Baru nyadar ternyata si Dini ngetag-in penulis ya buat permainan iseng ini… Tapi yah tampak lucu hehehe coba jawab ah…
—————————————————————————————————————————
# Each blogger must post these rules. # Each blogger starts with ten random facts/habits about themselves. # Bloggers that are tagged need to write on their own blog about their # ten things and post these rules. At the end of your blog, you need # to choose ten people to get tagged and list their names. # Don’t forget to leave them a comment telling them they’ve been # tagged and to read your blog
—————————————————————————————————————————
1. Lahir di Pulau Terpencil
Kalau dulu waktu di SMP ada hafalan tentang daerah penghasil Timah, maka kalau SMP nya bener ngajarinnya maka seharusnya setelah Pulau Bangka-Belitung disebutkan juga Pulau Singkep. Sebuah pulau kecil di hamparan laut China Selatan yang ganas… yup disitulah penulis lahir. Sebuah pulau yang sekarang bisa disebut pulau mati karena setelah perusahaan penambang Timah tersebut PT RiTins (Riau Tins) sebuah PMA dari Belanda bangkrut. Pulau yang penulis sering mengistilahkan sebagai land before time… Karena dari penulis waktu kecil mudik sampai sekarang hampir tidak ada perubahan yang berarti, seakan waktu berhenti di Pulau kecilku ini… Tapi hehehe setidaknya pulau kecilku ini agak sedikit “terkenal” karena tersebut beberapa kali di novel Maryamah Karpov karangan Andrea Hirata
.
2. Pernah bersekolah 3 SD
Yup, tercatat penulis bersekolah di 3 SD, yaitu: SD Stania di Pulau Bangka, SD Katolik Ricci II di Tangerang, dan SD YPJ Tembagapura di Papua. Hehehe yah namanya nasib punya bokap tukang pindahan dari satu tempat ke tempat yang lain. Cukup anomali sebenarnya karena pekerjaan bokap seharusnya tidak memerlukan perpindahan yang sering-sering amat. Tapi yah nasib pahit sebagai anak lah
3. Pernah bersekolah 3 SMP
Kembali 3 SMP pernah tercatat sebagai sekolah penulis. SMP YPJ Tembagapura di Papua, SMP YPJ Kuala Kencana juga di Papua, dan SMP Budi Luhur di Ciledug Tangerang tercatat sebagai sekolah tempat penulis menuntut ilmu.
4. Pernah bersekolah 2 SMA
Kalau waktu SMA cukup 2 saja, yaitu SMAN 1 Balikpapan dan SMAN 8 Jakarta. Yah sedikit peningkatanlah dibandingkan masa-masa SMP dan SD
5. Belum pernah menginjakkan kaki di Pulau Sumatera
Anomali sih, karena penulis telah menginjakkan kaki di seluruh pulau besar di Indonesia (Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua) dan beberapa pulau kecil (Bangka, Bali dll) namun belum pernah menginjakkan kaki di pulau Sumatera. Padahal pulau kelahiran penulis termasuk dalam kepulauan Sumatera
6. Pernah ga naik kelas
Waktu kelas 2 SD di Ricci II, penulis merasakan pahitnya pengalaman tinggal kelas. Dan bejatnya ternyata pelajaran yang membuat penulis merasakan pengalaman tersebut adalah pelajaran Agama! Tapi eits untungnya Agama Katolik karena berhubung penulis murid pindahan dari Bangka pada cawu III. Ternyata sebagai murid pindahan selama 1 cawu penulis gagal untuk memahami agama Katolik dan mendapat point 4 di nilai agama cawu III! Hahaha kejamnya suster tersebut sedangkan dengan nilai 5 juga penulis ga naik kelas
7. Pernah masuk penjara
Hahaha bukan pengalaman yang menyenangkan, malah karena pengalaman yang bodoh sih. Ah malu ah nyeritain alasannya soalnya cupu berat euy hahahaha
. Tapi setidaknya pernah nyoba masuk hotel prodeo selama setengah hari
8. Pernah IP nol koma
Ketika strata paling rendah di kampus ini (berdasarkan IP) adalah mahasiswa Nasakom (Nasib Satu Koma), Penulis melangkah sedikit lebih maju dengan mencoba rasanya IP nol koma, hahaha
. Ini semua gara2 mata kuliah Algoritma dan Pemprograman yang diajar Bu Inge, yang dengan sukses menyadarkan penulis bahwa penulis bukan calon informatikawan yang baik hahaha
. Mengenai rasanya? Lebih pahit dari kopi campur biji kopinya tanpa gula deh hahahaha
9. Punya bekas patah tulang di tangan kiri
Kejadiannya ketika kelas 2 SD di Bangka, penulis seperti anak-anak seumur tersebut bermain lari-larian, namun sialnya jatuh dari tempat tanaman setinggi kurang lebih 1,5 meter dengan kepala terlebih dahulu, dan seperti film-film silat, penulis menangkisnya dengan tangan kiri dan untungnya penulis masih selamat. Setelah cedera, karena masih besarnya pengaruh kepercayaan magis di tanah Bangka ketika itu, penulis pun dibawa ke tukang urut dan jeng jeng hasilnya dapat dilihat ketika tangan penulis tidak sembuh juga dan terpaksa dibawa ke Jakarta (RS Cikini tepatnya) untuk melakukan 2 kali operasi yang melibatkan 2 buah pen dan sekian puluh jahitan
10. Punya bekas patah tulang di kaki kiri
Kejadian ini lebih mendebarkan lagi. Diawali dari salah memilih teman menumpang, yang doyan ngebut-ngebutan. Dan sialnya teman penulis ini tidak seperti pembalap motoGP yang dapat menikung sekian ratus kilometer dengan sukses, dan terjadilah kecelakaan dimana lutut (tepatnya pattela-tulang lutut) penulis pecah menjadi 4 bagian besar dengan kulit hilang entah kemana… Huhuhuhu horor banget sih kalau ingat saat itu
. Dan singkat cerita untung dokter bedahnya jago dan tidak memutuskan untuk membuang tulang yang sudah-agak-tidak-layak-pakai tersebut dan memutuskan untuk mengikatkan tulang2 tersebut dengan kawat dan membuat menambal kembali lutut penulis dengan ratusan jahitan. Sebulan lebih penulis di rumah sakit dan 2,5 bulan masa rehabilitasi yang harus ditempuh untuk bisa jalan kembali… Memang kadang-kadang hal sederhana seperti berjalan dapat terasa sangat anugrahnya ketika penulis dipaksa belajar berjalan kembali seperti bayi umur 9 bulan
Done! hehehe untuk urusan ngetagnya… Penulis memilih untuk tidak mentag siapapun ah… Soalnya kok kaya acara buka aib gini… Kan aib itu seharusnya ditutup bukan disebarkan hahaha










