Dapat (lebih tepatnya diberikan sih :p ) artikel menarik dari blognya Nugie… Dan karena menarik yah gw tampilin di blog ini deh… Sekalian ada beberapa argumen yang bisa didiskusikan lebih lanjut… salinan aslinya dapat dilihat di
sini
Kalau kita menyimak cara polisi mengusut sebuah kasus, misalnya pembunuhan, pertanyaannya selalu seperti ini : “Siapakah yang diuntungkan dari peristiwa ini ?” Saya ambil contoh kasus pembunuhan Munir. Siapa yang diuntungkan ?
Secara tidak sadar, pertanyaan di atas dapat dimodelkan dengan teori game. Dan secara tidak sadar pula, polisis sebenarnya sudah berpikir dengan pola pikir teori game.
Banyak kasus-kasus ‘aneh’ di Indonesia yang dapat dimodelkan ke dalam teori game. Kita lihat bagaimana Pemerintah lambat menangani masalah siapa pembunuh munir, lambat menangani masalah Ahmadiyah, lambat juga menangani masalah-masalah korupsi, BLBI, dsb.
Tanya kenapa ?
Satu hal yang bisa ditarik adalah : terdapat pola yang jelas antara action yang dilakukan oleh Pemerintah terhadap gain yang ingin didapat di sisi Pemerintah. Popularitas adalah bentuk gain yang ingin dicapai Pemerintah, yang merupakan fungsi dari Action yang dilakukannya, juga dari action yang dilakukan pemain lain :
Popularitas_pemerintah =
Fungsi (Action_pemerintah, {action pemain_lain})
Penulis setuju bahwa popularitas pemerintah memang menjadi gain utama dari tindakan pemerintah (apalagi menjelang pemilu 2000), tapi yang perlu digarisbawahi adalah terdapat sebuah nilai threshold yang memaksa pemerintah tidak dapat bertindak hanya ke arah gain. Hal tersebut seperti negara Indonesia, apabila terdapat satu kondisi yang mengancam kedaulatan negara Indonesia, demi hal ini sudah seharusnya pemerintah mengorbankan popularitasnya. Ayo Gi, contoh terbaiknya mungkin adalah kenaikan BBM baru-baru ini yang mencederai gain pemerintah tersebut. Dan kayaknya akan menarik kalau permasalahan BBM tersebut dapat dibuat modelnya…
Di sisi lain, ada lawan dari Pemerintah dalam “permainan politik” ini, yaitu : rakyat, oposan di parlemen, dan pengaruh asing, di mana masing-masing pemain memiliki fungsi-fungsi untuk gain:
untuk rakyat , gain-nya adalah tingkat kesejahteraan :
Kesejahteraan =
Fungsi (Action_rakyat, {action_pemain_lain})
Agak terlalu menyederhanakan gain yang ingin diperoleh oleh rakyat Indonesia secara keseluruhan. Kalau kesejahteraan menjadi gain mutlak dari rakyat maka rakyat Indonesia pasti tidak akan berdemo ketika Sipadan-Ligitan jatuh ke tangan Malaysia serta Indosat dijual ke Singapura. Kalau kesejahteraan menjadi faktor satu-satunya tentu saja kenaikan harga BBM juga akan mengakibatkan terjadinya chaos yang minimal akan mengakibatkan pergantian pemerintahan. Dan yang paling penting memang harus ada threshold negara Indonesia, yang artinya minimal negara Indonesia harus ada dulu baru rakyat mengejar gain kesejahteraan.
untuk oposan di parlemen, gain-nya adalah popularitas :
Popularitas_Oposan =
Fungsi (Action_oposan, {action_pemain_lain})
Secara garis besar setuju dengan gain dari oposan, tentu saja dengan penambahan threshold negara Indonesia juga (seperti player pemerintah, dan rakyat). Threshold ini yang dapat memaksa ketiga pemain yang berkompetisi tersebut tidak melewati batasnya (menjual kedaulatan Indonesia contohnya) dalam mencari gain tersebut.
untuk pemain asing, ini terlalu luas, tapi kita bisa ambil bentuk umum untuk gain mereka, yaitu “keuntungan” :
Keuntungan Asing=
Fungsi (Action_asing, {action_pemain_lain})
Setuju, asing memang mempunyai banyak kepentingan yang bisa didefinisikan dalam rangkaian kata”keuntungan asing”. Tapi satu keistimewaan dari player asing ini, dia tidak mempunyai threshold yang sama dengan ketiga player lain, tentu saja bukan “negara Indonesia” yang menjadi nilai threshold pemain ini, tapi mungkin dapat ke “perdamaian dunia”. Jadi kepentingan mereka dibatasi oleh kemungkinan perang dunia. Jadinya mungkin eksploitasi yang dilakukan oleh player asing ini hanya akan dilakukan bila tidak mengakibatkan terjadinya perang dunia. Walaupun hal ini juga tidak betul sama sekali bila melihat kasusnya Amerika dengan Irak,dan Afghanistan. Tapi untuk kasus Indonesia penulis pikir asing pun sangat kecil kemungkinannya untuk dapat menjajah Indonesia secara eksplisit seperti kasus Irak dan Afghanistan karena threshold tadi.
Mungkin peran media massa yang cukup signifikan di Indonesia perlu dipertimbangkan untuk menjadi player karena di sistem demokrasi di Indonesia media massa menjadi kekuatan koreksi bagi pemerintah, rakyat, oposan, dan juga asing yang cukup baik walaupun media massa sendiri punya gain yang belum tentu mulia. Tapi perannya sangat unik dimana player ini dapat menyerang player lain secara bergantian dan tetap mendapatkan respon yang relatif baik terhadap hampir semua player lain.
Saya ambilkan contoh : Ada beberapa pilihan sebenarnya bagi Pemerintah untuk bertindak dalam menyikapi Ahmadiyah : Mau langsung dibubarkan, atau sekedar diberi peringatan, atau membiarkan saja. Sementara Pemerintah tahu, di depan ada kemungkinan action yang akan dilakukan oleh beberapa pemain :
1. Aktivis-aktivis akan mendemo pembubaran Ahmadiyah, menutup masjid Ahmadiyah, atau jika aktivis-aktivis ini agak gelap mata, membakar masjid Ahmadiyah.
2. Rakyat mengambil sikap diam, tidak berani terlibat untuk memberikan solusi, karena sibuk dengan urusan kesejahteraan masing-masing
3. Pihak asing akan mengambil sikap hati-hati melihat perkembangan sikap Pemerintah. Ini terutama untuk pihak asing yang punya kepentingan investasi di Indonesia.
4. Oposan akan habis-habisan mengkritik Pemerintah melalui rapat dewan / wawancara dengan media massa, sehingga popularitas Pemerintah bisa melorot.
Kita analisa pilihan-pilihan action Pemerintah. Yang pertama, misalnya : langsung dibubarkan. Analisanya adalah:
1. Pemerintah akan naik popularitasnya di mata aktivis-aktivis yang suka demo menuntut pembubaran Ahmadiyah. Tetapi popularitas ini naiknya sedikit, karena jumlah aktivisnya juga sedikit.
2. Pemerintah tidak akan naik popularitasnya di mata rakyat jelata. Karena tindakan ini tidak bisa ditemukan benang merahnya terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat.
3. Di mata oposan, popularitas Pemerintah tidak jelas apakah naik atau turun, karena oposannya ada yang mendukung pembubarah Ahmadiyah, ada yang tidak.
3. Pemerintah akan dikecam dunia Internasional, karena dianggap melanggar HAM. Ingat, RRC pernah bertindak ekstrim terhadap Falun-Gong. Akibatnya dunia mengecam. Untungnya RRC tidak terlalu bergantung asing, jadi tidak terjadi apa-apa. Lha kalau NKRI ? bergantung bangeeettt….
Jadi, alternatif ini tidak dilakukan.
Pemerintah bisa mendapatkan gain berupa kesan tegas yang diakibatkan dengan pilihan lain, sehingga walaupun tidak ada hubungan langsung dengan kesejahteraan, namun hal ini dapat mengangkat popularitas pemerintahan bagi sebagian rakyat yang tidak harus aktivis.
Ambil misalnya alternatif lain : Ahmadiyah dibiarkan saja :
1. Pemerintah turun popularitasnya di mata aktivis-aktivis yang menuntut pembubaran Ahmadiyah.
2. Popularitas Pemerintah turun di mata rakyat, karena sebenarnya sudah terjadi banyak tindakan anarkis terhadap masjid2 Ahmadiyah, yang dikarenakan Pemerintah tidak bertindak cepat.
3. Popularitas Pemerintah mungkin turun di mata Internasional, karena dianggap tidak mampu mengatasi konflik dalam negeri
4. Popularitas pemerintah juga turun di mata oposan, karena diam saja.
Jadi alternatif ini tidak dilakukan.
Mungkin asing dapat melihat dari segi HAM, sehingga harus dilihat thread-off antara HAM dan ketegasan pemerintah di mata asing.
Lalu akhirnya pemerintah mengambil sikap : diberi peringatan. Analisanya :
1. Popularitas pemerintah stagnan di mata aktivis-aktivis yang menuntut pembubaran Ahmadiyah. Kalaupun naik, ya cuman sedikit. Kalaupun turun ya cuman sedikit juga. Dari fakta terlihat, sikap aktivis-aktivis terpecah, ada yang menanggapi positif, ada yang negatif.
2. Pemerintah naik popularitasnya di mata rakyat jelata. Karena keputusan ini berarti : tidak ada lagi ribut-ribut yang tidak perlu, alias ga ngefek dengan kesejahteraan rakyat.
3. Popularitas Pemerintah di mata oposan, tidak turun. Kalaupun turun sedikit, kalaupun naik sedikit. Hanya saja di mata oposan, poin bagus pemerintah adalah : bisa mengambil sikap / jalan tengah.
4. Popularitas Pemerintah di mata Internasional…. saya kurang bisa menebak, tetapi mungkin tidak turun, karena Pemerintah tidak memberangus aliran kepercayaan yang dianggap sesat, seperti yang pernah dilakukan RRC terhadap Falun-Gong.
Jadi dari sisi Pemerintah, keputusan memberi peringatan ini dari sisi Pemerintah, menghasilkan gain yang optimal. Keputusannya mungkin tidak populer di mata aktivis, tetapi populer di mata rakyat banyak yang tidak ingin ribut-ribut berkepanjangan.
Dari contoh di atas, kita bisa buat sebuah pola bagaimana menganalisa apa yang akan dilakukan Pemerintah terhadap sebuah masalah menggunakan teori game. Seperti halnya pemodelan dengan teori game pada umumnya, kita harus definisikan siapa lawan Pemerintah ? “Lawan” di sini jangan diartikan sebagai oposan. Tetapi “Lawan” di sini diartikan sebagai pihak-pihak yang bisa mengganggu meningkatnya gain Pemerintah.
Lalu definisikan apa yang menjadi concern Pemerintah dalam mengambil keputusan ? Tidak selalu berupa Popularitas. Mungkin bisa yang lain. Misalnya APBN. Tergantung kasusnya. Tapi saya adalah orang yang berpendapat bahwa concern Pemerintah adalah popularitas, dalam kasus apapun. Apalagi menjelang Pemilu 2009 
Definisikan juga semua kemungkinan aksi yang dapat dilakukan Pemerintah dan para lawan. Analisa kombinasi pasangan aksi-aksi tersebut dan analisa bagaimana pengaruh setiap kombinasi pasangan aksi tersebut terhadap gain yang ingin dicapai Pemerintah.
Selamat mencoba !
Kalau penulis pribadi sih tidak suka dengan pemodelan game seperti ini, karena pemodelan seperti ini pasti dibatasi dengan berbagai asumsi yang akhirnya membatasi interaksi yang dinamis itu sendiri dari player-player yang terlibat (player nya pun untuk sistem sekompleks ini pasti cukup banyak). Mungkin pendekatan yang lebih anggun adalah menggunakan jaringan saraf tiruan (hihihi promosi gini), sehingga yang kita olah adalah datanya yang bener2 kuantitatif bukan modelnya yang cenderung relatif…
hmm menarik juga mungkin kita harus berbicara langsung soal ini Gi…
artikel menarik mengenai sejarah game theory (jadi inget John Forbes Nash
):
http://www.econ.canterbury.ac.nz/personal_pages/paul_walker/gt/hist.htm