiyah. Tetapi popularitas ini naiknya sedikit, karena jumlah aktivisnya juga sedikit.
2. Pemerintah tidak akan naik popularitasnya di mata rakyat jelata. Karena tindakan ini tidak bisa ditemukan benang merahnya terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat.
3. Di mata oposan, popularitas Pemerintah tidak jelas apakah naik atau turun, karena oposannya ada yang mendukung pembubarah Ahmadiyah, ada yang tidak.
3. Pemerintah akan dikecam dunia Internasional, karena dianggap melanggar HAM. Ingat, RRC pernah bertindak ekstrim terhadap Falun-Gong. Akibatnya dunia mengecam. Untungnya RRC tidak terlalu bergantung asing, jadi tidak terjadi apa-apa. Lha kalau NKRI ? bergantung bangeeettt….

Jadi, alternatif ini tidak dilakukan.

Pemerintah bisa mendapatkan gain berupa kesan tegas yang diakibatkan dengan pilihan lain, sehingga walaupun tidak ada hubungan langsung dengan kesejahteraan, namun hal ini dapat mengangkat popularitas pemerintahan bagi sebagian rakyat yang tidak harus aktivis.

Ambil misalnya alternatif lain : Ahmadiyah dibiarkan saja :

1. Pemerintah turun popularitasnya di mata aktivis-aktivis yang menuntut pembubaran Ahmadiyah.
2. Popularitas Pemerintah turun di mata rakyat, karena sebenarnya sudah terjadi banyak tindakan anarkis terhadap masjid2 Ahmadiyah, yang dikarenakan Pemerintah tidak bertindak cepat.
3. Popularitas Pemerintah mungkin turun di mata Internasional, karena dianggap tidak mampu mengatasi konflik dalam negeri
4. Popularitas pemerintah juga turun di mata oposan, karena diam saja.

Jadi alternatif ini tidak dilakukan.

Mungkin asing dapat melihat dari segi HAM, sehingga harus dilihat thread-off antara HAM dan ketegasan pemerintah di mata asing.

Lalu akhirnya pemerintah mengambil sikap : diberi peringatan. Analisanya :

1. Popularitas pemerintah stagnan di mata aktivis-aktivis yang menuntut pembubaran Ahmadiyah. Kalaupun naik, ya cuman sedikit. Kalaupun turun ya cuman sedikit juga. Dari fakta terlihat, sikap aktivis-aktivis terpecah, ada yang menanggapi positif, ada yang negatif.
2. Pemerintah naik popularitasnya di mata rakyat jelata. Karena keputusan ini berarti : tidak ada lagi ribut-ribut yang tidak perlu, alias ga ngefek dengan kesejahteraan rakyat.
3. Popularitas Pemerintah di mata oposan, tidak turun. Kalaupun turun sedikit, kalaupun naik sedikit. Hanya saja di mata oposan, poin bagus pemerintah adalah : bisa mengambil sikap / jalan tengah.
4. Popularitas Pemerintah di mata Internasional…. saya kurang bisa menebak, tetapi mungkin tidak turun, karena Pemerintah tidak memberangus aliran kepercayaan yang dianggap sesat, seperti yang pernah dilakukan RRC terhadap Falun-Gong.

Jadi dari sisi Pemerintah, keputusan memberi peringatan ini dari sisi Pemerintah, menghasilkan gain yang optimal. Keputusannya mungkin tidak populer di mata aktivis, tetapi populer di mata rakyat banyak yang tidak ingin ribut-ribut berkepanjangan.

Dari contoh di atas, kita bisa buat sebuah pola bagaimana menganalisa apa yang akan dilakukan Pemerintah terhadap sebuah masalah menggunakan teori game. Seperti halnya pemodelan dengan teori game pada umumnya, kita harus definisikan siapa lawan Pemerintah ? “Lawan” di sini jangan diartikan sebagai oposan. Tetapi “Lawan” di sini diartikan sebagai pihak-pihak yang bisa mengganggu meningkatnya gain Pemerintah.

Lalu definisikan apa yang menjadi concern Pemerintah dalam mengambil keputusan ? Tidak selalu berupa Popularitas. Mungkin bisa yang lain. Misalnya APBN. Tergantung kasusnya. Tapi saya adalah orang yang berpendapat bahwa concern Pemerintah adalah popularitas, dalam kasus apapun. Apalagi menjelang Pemilu 2009 )

Definisikan juga semua kemungkinan aksi yang dapat dilakukan Pemerintah dan para lawan. Analisa kombinasi pasangan aksi-aksi tersebut dan analisa bagaimana pengaruh setiap kombinasi pasangan aksi tersebut terhadap gain yang ingin dicapai Pemerintah.

Selamat mencoba !

Kalau penulis pribadi sih tidak suka dengan pemodelan game seperti ini, karena pemodelan seperti ini pasti dibatasi dengan berbagai asumsi yang akhirnya membatasi interaksi yang dinamis itu sendiri dari player-player yang terlibat (player nya pun untuk sistem sekompleks ini pasti cukup banyak). Mungkin pendekatan yang lebih anggun adalah menggunakan jaringan saraf tiruan (hihihi promosi gini), sehingga yang kita olah adalah datanya yang bener2 kuantitatif bukan modelnya yang cenderung relatif… :D

hmm menarik juga mungkin kita harus berbicara langsung soal ini Gi… :D

artikel menarik mengenai sejarah game theory (jadi inget John Forbes Nash :D ):

http://www.econ.canterbury.ac.nz/personal_pages/paul_walker/gt/hist.htm

-sedang boring-

-pengen libur-

-pengen jalan2-

-pengen mudik-

-:D-

Seorang suami menulis

Istriku,

Jika engkau bumi, akulah matahari

Aku menyinari kamu

Kamu mengharapkan aku

Ingatlah bahtera yg Kita kayuh, begitu penuh riak gelombang

Aku tetap menyinari bumi, hingga kadang bumi pun silau

Lantas aku ingat satu hal

Bahwa Tuhan mencipta bukan hanya bumi, Ada planet lain yg

juga mengharap Aku

sinari

Jadi..

Relakanlah aku menyinari planet lain, menebar sinarku

Menyampaikan faedah adanya aku, karna sudah kodra ti Dan

Tuhan pun tak Marah

dan sang istri pun menjawab

Suamiku,

Bila kau memang mentari, sang surya penebar cahaya

Aku rela kau berikan sinarmu kepada segala planet yg pernah

TUHAN ciptakan

Karna mereka juga seperti aku butuh penyinaran Dan akupun

juga

Tak akan merasa kurang dengan pencahayaanmu

AKAN TETAPIIIIIIII. …….

Bila kau hanya sejengkal lilin yg berkekuatan 5 watt,

jangan bermimpi

Menyinari planet lain!!!

Karena kamar Kita yg kecil pun belum sanggup kau terangi

Bercerminlah pd kaca di sudut kamar Kita, di tengah

remang-remang

Pencahayaanmu yg telah aku mengerti utk tetap menguak Mata

Coba liat siapa dirimu… MENTARI atau lilin ? PLIS

DEH……… ..??!!!

JANGAN GILAAA DONGGGG….. …….

sekarang pertanyaannya kenapa puisi rumah tangga ini dikirim ke email gw????

p.s: tuh buat para suami, ambil positifnya atuh… :D