July 2008


wallpaper diambi dari sini

Berhubung selesainya uas finance (yang cukup menyiksa itu!) dan berhubung beberapa referensi dari temen akan bagusnya film batman: the dark knight, akhirnya penulis menyempatkan diri memenuhi janji tersebut bersama Bambang dan Rama. Pada awalnya kami hanya ingin menonton film ini di ciwalk jam 18.15 . Namun karena kami datengnya telat sehingga tempat yang tersisa hanya di deretan paling depan. Trauma dengan pengalaman nonton-bioskop-di-barisan-depan ketika nonton kungfu panda (bayangkan nonton kartun action dengan leher agak mendongak ke atas selama 2 jaman :D ), akhirnya kami lebih memilih nonton di jam yang berikutnya yaitu jam 21.15 . Dan karena kebingungan mau ngapain nunggu selama lebih dari 3 jam waktu sebelum pertunjukan, kami akhirnya memutuskan untuk nonton film wanted. Dan walah jadilah kami estafet nonton film dari wanted jam 19.15 – 21.00 dan jam 21.15 – 23.15 (?? lupa juga waktunya) nonton film batman: the dark knight.

Film wanted cukup bagus untuk ditonton, dari awal sampai akhir film ini penuh aksi dan ceritanya cukup menarik, apalagi dengan kehadiran Angelina Jolie yang aduhai hihihi yah lumayan menjelang keren lah nih film.

Film kedua yang menjadi santapan kami adalah film Batman: the dark knight. Film ini kereeen abis. Akting dari masing2 aktor cukup menawan terutama si Batman dan Joker (keren abis!) dengan animasi yang sangat keren yah memang uhuy lah nih film. Bagi penulis sendiri film ini memuaskan dahaga, karena walaupun penulis hampir ga pernah suka dengan film2 yang diangkat dari komik Amerika, namun Batman adalah pengecualian karena di film ini muncul salah satu karakter idola penulis… bukan yang Batman nya lho tapi Joker nya! Yup that’s right! I’m a huge fan of Joker! :D

Joker bagi penulis adalah tipikal penjahat yang sempurna! Jenius, tidak punya perasaan, luar biasa dalam memanipulasi orang dan keadaan, tidak punya orang yang dicintai, tidak punya identitas adalah sebagian dari kesempurnaannya… hampir ga ada kelemahan. Bahkan trio luar biasa dalam film itu (Batman-superhero Gotham-, James Gordon-komisaris polisi Gotham-, dan Harvey Dent-jaksa wilayah Gotham-) terpaksa menderita kekalahan dalam melawan Joker. Sebenarnya bukan hanya mereka bertiga yang kalah tapi seluruh Gotham pun terpaksa kalah melawan si jenius ini. Namun untuk ketiga jagoan kita itu, kekalahan mereka sangat telak karena bagi James Gordon terpaksa mengakui bahwa Joker berhasil masuk ke kepolisian dan memanipulasi polisi2 yang notabenenya adalah para penegak hukum. Bagi Harvey Dent, sang harapan Gotham, dia harus mengakui bahwa diapun berhasil dimanipulasi oleh Joker sehingga bukan hanya gagal mencegah Joker namun juga menjadi rekannya dalam kejahatan. Sedangkan Batman, sang superhero tersebut mengalami kekalahan paling telak karena bukan saja karena Batman harus mati-matian menang dari permainan Joker namun juga karena Batman kehilangan sosok penggantinya (Harvey Dent), sosok yang ia percayai merupakan solusi dari Gotham, sayang sekali sosok itupun akhirnya jatuh ke dalam kegelapan yang kelak menjadi salah satu musuh besar Batman juga yaitu two-face. Penderitaan Batman pun tidak cukup sampai disini, bahkan untuk sekedar bisa membuat persepsi Joker “tidak menang”, Batman pun harus mengorbankan nama baiknya sendiri dengan mengubah persepsi orang terhadapnya dari superhero menjadi supervillain. Benar2 luar biasa… Memang plot film ini menggambarkan bahwa Joker memanglah bukan penjahat amatir seperti yang dikira oleh mafia-mafia itu namun berhasil menjadi titik pusat permainan nasib kota Gotham. Namun dengan mengalah, Batman berhasil membuktikan dirinya melebihi kriteria pahlawan. Yup untuk kota sehancur Gotham, seorang pahlawan biasa tidaklah cukup, yang dibutuhkan adalah seseorang yang melebihi pahlawan, seseorang yang mau mengorbankan “kepahlawanannya” untuk melakukan sesuatu yang benar walaupun dengan resiko kehilangan segala yang dimiliki si Batman tersebut, yaitu reputasinya.

Dalam film ini Joker benar2 membuktikan dirinya memang seorang penjahat yang sempurna, bahkan dalam waktu yang singkat (2 jam saja saudara-saudara :D ), selain mengobrak-abrik kota Gotham, dia juga sempat melahirkan penjahat baru yang tidak kalah dari dirinya alias two face, penjahat yang dulunya adalah harapan kota Gotham…

Memang topeng Joker jauh lebih tebal dari topeng Batman… Dan di film ini walaupun akhirnya tertangkap namun Joker membuktikan dirinya sebagai one-man-show dalam film ini…

Joker… my most favourite villain… :D

Mengutip percakapan terakhir film ini….

Son: “Why is he running?”
Gordon: “Because we have to chase him”
Son: “but he didn’t do anything wrong”
Gordon: “he is the hero that gotham deserves, but not the hero gotham needs right now, so we’ll hunt him, because he can take it, he’s not the hero, he’s are silent guardian, our watchful protecter, the dark knight”

Jadi kepikiran… jangan-jangan seorang pahlawan biasa pun tidak akan cukup untuk negeri ini…

p.s: Baru tahu ternyata pemeran Joker, Leath Hedger, telah meninggal dunia karena overdosis obat. Dari berita yang penulis baca (penulis baru tahu hari ini -27Juli2008- ) ternyata si aktor meminum obat-obatan tersebut untuk mendalami karakter Joker, dengan kematiannya tampaknya film ini akan benar2 menjadi legenda.  Well R.I.P Leath Hedger… You pass away but your masterpiece will stay with us… Goodbye the real Joker! :(

Sebuah rumah yang telah disewa  Bagong di daerah belakang kampus Itenas selama lebih dari setengah tahun ini memang telah menjadi basecamp bagi beberapa orang dari kami. Rumah yang cukup nyaman itu ditambah dengan impian hampir semua anak (maupun mantan) jurusan informatika, yaitu koneksi internet yang cepat dan dapat diandalkan :D . Menggunakan koneksi telkom speedy unlimited jadilah rumah ini memiliki daya tarik sebagai tempat berkumpulnya beberapa orang dari kami. Dari mulai download komik, program, bokep, maupun browsing serta streaming dapat dilakukan dengan koneksi di basecamp tersebut.

Tapi cukup untuk promosi telkom speedy nya :P , sekarang di basecamp tersebut ada beberapa penghuni tetap, tercatat ada 4 orang penghuni tetap yaitu Bagong, Iis, Adit, dan Mamat, namun penghuni yang “tidak tetap” alias sering dateng seenak hati, karena menganggap tempat ini sebagai rumah kedua, ada beberapa orang yaitu Hamdan, Egoz, Pati, penulis sendiri, dan beberapa orang lainnya. Sebenarnya dulu ada beberapa orang penghuni yang tidak tetap tambahan seperti Jaya dan Gamma yang sekarang telah bekerja masing-masing di Jakarta dan Surabaya.

Alhasil basecamp kecil itu menjadi surga bagi kami, selain ketersediaan internet, basecamp tersebut telah memberikan kami ruang untuk dapat sekedar saling bertemu dan berperang di dunia maya… karena satu kesamaan dari sedikit yang kami punya yaitu kami adalah bermain .A (baca: DotA). Permainan ini memang luar biasa, tercatat semenjak penulis di tahun ke-2 kuliah (sekitar hampir 5 tahun yang lalu) kami sudah memainkan permainan ini, dan tidak pernah bosan dengannya. Hal yang sangat unik karena berbagai permainan lain telah lama dilupakan karena bosan, walaupun penulis sendiri bukan tipe gamers :D .

Berkumpul dengan orang-orang ini juga sangat spesial bagi penulis karena secara hitungan statistik mereka adalah teman sekampus yang paling banyak berinteraksi dengan penulis dengan alasan yang cukup sederhana sebenarnya karena kami hampir selalu duduk di barisan belakang ketika kuliah :D . Jadi berbeda dengan teman-teman yang duduk di depan dimana hampir pasti perhatiannya tertumpah ke dosen yang mengajar, kami di pihak yang berlawanan selalu punya pilihan yang lebih banyak untuk menghabiskan waktu kuliah tersebut. Bagi yang tidak ingin memperhatikan kuliah, berbagai alternatif kegiatan seperti: curi-curi baca komik, gosipin orang, membahas tentang sesuatu yang tidak relevan, sampai tidur dapat kami lakukan (dengan skill yang mumpuni dan jam terbang yang sudah tinggi tentunya :D )… Walaupun pilihan ini bukan tanpa akibat karena rataan dari kami yang duduk di belakang lebih telat lulus dibandingkan teman-teman kami yang duduk di depan… :D . Yah sebuah pilihan dengan resiko dan manfaatnya masing-masing :D . Karena posisi tempat duduk ini juga penulis sering ditempatkan (menempatkan diri deng) dengan mereka dalam berbagai tugas kelompok, tugas kelompok yang ga jauh-jauh dari coding yang menguras tenaga, mental, dan air mata tersebut yang seringkali harus dikerjakan sampai ga tidur selama beberapa hari (boong deng tidur beberapa jam kok :P ) itu secara tidak langsung memang memperkuat persahabatan kami.

Sebenarnya kalau mau ditelaah lebih lanjut hampir tidak ada persamaan diantara kami, dari segi daerah asal: daerah kami tersebar dari sumatera sampai daerah jawa, dari segi asal SMA pun kami tersebar di kedua pulau tersebut dan karena memang semua mahasiswa informatika 2002 hanya berasal dari SMA di pulau Jawa dan Sumatera, sehingga dapat dikatakan bahwa persebaran masing-masing kami cukup besar. Dari agama pun cukup beragam, Islam, Kristen, dan Buddha (ini juga agama yang dianut oleh mahasiswa informatika angkatan 2002). Kalau dilihat dari segi ideologi pun sangatlah beragam, dari mulai: sosialis, komunis, cenderung atheis, sampai ke cenderung religius, serta cenderung ga jelas (seperti penulis :D ) ada di kelompok kami ini… lucu kan? tapi yah walaupun hampir ga ada kesamaan diantara kami tapi yah selama kami merasa cocok (dalam bahasa gaulnya asyik) maka penulis pikir inilah “chemistry” yang tepat untuk membangun sebuah kelompok. Kelompok yang ideal menurut kami dimana kami bisa saling menyepet etnis, suku, agama(untuk yang ini sangat jarang sekali), kepribadian, sifat, sikap, dan hal lain yang memang kami ingin sepet tanpa merasa tersinggung… Yah walaupun dalam hal ini penulis selalu dalam posisi yang kalah tapi berada bersama mereka adalah situasi yang sangat ideal karena hampir tidak membutuhkan filter untuk dapat berinteraksi dengan mereka… Sebuah kelompok yang sangat ideal bagi penulis sampai saat ini… :) .

Seperti tipikal orang Indonesia pada umumnya, penulis dan teman2 penulis selalu mengadakan syukuran setelah mendapatkan suatu anugrah… Namun berbeda dengan syukuran khas Indonesia lain dimana ada tadarusan dan ngajinya syukuran khas kami pun hanya mengambil satu elemen dari syukuran khas Indonesia ini… yaitu makan-makannya! :D

Dan berhubung hampir semua mahasiswa menganggap bisa keluar dari kampus cap gajah ini melalui sabuga (alias wisuda) adalah suatu anugrah maka hampir semua sepakat bahwa anugrah ini harus dirayakan… Dan alkisah hampir setiap waktu wisuda adalah waktu yang ditunggu-tunggu tentu saja bagi yang bersiap lulus dan yang bersiap diundang makan2…

2 hari lalu penulis, Bayu, Vebby, Haikal, Ronny (ini orang yang lulus nih), dan satu anak kosan Roncay yang kulupa namanya berkumpul untuk merayakan kelulusannya Roncay, dan wew tempat yang dipilih pun sangat spesial… yakni hanamasa… wew buat anak kosan kere seperti penulis wah ini anugrah besar dan alkisah kami pun kenyang (menjurus mual) dengan daging… pada wisuda juli ini tercatat ini adalah syukuran yang keempat dimana penulis diundang, berturut-turut, Yudi, Bima, Bambang, dan Ronny mengundang penulis memperbaiki gizinya pada wisuda kali ini :D . Huhuhuhu beruntungnya… love you guys ;)

Ah saat-saat seperti ini memang paling pol deh jadi orang Indonesia… makan ga makan asal kumpul tapi lebih asik lagi kalau ngumpul sambil makan… :D

p.s: oh ya ini belum termasuk makan2 himpunan dan makan-makanya si Pati nih… hihihi wisuda yang menyenangkan… :D

mengambil dari antara… satu lagi berita menyedihkan datang karena satu lagi orang hebat dari tanah ini telah meninggal dunia….

Obituari Said Jenie, Sang Ilmuwan Sejati

Oleh Dewanti Lestari

Jakarta (ANTARA News) – “Ia adalah seorang yang luar biasa di bidangnya,” kata pakar dirgantara Adi Sadewo Salatun saat menyampaikan kesannya terhadap pakar aerodinamika, Prof DR Said Djauharsjah Jenie, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang menghembuskan nafas terakhirnya pada Jumat pukul 07.48 WIB.

Menurut Salatun, yang Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), bidang dinamika wahana antariksa berbadan besar yang elastis yang ditekuni Said adalah bidang yang sangat rumit dan disegani.

“Karyanya yang paling menonjol adalah N-250, pesawat pertama di dunia kelas two-engine, fly by wire (terkomputerisasi) dengan 50 penumpang, yang dirancangnya dari mulai disain hingga terbang,” ujarnya.

Doktor lulusan Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Amerika Serikat (AS) itu, menurut Salatun, bahkan tidak segan-segan turut terbang ke udara pada percobaannya. Saat itu, Said masih menjabat sebagai Direktur Teknologi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), yang kemudian menjadi PT Dirgantara Indonesia (DI).

Salatun juga menyesalkan, maha karya tersebut terpaksa dihentikan setelah dibuat dua unit. Padahal, ia menilai, permintaan masyarakat dunia dan domestik untuk pesawat sekelas N-250 itu tinggi, apa lagi harganya bersaing.

“Alasannya adalah situasi krisis keuangan dalam negeri yang tidak memungkinkan,” ujarnya.

Selain N-250, Said juga menjadi salah seorang tokoh untuk pesawat hasil kerjasama dengan Casa Spanyol, CN-235 yang kemudian sangat laku di pasar dunia, termasuk Angkatan Udara AS yang membeli 50 unit untuk versi Casa.

“Tidak ada orang Indonesia seahli dia, selain teorinya kuat, praktiknya pun kuat. Kita kehilangan putera terbaik di bidang kedirgantaraan yang banyak menyumbangkan keahliannya dalam soal pesawat dan roket,” katanya.

Sementara itu, Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek), Kusmayanto Kadiman, berkomentar bahwa Said Djauharsjah Jenie adalah sosok yang sangat pendiam, namun akan menjadi sangat cerewet jika dipancing untuk bicara seluk-beluk teknologi dirgantara, baik mengenai sejarahnya sampai pada hal-hal yang futuristik.

Said juga memegang teguh nilai-nilai luhur dalam ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) khususnya soal validitas, ujar Kusmayanto, sehingga ia tidak pernah terperangkap pada berita selentingan, rumor dan cerita isapan jempol.

“Sebagai insinyur, beliau selalu mengatakan bahwa jangan pernah mengaku insinyur, jika tak punya kemampuan dan pengalaman merancang karya teknologi, yang dia pegang teguh dan sungguh-sungguh diterapkannya di BPPT dan PT Dirgantara Indonesia,” katanya.

Sebagai pengajar, Said yang wafat pada usia 58 itu sangat disiplin, dan terkenal sebagai orang yang mengajar sepenuh hati dengan menyampaikan teori-teori lengkap dengan contoh-contoh nyata sesuai pengalamannya, tambah Kusmayanto.

Said mengawali karirnya sebagai staf pengajar di Institut Teknologi Bandung (ITB) sejak 1974, hingga akhirnya menjadi Kepala Lab Ilmu-ilmu Fisika Terbang Jurusan Teknik Mesin ITB, dan menjadi Ketua Jurusan Teknik Penerbangan hingga Guru Besar ITB sampai akhir hayatnya.

Alumni ITB Jurusan Teknik Penerbangan sejak 1973 itu meneruskan kuliahnya ke perguruan tinggi bergengsi di MIT Jurusan Aeronautics and Astronautics yang mendapat gelar master pada 1978, dan kembali meneruskan studi di tempat yang sama di jurusan astrodynamics hingga lulus pada 1982 bergelar doktor.

Selama kuliahnya di AS, Said juga sempat menjadi asisten dosen dan menjadi asisten penelitian di universitas ternama itu, bahkan bersama MIT sempat bekerjasama dengan Badan Antariksa AS (NASA).

Pada masa mudanya itu, ia juga sempat menjadi peneliti di Divisi Riset Independen Charles Stark Draper Lab di AS, dan peneliti di universitas tekbik (TU) Delft, Belanda.

Said meski ditinggal wafat ayahnya sejak usia setahun, bersama Prof DR Umar Anggara Jenie, saudara kembarnya yang Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang lahir di Solo 22 Agustus 1950, dan dua saudaranya yang lain, tetap berprestasi.

Karir Said di luar dosen juga mengagumkan, dari mulai menjadi Kepala Program Uji Terbang Pengembangan dan Sertifikasi CN-235 di IPTN pada 1982 sampai menjadi Direktur Teknologi di IPTN pada 1999, juga menjadi Staf Ahli Dinas Penelitian dan Pengembangan (Dislitbang) Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) sejak 1989, dan Instruktur Guidance and Control Program Roket Kendali di Pusat Teknologi Dirgantara Lembaga Antariksa Nasional (Lapan) sejak 1987.

Di BPPT, ia mengawali karir menjadi Kepala Tim Pengembangan Laboratorium Mekanika Terbang pada 1987 sampai menjadi pejabat tertinggi di badan tersebut sampai dengan tutup usia.

Said juga menjadi anggota dari berbagai organisasi nasional dan internasional, seperti Himpunan Astronomi Indonesia (HAI), hingga Institut Aeronotika Astronautika Indonesia (IAAI).

Selain itu, ia juga tercatat menjadi anggota Society of Flight Test Engineers (SFTE), American Institute of Aeronautics and Astronautics (AIAA), Planetary Society, dan Institute for Electrical and Electronics Engineer (IEEE) yang semuanya di AS.

Berbagai aktivitasnya itu membuat Said menerima berbagai tanda kehormatan, antara lain Adhi Cipta Rekayasa oleh Persatuan Insinyur Indonesia pada 1994, ASEAN Engineering Award pada 1994, Bintang Jasa Nararia dari Pemerintah RI pada Agustus 1995 hingga bintang jasa Utama dari presiden pada 2007.

Ilmuwan besar tersebut kini telah tiada setelah menghembuskan nafas terakhirnya di RS Boromeus Bandung dan akan dimakamkan di pemakaman Pasarena, Yogyakarta.

Ia tidak saja meninggalkan seorang istri, Sadarijah Laksmi Saraswati, dan dua anak Acih Nurul Jenie dan Gita L. Jenie, tetapi juga rakyat Indonesia yang masih membangun dan membutuhkan banyak ilmuwan perekayasa sekelasnya. (*)

Innalilahi wainnalilahi rojiun, semoga segala amal pahalanya diterima dan dosanya diampuni oleh Allah SWT.

Oh ya hari ini penulis juga baru kehilangan Eyang dari sisi papa, Eyang Cip… semoga segala amal pahala beliau diterima dan dosanya diampuni oleh Allah SWT.

Amin… :|

Dapet dari tulisannya Tessa (Tes gw copas ya tulisan lu :D ) di blog divusi. Sangat menarik… saking menariknya jadi pengen naro di blog ini… :)

  1. politik tanpa prinsip
  2. bisnis tanpa moralitas
  3. pengetahuan tanpa karakter
  4. sains tanpa kemanusiaan
  5. kaya tanpa kerja
  6. kenikmatan tanpa nurani
  7. ibadah tanpa pengorbanan diri

ahhh ternyata masih banyak “dosa” sosial yang masih harus kutebus… :|

Baru pulang dari Bekasi yang sering kusebut Gotham City…. kota panas yang penuh kejahatan (kalau ga percaya liat aja buser, pasti Bekasi akan menemani Palembang dan Makasar)… but anyway… I love you Bekasi… :)

KARAWANG BEKASI
Oleh: Chairil Anwar

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan berdegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa

Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan

Atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang-kenanglah kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir
Kami sekarang mayat

Berilah kami arti
Berjagalah terus di garsi batas pernyataan dan impian

Kenang-kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi

(Yang Terempas dan Yang Putus, Pustaka Rakyat, 1949)

puisi diambil dari http://pecintapuisi.wordpress.com/2007/11/30/karawang-bekasi/